OPINI: Ubah Tantangan Jadi Kesempatan, Catatan Menyambut 2022

A. Totok Budisantoso, Dosen Departemen Akuntansi, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

We are not all in the same boat. We are all in the same storm. Some are on super-yachts. Some have just the one oar (Damian Barr–The Wall Street Journal 30 Mei 2020).

Hampir dua tahun kita bergulat dengan pandemi yang seakan beruntun tiada ujung sambung menyambung. Dampak pandemi Covid-19 tidak semata masalah kesehatan masyarakat, namun  memengaruhi langsung kondisi perekonomian, pendidikan, termasuk kehidupan sosial masyarakat Indonesia. Alhasil, rentetan dampaknya berujung pada menurunnya kesejahteraan masyarakat serta dihantui aura intens ketidakpastian.

Tentu saja dampak yang dirasakan akan semakin besar bagi masyarakat rentan dan miskin. Berbagai upaya penanggulangan dilakukan oleh pemerintah, baik di tingkat pusat maupun daerah. Tentu tidak mudah dalam membuat formulasi kebijakan.

Di satu sisi harus mengeluarkan segala daya upaya pencegahan penyebaran yang dikemas dengan kebijakan pembatasan pergerakan orang dan kegiatan. Di sisi  lain, kebijakan pembatasan tersebut nampaknya kontradiktif dengan upaya-upaya untuk tetap menggerakkan roda perekonomian. Sekali lagi, ini bukanlah perkara mudah untuk menyeimbangkan keduanya.

Perlu strategi dan Langkah khusus untuk mengutamakan keseimbangan antara penanganan kesehatan dan pemulihan ekonomi nasional dalam penanganan pandemi Covid-19. Kita bisa melihat dinamika kombinasi “rem dan gas” yang dipilih sebagai langkah optimal untuk menyeimbangkan antara penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi nasional.

Menanggapi kegentingan dampak pandemi, pemerintah meluncurkan program Pemulihan  Ekonomi Nasional (PEN). Program PEN menjadi instrumen penting untuk menjamin kelangsungan hidup seluruh masyarakat, pendistribusian kekuatan, dan penguatan mereka yang teridentifikasi sebagai kelompok rentan. Pada tahun ini, pemerintah menggelontorkan dana hingga lebih dari Rp740 triliun untuk PEN. Tentu muncul pertanyaan kritis terkait dengan dana jumbo yang dikelola pemerintah khusus untuk program penyelamatan ini. Apakah cukup efektif di tengah deraan gelombang pandemi?

Terlepas dari gelombang kedua pandemi di pertengahan tahun ini, ada beberapa rilis positif yang bisa kita simak. Posisi ekonomi hingga kuartal III 2021 menunjukkan pertumbuhan 3,51%. Meskipun sebenarnya berada pada posisi yang lebih rendah dari proyeksi di awal tahun namun tetap akan menjadi titik pijak positif hingga akhir tahun 2021.

Tentu diharapkan di akhir tahun dapat mencapai angka mendekati 4%.   Kabar cukup menggembirakan juga datang dari posisi  Penanaman Modal Asing (PMA).

Di akhir kuartal III 2021, tercatat Penanaman Modal Asing dan Penanaman Modal Dalam Negeri  mencapai hampir Rp650 triliun. Angka yang cukup signifikan sebagai petunjuk kepercayaan investor dan para pelaku pasar lainnya.

Kepercayaan itu adalah kekuatan yang besar untuk menggerakkan perekonomian. Dengan laju vaksinasi dosis 1 dan 2 yang semakin kencang, optimisme dan kepercayaan diri juga meningkat. Mobilitas beberapa sektor mulai pulih seperti konstruksi dan transportasi khususnya industri. 

Kebijakan pemerintah untuk memperhatikan secara khusus sektor Usaha, Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) sangat tepat. Gairah ekonomi pada dasarnya ditopang oleh aktivitas ekonomi di level UMKM.

Telah dialokasikan anggaran Rp95,13 triliun untuk sektor UMKM melalui program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) pada tahun ini yang berdasarkan rilis terakhir per akhir kuartal III telah menunjukkan serapan  mencapai 65%  atau setara 61,62 triliun dengan  dengan jumlah debitur 32,72 juta (Katadata.co.id–5/10/2021).  Angka yang paling menarik di sini adalah cakupan dari  alokasi untuk UMKM yang melibatkan jutaan pelaku. Tentu keterlibatan dari banyak pihak ini akan memberikan dampak pemulihan yang signifikan. 

Perubahan drastis terjadi dalam waktu singkat selama pandemi. Lanskap aktivitas ekonomi berubah. Tantangan terbesar saat pandemi datang adalah berubahnya aktivitas transaksional yang mengandalkan pada jejaring teknologi informasi. Pergeseran ini mendorong laju penetrasi teknologi informasi dalam perekonomian. Pergerakan fisik yang terbatas terkompensasi dengan jaringan IT yang membentuk dan menggantikan sistem ekonomi konvensional.  Jika sebelumnya orang  lebih banyak bertransaksi luar jaringan (luring), saat pandemi cara tersebut tak lagi digunakan. Semua menghindari risiko terkait dengan penularan Covid-19. Terjadi migrasi besar aktivitas ekonomi berbasis teknologi informasi yang eksekusinya adalah sistem online

Inilah tantangan nyata itu khususnya bagi para pelaku UMKM. Edukasi yang massif dibutuhkan untuk mendorong para pelaku bisnis memahami dan dapat memanfaatkan teknologi dalam menjalankan bisnisnya. Meskipun demikian, memahami dan mampu menggunakan belum cukup.

 

Melek Teknologi

Dalam konteks sistem online, manfaat terbesar akan dinikmati oleh yang menguasai dan memiliki teknologi. Oleh karena itu, melek teknologi harus dimaknai bukan sekedar mampu menggunakan tetapi mampu merancang dan merekayasa teknologi untuk mampu mendorong peningkatan aktivitas ekonomi. Sudah teruji selama pandemi semua upaya yang dilakukan oleh para pelaku ekonomi untuk tetap bertahan. Tahun depan, dengan harapan pandemi mulai sepenuhnya teratasi menjadi momentum untuk berlari kencang. Aktivitas ekonomi yang telah didukung penuh dengan teknologi informasi dibarengi dengan gairah usaha yang tumbuh menjadi harapan titik balik untuk sepenuhnya pulih.

Kutipan  Damian Barr di atas  memberi kita insight penting. Mungkin manusia terpilah dalam berbagai strata dan kondisi yang berbeda-beda. Ada yang menikmati kemewahan sementara di satu sisi ada yang harus mengais di tempat kumuh untuk hanya sesuap nasi. Namun pandemi seakan meruntuhkan tembok-tembok pemilah.

Virus tidak punya mata untuk membedakan strata itu. Inilah saat untuk bersama bergandeng tangan untuk menuntaskan pekerjaan rumah yang sangat banyak. Inilah saat kita untuk berbagi. Keterlibatan semakin banyak pihak seperti cakupan dari program pemulihan ekonomi dengan merangkul UMKM menunjukkan nyata prinsip berbagai. Ini menunjukkan bahwa upaya terbaik tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah namun seluruh masyarakat yang semakin partisipatif. 

Partisipasi semua pihak inilah yang akan menjadi modal utama dan tentu saja dibutuhkan dirigen yang cakap untuk mengarahkannya. Kita tatap tahun 2022 dengan optimisme.