Advertisement

OPINI: Pangsa Pasar Wisata di Masa Endemi

Widodo, Kepala Divisi Keuangan, Badan Pelaksana Otorita Borobudur
Senin, 04 April 2022 - 06:07 WIB
Maya Herawati
OPINI: Pangsa Pasar Wisata di Masa Endemi Widodo, Kepala Divisi Keuangan, Badan Pelaksana Otorita Borobudur

Advertisement

Bersyukur status Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) di wilayah DIY telah diturunkan menjadi level 3. Namun demikian hal ini bukan berarti Covid-19 sudah hilang dan pergi dari kawasan bumi Kota Pelajar yang kita cintai ini.

Di samping itu mestinya juga tidak menjadi euforia masyarakat yang memaknai bahwa pandemi sudah berakhir. Hal yang paling utama adalah kita mesti tetap harus menegakkan protokol kesehatan (prokes) secara ketat sebagai kunci pengendalian Covid-19.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Prokes harus sudah menjadi life style masyarakat kita. Dalam perspektif lain kita optimistis  bahwa dalam waktu yang tidak terlalu lama kita bakal memasuki fase endemi. Artinya kita akan hidup berdampingan dengan penyakit yang dulu pernah ada dan menjadi wabah di masyarakat. Maka dari itu sangatlah diperlukan kesadaran diri dan masyarakat akan pentingnya menjaga imunitas tubuh dan cara hidup sehat. Memasuki masa endemi ini, diperlukan kesabaran dan tidak perlu tergesa-gesa serta berharap Covid-19 dan segala variannya bisa segera sirna dari Bumi pertiwi.

Korelasinya dengan pariwisata, bahwa pangsa pasar dan kunjungan wisatawan Nusantara (wisnus) dan wisman ikut terdampak akibat (PPKM). Ekosistem pariwisata dan mata rantai pasoknya menjadi terganggu, karena dengan adanya pembatasan pergerakan para wisatawan yang berkunjung ke destinasi wisata, mengakibatkan roda perputaran ekonomi yang dihasilkan dari multiplier effect pariwisata agak terkendala. Kita ketahui bersama bahwa income yang diperoleh dari sektor pariwisata, sangatlah tergantung pada besar kecilnya kunjungan wisatawan ke destinasi wisata.

Dengan sekali kunjungan saja yang mendapatkan hasil nilai ekonomisnya antara lain; hotel/home stay (akomodasi), transportasi, travel agent, kuliner (restoran), suvenir, UMKM (tempat oleh-oleh), cetakan bahkan bisa sampai tukang becak dan tukang parkir. Apalagi kalau kunjungannya dalam jumlah yang banyak (rombongan) dan bermalam lebih dari dua malam, tentu dampak ekonomisnya bagi masyarakat akan lebih masif.

Seiring dengan kebijakan pemerintah yang sedang menggalakkan pemulihan ekonomi masyarakat, maka aturan-aturan perjalanan yang dulu sangat ketat, saat ini mulai ada kelonggaran-kelonggaran dengan harapan supaya masyarakat segera bisa beraktivitas normal seperti sebelum pandemi, sehingga pergerakan ekonomi masyarakat mulai

bangkit.

 

Pasar Wisata

DIY yang dikenal masyarakat dengan julukan Kota Pelajar, Kota Budaya, Kota Pariwisata, tentu saja kemudian menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berasal dari luar DIY. Meskipun pada bulan Desember 2021 dan Januari 2022 data BPS menunjukkan kunjungan wisata ke DIY sempat menujukan tren menurun, yang disebabkan oleh merebaknya

Covid-19 varian Omicron, namun mulai bulan Februari–Maret 2022, sudah menunjukkan tren membaik dan kunjungan wisata ke DIY yang berasal dari berbagai belahan Bumi Nusantara kian meningkat. Ada yang datang dari Jawa Barat, Jawa Timur, Jawa Tengah, DKI Jakarta, Banten, Tangerang, Bali dll. Para wisatawan tersebut ada yang berkunjung ke daerah-daerah pantai (wisata bahari), ada yang daerah-daerah gunung/hutan (wisata alam), ada yang ke daerah-daerah peninggalan sejarah/museum/Kraton (wisata sejarah), ada yang berkunjung ke situs-situs peninggalan agama (wisata religi), dan yang tak ketinggalan adalah wisata kuliner.

Sudah banyak kegiatan dari beberapa Kementerian yang berbentuk meeting di hotel, maupun event pariwisata, seni dan budaya yang dilaksanakan di DIY khususnya di destinasi-destinasi favorit. Aktivitas tersebut di ataslah yang mempunyai andil dalam mewarnai calender of event DIY, dan yang mendatangkan para wisatawan Nusantara ke DIY.

DIY memang kota yang seksi untuk dijadikan sebuah pilihan tempat penyelenggaraan event pariwisata, seni dan budaya. Hal ini karena sarana dan prasarananya yang memadai, transportasinya mudah, hotelnya yang ramah lingkungan, kulinernya komplet, maka tidak

mengherankan bila beberapa daerah di Indonesia menjatuhkan pilihannya ke DIY sebagai venue penyelenggaraan kegiatannya.

Namun demikian, kita ketahui bersama, belakangan ini masyarakat disuguhi aneka polemik Terkait dengan kelangkaan minyak goreng dan mahalnya harga komoditas.

Kemelut ini bukan hanya melahirkan isu ekonomi saja, tetapi juga isu politik. Walaupun kondisi di lapangan faktanya seperti tersebut di atas, hal ini tidak menyurutkan kegiatan berwisata. Justru di saat-saat

masyarakat sudah mulai menyentuh pada titik kejenuhan dengan aktivitas-aktivitas yang serba terbatas, maka hasrat untuk beraktivitas di luar rumah akan semakin meningkat, salah satunya adalah dengan berwisata.

Merawat pangsa pasar wisata bukan seperti merawat barang antik di dalam kaca, yang hanya cukup di elus-elus dan dipandangi saja, akan tetapi perlu adanya sentuhan-sentuhan kreatif dan konsistensi dalam menjaga kualitas pelayanan pariwisata, sehingga wisnus dan wisman bisa datang kembali.

Harapan kita semua semoga dengan memasuki masa endemi, perlahan-lahan bisa kita lalui dengan baik, dan pangsa pasar wisata tetap bisa tumbuh dan berkembang sehingga ekosistem pariwisata berkelanjutan di Indonesia mulai pulih kembali sebagaimana slogan G20,

Recover Together, Recover Stronger.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Pesan DKP Gunungkidul, Kalau Bosan Pelihara Ikan Predator Jangan Dibuang!

Gunungkidul
| Minggu, 05 Februari 2023, 17:27 WIB

Advertisement

alt

Lirik 'Angin' Dewa 19, Lagu Pembuka Konser di JIS

Hiburan
| Minggu, 05 Februari 2023, 16:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement