OPINI: IPK versus Soft Competency & Polemik

Bisma Jatmika Tisnasasmita, Direktur Industri Pariwisata & Kelembagaan Kepariwisataan Badan Otorita Borobudur

Saya bukanlah seorang yang ahli di bidang pendidikan, tidak pernah belajar tentang pendidikan, dan bukan seorang yang kuliah di program studi pendidikan. Namun saat ini saya khawatir sekali dengan berbagai artikel di media sosial dan internet, yang seolah-olah menunjukkan pendidikan formal akan semakin tidak penting. Awal mula kekhawatiran saya adalah berbagai artikel bebas ini ditulis oleh orang-orang yang mengaku profesional maupun yang berpendidikan tinggi, yang berpendapat bahwa tidak ada hubungan kuat antara NEM, IPK, dan nilai rapor dengan keberhasilan seseorang di dunia kerja. Yang penting adalah kejujuran, tanggung jawab, daya adaptasi, kemampuan bekerja sama, kecerdasan emosional, dan semua soft competencies tersebut. Bahkan ada penulis yang mengklaim bahwa dia telah menempuh S1, S2, S3 dan mengajar di universitas yang terkenal, dan akhirnya menyimpulkan bahwa soft competencies lebih penting dibandingkan pendidikan formal.

Dari pengalaman dengan teman-teman seangkatan maupun senior, saya akui bahwa hubungan IPK perkuliahan, NEM, maupun nilai raport dengan sukses seseorang dalam berkarier adalah hubungan yang tidak linier. Namun bukan berarti pendidikan formal menjadi tidak penting. Saya kenal beberapa orang yang mendapatkan pendidikan S1 dan S2 di bidang Desain Komunikasi Visual dari salah satu kampus negeri terbaik di Indonesia. Saya juga banyak bergaul dengan kawan-kawan yang memiliki skill pembuatan foto, video, konten, narasi, dan sejenisnya dari kursus singkat atau lembaga kursus. Mereka mengembangkan keterampilannya secara autodidak, berbagi pengalaman dalam komunitas, dan belajar di Youtube.

Apa yang menjadi pembeda? Pertama, adalah bahwa skill rekan-rekan saya hasil pendidikan formal dan kawan-kawan hasil kursus ini bisa disebutkan setara, namun filosofi di balik sebuah video atau konten, itu yang tidak sama. Yang terdidik formal membuat makna di balik konten, namun yang tidak menghasilkan konten menarik namun kering.

Kedua, ternyata tingkat logika berpikir yang berbeda. Kawan-kawan praktis ini lebih instan, tidak terampil membaca data, tidak terlalu paham target viewer-nya, terkadang kontennya seperti lepas antara satu skrip ke skrip lain. Berbeda dengan hasil pendidikan formal, yang logika berpikirnya terasah, tajam, dan setiap hasil memiliki filosofi sendiri. Jika mereka terbelenggu peningkatan skill saja, bagaimana bisa berpikiran luas, apalagi memimpin?

Ketiga, rekan-rekan hasil pendidikan formal lebih mampu menguraikan masalah kompleks, dan mencari solusi yang efisien, namun tidak pragmatis. Solusi bukan soal untung rugi, namun dampak jangka panjangnya juga perlu diperhatikan.

Bagi saya pendidikan formal dan hasilnya justru mencerminkan soft competency yang dimiliki seseorang. Kuantifikasi tetap penting, dengan standar yang diakui secara umum. Jika kuantifikasi tidak penting lagi, kenapa harus ada laporan keuangan perusahaan? Bahkan perusahaan modern dan start-up juga tetap membuat key performance indicator yang mengkuantifikasi kinerjanya. Misalnya : apakah IPK yang tinggi tidak menunjukkan tanggung jawab, daya adaptasi, daya juang, kerja sama tim, dan sebagainya? Tentu saja salah!

IPK yang tinggi ini cermin dari itu semua. Pernahkah kita dengar mahasiswa yang mengaku “salah jurusan” lalu bisa bertanggung jawab atas pilihannya, dan dia berjuang serta beradaptasi untuk mendapatkan hasil terbaik? Bagaimana dengan mahasiswa yang berupaya mendapatkan nilai tinggi sebagai rasa tanggung jawab kepada orang tuanya yang telah membiayai? Jadi angka pada IPK ini bercerita banyak sekali, tidak sekedar daya logika seseorang, namun juga perjuangannya dan soft competency.

Proses meniti karier seseorang akan mengikuti pola-pola yang dialami sepanjang hidupnya. Proses belajar, mengatasi masalah, menghadapi keberhasilan,  bangkit dari kegagalan, dan masih banyak lagi. Pendidikan formal menyediakan informasi dan daya olah informasi, sehingga seseorang mendapatkan solusi yang lebih matang. Bukan sekedar menduga-duga, namun mampu membaca data, informasi, mengurai masalah, mengelompokkan masalah, mencari solusi efisien dan efektif. Seseorang akan memahami alasan kenapa dia bekerja. Misal seorang software developer akan paham bahwa hasil coding-nya akan digunakan end user, dia tahu makna pentingnya menyediakan software yang mudah digunakan dan sesuai kebutuhan pemakainya, bukan membuat software yang mudah digunakan sendiri namun sulit digunakan oleh orang lain.

Dia akan paham, mengapa pekerjaannya ini penting dan bermakna, mulai sadar bahwa sebagai bagian dari sistem, dia tidak bisa bekerja sendiri, dan bahwa suatu saat dia akan memimpin tim kerja dengan kompleksitas tinggi. Skill saja tidak cukup, karena cenderung membelenggu seseorang untuk hanya menjadi “tukang.”

Pendidikan formal adalah sebuah proses pembentukan cara berpikir, membentuk logika seseorang, memperdalam pemahaman, membantu seseorang memilah masalah yang kompleks, membentuk batasan konteks, dan melatih untuk melihat dari berbagai sisi. Saya juga menempuh pendidikan S1, S2, dan S3. Semakin tinggi pendidikan, saya merasakan betapa kita ini adalah bagian yang sangat kecil dari dunia ini. Saya semakin tidak “self,” tidak egois, paham bahwa manusia adalah makhluk dengan keterbatasan dan perlu adanya kerja sama tim dan tidak mudah termakan hoaks, provokasi, juga berhati-hati dalam bertindak. Semakin tinggi pendidikan, maka semakin kita paham konteks, paham memosisikan diri, paham akar masalah.

Tidak Memahami

Sekarang saya bertanya, apakah para recruiter SDM berani bertaruh kariernya untuk fokus mencari orang-orang yang soft competency-nya lengkap, dan menjadikan IPK sebagai non-prioritas? Apakah para pakar SDM mampu menyediakan training kepada pegawainya secara instan, untuk meningkatkan daya pikirnya dalam waktu singkat, dan mendapatkan hasil sesuai dengan kebutuhan perusahaan?

Atau sebetulnya justru orang-orang yang mendewa-dewakan soft competency itulah yang tersesat: mereka tidak memahami ratusan makna dari sebuah IPK. Mereka lupa bahwa dalam proses rekrutmen dilakukan wawancara dan tes psikologis yang menunjukkan konsistensi seseorang. Mereka lupa melihat IPK yang tinggi dan NEM dari sisi lain, sehingga sinyal-sinyal tanggung jawabnya, kerja keras, kerja sama tim, daya adaptasi, daya juang, kejujuran, dan kemampuan mengambil keputusan yang kompleks menjadi tidak terlihat.

Jangan-jangan mereka-mereka yang mendewa-dewakan soft competency ini yang harus bercermin: apakah wawasan saya ini sempit, dan apakah saya perlu memahami “the story behind” dari sebuah angka sehingga menjadi bermakna?

Mari kita pahami polemik yang mengarah kepada tidak pentingnya pendidikan formal, tidak ada hubungan antara pendidikan formal dengan keberhasilan karier, kekayaan, ketenaran, dan sebagainya harus diakhiri. Jangan membuat opini seolah-olah lebih baik meningkatkan soft competency karena hubungannya linier dengan sukses dalam berkarier, tenar, dan kaya raya.

Pengetahuan, keterampilan, dan perilaku positif adalah sebuah tritunggal. Semuanya penting, dan harus diasah dengan benar sehingga kita menjadi insan yang berhasil dalam karier. Jangan melihat keberhasilan seseorang itu hanya di ujungnya, lihatlah proses yang dialaminya. Para peneliti biografi pasti sangat sadar hal ini. Bagaimana seorang pemimpin besar lahir, bagaimana mengasah daya berpikirnya, bagaimana meningkatkan keterampilannya, bagaimana membentuk perilaku positifnya, dan akhirnya menjadi seseorang yang bijaksana dan berhasil. Mari kita cari makna dan berpikir luas sebelum berbicara, agar tidak ada orang yang tersesat akibat opini kita.