Advertisement

Ibadah Ramadan dan Hadirnya Spiritual Influencer

Firly Annisa, Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Senin, 11 April 2022 - 07:07 WIB
Maya Herawati
 Ibadah Ramadan dan Hadirnya Spiritual Influencer   Firly Annisa, Dosen Prodi Ilmu Komunikasi, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Advertisement

Puasa Ramadan merupakan bulan dengan segudang pahala mengalir. Demikian umat muslim meyakininya, maka tak heran apabila masjid-musala itu penuh dengan jamaah salat Isya plus tarawih, ditambah dengan kuliah subuh selama satu bulan penuh. Itu tak lepas dari pengharapan akan penumpukan pahala yang didapat oleh muslim yang rajin dan konsisten (istikamah).

Tumbuhnya media sosial yang makin masif dan jaringan internet di Indonesia yang penetrasinya makin meluas menjadi ruang publik yang diperebutkan pada akhirnya. Ruang publik yang hadir di media sosial ini tak luput dari incaran para kaum agamawan.

Advertisement

PROMOTED:  Dari Garasi Rumahan, Kini Berhasil Perkenalkan Kopi Khas Indonesia di Kancah Internasional

Identitas keagamaan-keislamaan pun dapat dengan mudah dijumpai, bak jamur di musim penghujan. Dari identitas keislaman yang berperspektif terbuka berkemajuan hingga yang tertutup bahkan menjurus pada intoleran-provokatif menjurus pada ujaran kebencian dan bahkan pada terorisme berjubah ajaran Islam.

Ruang publik Islam –demikian para sarjana menyebut—menyeruak demikian dahsyat dengan kehadiran internet dan tumbuhnya media sosial. Adalah Facebook, Twitter, Instagram, dan belakangan Tik Tok yang sangat familiar di kalangan masyarakat Indonesia. Keempat media sosial diperebutkan oleh kelompok-kelompok dengan berbagai varian pemikiran yang diusung oleh mereka.

Islam hadir dengan budaya populer. Muncul istilah micro celebrities, selebritas yang muncul akibat popularitas dari media sosial, ditandai dengan banyaknya follower dan interaksi di dalamnya, yang disebut sebagai tumbuhnya budaya keintiman (social engagement).

Para “penasihat spiritual” model baru yang muncul akibat budaya keintiman dari masifnya media sosial merupakan fenomena global. Tidak dapat ditolak kehadirannya. Wacana Islam pun menjadi arena yang diperebutkan oleh para spiritual advisor dengan versinya masing-masing. Spiritual advisor dapat berbentuk influencer yang menggunakan Islam sebagai identitas, ustaz dadakan di media sosial, bahkan para pegiat media sosial yang mampu menggerakan atensi ekonomi (attention economy) dalam dunia digital media.

Imbasnya yakni ekspresi keagamaan, ekspresi politik, ekspresi ekonomi, maupun ekspresi sosial-budaya pun ditunjukkan secara beragam, meskipun ada kecenderungan monolitik.

Bentuk ekspresi monolitik inilah yang hemat saya perlu diantisipasi bersama-sama. Indonesia sebagai negeri dengan mozaik identitas keberagaman di dalamnya, mesti menjadi perhatian oleh para pemangku kepentingan: pemerintah, akademisi, dunia swasta, media, dan komunitas untuk selalu merawatnya bersama-sama.

Muhammadiyah yang hadir jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, oleh K.H. Ahmad Dahlan, warganya senantiasa diajarkan untuk berpikiran terbuka dan mampu berkolaborasi dengan berbagai pihak serta lebih banyak berkarya ketimbang banyak bersuara tanpa makna.

Inilah yang menjadikan Muhammadiyah hari ini memiliki ratusan perguruan tinggi, puluhan ribu sekolah dari jenjang sekolah dasar, menengah (SMP-SMA/K), termasuk pondok pesantren.

Keterhubungan para spiritual advisor dengan identitasnya kepada para followers-nya melalui kedekatan yang dibangun dalam berinteraksi di media sosial telah menjadikan ruang publik Islam itu dapat diakses oleh siapa saja.

Satu sisi ini merupakan sebuah langkah maju, namun pada sisi lain jika yang dihadirkan oleh para spiritual advisor ini justru buah pikiran yang mengerdilkan pemikiran akibat budaya monolitik, tentu ini akan menjadi sebuah permasalahan. Budaya monolitik itu akan susah menerima sebuah pandangan maupun pemikiran yang berbeda dengan apa yang diyakininya. Akibatnya dengan mudah muncul budaya saling sesat menyesatkan hanya karena perbedaan perspektif-pemikiran. Padahal dalam Islam segala sesuatu dapat dimusyawarahkan, dicarikan solusinya bersama-sama, tanpa bermaksud menegasikan satu dengan yang lainnya. 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Dua Varietas Baru Durian Diperkenalkan di Embung Tonogoro

Kulonprogo
| Minggu, 05 Februari 2023, 16:47 WIB

Advertisement

alt

Lirik 'Angin' Dewa 19, Lagu Pembuka Konser di JIS

Hiburan
| Minggu, 05 Februari 2023, 16:17 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement