Advertisement

Puasa Ramadan sebagai Penyeimbang Fisik dan Kalbu

Arif Humaini, Dosen Prodi PBA/FPB UMY
Rabu, 27 April 2022 - 07:07 WIB
Maya Herawati
Puasa Ramadan sebagai Penyeimbang Fisik dan Kalbu Arif Humaini, Dosen Prodi PBA - FPB UMY

Advertisement

Ramadan sebagai “madrasah” bagi orang beriman, tempat latihan dan diingatkan agar kita manusia senantiasa menyeimbangkan kondisi lahir dan batin.

Salah satu yang nampak daripada kondisi lahir dan batin tersebut adalah antara fisik dan al-Qalbu atau hati. Meskipun keduanya merupakan sesuatu yang berbeda dan terpisah, akan tetapi memiliki fungsi saling mempengaruhi antara keduanya. Kondisi fisik manusia sering kali dipengaruhi oleh hati kita, rasa senang, gembira, sedih, dan susah acap kali akan memberikan dampak kepada kondisi fisik manusia. Begitu pun sebaliknya, meskipun kondisi fisik yang telah menurun namun jika ada rasa senang dan gembira dalam hatinya, pasti pula akan tetap memiliki semangat dan terpancar dalam kondisi fisik.

Advertisement

Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Muttafaq alaih disampaikan bahwa: “Sesungguhnya di dalam tubuh manusia itu ada segumpal darah, apabila segumpal darah itu baik, maka baiklah seluruh tubuh itu, namun apabila segumpal darah tersebut rusak, maka rusaklah seluruh tubuh itu, dia itu adalah al qalbu”.

Tidak dapat dipungkiri bahwa rasa senang, gembira, sedih, dan susah yang dilahirkan dalam perasaan emosi manusia terlahir dari hati ini. Di dalam hadis tersebut disebutkan bahwa organ yang dimaksud dengan mudhghah dalam hadis itu jika dilihat dari dunia kedokteran, maka ada yang berpendapat bahwa mudhghah/segumpal darah itu adalah jantung, karena salah satu organ tubuh kita ini yang tidak pernah sedikit pun beristirahat adalah jantung, bahkan di saat semua organ tubuh kita ini sedang tidur maka jantung masih terus berdetak.

Namun dari segi bahasa al qalbu ini lebih dimaknai dengan hati, karena yang menggerakkan atau mengontrol tubuh kita ini selain pikiran sebenarnya adalah hati. Berdasarkan pada kata hati manusia bisa memberikan penilaian yang akhirnya supaya kita bertindak atau melakukan suatu perbuatan ataupun tidak.

Dalam tinjauan bahasa, al qalbu berasal dari bahasa Arab yang artinya adalah membolak-balik. Hati dinamakan al qalbu karena sifatnya yang tidak tetap, terkadang bisa bergonta-ganti dan terbolak-balik bagaikan bulu yang diterbangkan oleh angin. Hati manusia memiliki potensi untuk bergerak ke arah positif atau negatif. Maka dari itulah kita diajarkan supaya senantiasa memperbaiki niat kita dalam mengerjakan segala hal, dan selalu berdoa kepada Allah SWT.

Maka fungsi dari puasa di bulan Ramadan ini, salah satunya adalah agar supaya antara hati sebagai penggerak dan fisik sebagai yang bergerak melakukan aktivitas yang seimbang berjalan seiring dan setujuan. Di bulan ini hati kita didorong dan dilatih, serta diberikan motivasi tinggi oleh Allah SWT untuk senantiasa bergerak ke arah positif, bahkan dalam suatu hadis diibaratkan dengan tertutupnya pintu neraka dan terbelenggunya setan di saat Ramadan tiba. Segala celah yang dapat mempengaruhi hati bergerak ke arah negatif ditutup oleh Allah SWT. Sedangkan fisik kita pun juga “dipaksa” untuk menahan diri dari hawa nafsu duniawi yang sering kali menggoda diri menuju jalan-jalan negatif yang tidak diridoi oleh Allah SWT.

Oleh karena, itu mari kita betul-betul memanfaatkan waktu latihan ini dengan sebaik-baiknya karena begitu sangat penting fungsi hati terhadap tubuh manusia, ia dapat memberikan dampak kepada kondisi fisik manusia hingga nonfisik yang bisa menyelamatkan manusia di kehidupan dunia hingga akhirat kelak.

 

Advertisement

 

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Perseroan Perorangan Ciptakan Kemudahan Berbisnis

Jogja
| Sabtu, 21 Mei 2022, 12:27 WIB

Advertisement

alt

Sepeda Senja, Cara Olski Temani Pegowes Lalui Sore

Hiburan
| Sabtu, 21 Mei 2022, 12:17 WIB

Advertisement

Advertisement