OPINI: Jogja 'Surga' bagi Sastrawan Jawa

Bambang Nugroho, Ketua Paguyuban Sastrawan Jawa Bantul Paramarta
08 November 2021 06:07 WIB Bambang Nugroho, Ketua Paguyuban Sastrawan Jawa Bantul Paramarta Aspirasi Share :

Tahun 2021 ini Undang-Undang (UU) No.13/2012 tentang Keistimewaan DIY telah berusia sembilan tahun, sebagai konsekuensi  dari UU tersebut adalah adanya kucuran dana keistimewaan dari pemerintah pusat untuk Provinsi DIY.

Dana keistimewaan tersebut di antaranya untuk membiayai kegiatan pembinaan bahasa dan sastra daerah (Jawa), yang secara teknis dikelola Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) provinsi maupun kabupaten/kota.

Karena itulah geliat bahasa dan sastra Jawa di DIY dalam beberapa tahun terakhir ini terasa begitu berkibar, dengan berbagai kegiatan dengan melibatkan para sastrawan Jawa yang  selama ini seperti telah mati suri akibat semakin sempitnya lahan untuk mengekspresikan karya-karyanya di media cetak. Dengan dana keistimewaan untuk pembinaan bahasa dan sastra tersebut,  pada saat ini Jogja  seperti telah menjadi “surga” bagi para sastrawan Jawa. Mengapa demikian. 

Trilogi Antologi

Pada tahun 2016 lalu Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY memprogramkan terbitnya buku antologi sastra dan budaya Jawa berupa trilogi antologi (geguritan, cerita cekak dan esai) dengan tujuan untuk mendokumentasikan serta upaya pelestarian karya sastra budaya Jawa dari karya para sastrawan Jawa di DIY. Tim penyusun trilogi antologi sastra kemudian mengidentifikasi, menginventarisasi serta mencari keberadaan para sastrawan Jawa yang selama ini seperti mati suri dalam berkarya agar mengirimkan karyanya.

Melalui penelusuran untuk melacak keberadaan para sastrawan tersebut dalam waktu yang relatif pendek, maka naskah bisa terkumpul baik naskah lama yang pernah diterbitkan  maupun  juga naskah baru dengan tema bebas. Di mana masing-masing penulis bisa mengirimkan tiga jenis naskah berupa geguritan, cerita cekak dan esai sekaligus tanpa melalui seleksi materi, selain editing saat akan diterbitkan. Maka terbitlah trilogi antologi sastra budaya Jawa tersebut untuk yang pertama kali.

Pertama, antologi geguritan berjudul Mangirit Gurit berisi karya 29 penulis terdiri 83 judul setebal 137 halaman dengan editor Sutopo SGH, Joko Budhiarto dan Andi Wisnu. Kedua, antologi cerita cekak berjudul  Ungak-Ungak Cerkak berisi karya 24 penulis terdiri 33 judul setebal 190 halaman dengan editor Dhanu Priyo Prabowo, Purwadmadi Atmodipurwo dan Latief S Nugraha.

Ketiga, antologi esai berjudul  Ajak-Ajak Macak Susastra berisi karya 19 penulis berisi 19 judul setebal 94 halaman dengan editor Afendi Hidayat.

Setelah buku trilogi antologi terbit kemudian diadakan temu karya sastra yang diikuti para penulis tersebut serta mengundang tamu beberapa penulis sastra Jawa dari Jawa Tengah, Jawa Timur juga dari DKI Jakarta. Di antara hasil rekomendasinya yaitu untuk tetap melanjutkan penerbitan buku trilogi antologi sastra budaya Jawa serta mengadakan lomba menulis karya sastra Jawa seperti novel Jawa. 

Kompetisi Karya

Terbitnya buku trilogi antologi sastra budaya Jawa mendapat apresiasi positif dari berbagai pihak terutama para sastrawan serta pemerhati sastra budaya Jawa. Pada tahun berikutnya, untuk karya yang akan dibukukan dalam antologi bersifat kompetitif  sehingga hasilnya lebih selektif sesuai tema. Siapa pun warga DIY diberi kesempatan untuk berpartisipasi mengirimkan karyanya sesuai ketentuan panitia.

Mulai tahun 2017 diadakan kompetisi penulisan novel Jawa untuk mendapatkan lima karya terbaik serta 15 nominasi melalui proses pengajuan proposal, lolos seleksi proposal, workshop penulisan novel, proses penulisan serta penilaian karya oleh tim juri yang kompeten. Pada tahun berikutnya  juga diadakan lomba penulisan naskah ketoprak,  naskah sandiwara radio,  menulis ‘serat’, menulis dongeng serta sengkalan Jawa.

Animo peserta semakin banyak karena penghargaan bagi pemenang berupa hadiah uang pembinaan dari Dana Keistimewaan relatif besar, selain karya-karya terbaik itu juga diterbitkan Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY. Hingga beberapa penulis sastra Indonesia ada pula yang kemudian mengikuti dalam ajang kompetisi sastra Jawa tersebut seperti dalam kompetisi penulisan novel, naskah ketoprak, naskah sandiwara radio, naskah dongeng selain naskah geguritan, cerita cekak serta esai .

Maka lahirlah kemudian pengarang-pengarang  sastra Jawa yang cukup andal seperti Puranti Wiji Rahayu, Bayu Saptomo, Budi Sardjono, Hidratmoko Andritamtomo, Umi Kuntari, Suwandi Suryakusuma, Sumarno, Tri Wahyuni, Asti Pradnya Ratri, Suprihatin Trisnodiharjo, Ch Sri Purwanti,  dan pengarang lainnya. Hal itulah yang saat ini menjadikan Jogja bagai  “surga”  bagi sastrawan Jawa.