Advertisement

Literasi Gizi dalam Ramadan

Bambang Edi Susyanto, Dosen FKIK UMY
Kamis, 28 April 2022 - 07:07 WIB
Maya Herawati
Literasi Gizi dalam Ramadan Bambang Edi Susyanto, Dosen FKIK UMY

Advertisement

Dalam dunia medis, puasa Ramadan dapat dikatakan sebagai puasa selang atau intermittent fasting. Puasa dalam puasa Ramadan di Indonesia umumnya berkisar 14 jam, sesuai dengan durasi puasa yang dianjurkan dalam puasa selang di dunia medis, yaitu 14-20 jam dan sisanya disebut jendela makan.

Manfaat puasa selang yang saat ini banyak dibahas adalah terjadinya proses autophagy, dengan manfaat lanjut mencegah berbagi penyakit degeneratif termasuk kanker dan yang menarik adalah membuat awet muda (anti aging). Puasa selang juga akan memperbaiki resistensi insulin, suatu kondisi yang terjadi pada kondisi kegemukan, pre diabetes dan diabetes. Tidak heran apabila diketahui bahwa puasa Ramadan memberi dampak positif terhadap kesehatan secara keseluruhan.

Advertisement

Berbagai penelitian menyebutkan heterogenitas dalam pengukuran hasil puasa Ramadan mengingat variasi durasi puasa dan pengaruh budaya di antara pelaku puasa.  Profil lipid (kolesterol) pada umumnya membaik selama dan setelah puasa Ramadan dan berat badan berkurang 2-5 kg. Sebuah reviu sistematik oleh Farhana Osman, Sumanto Haldar dan Christiani Jeyakumar Henry  dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Nutrient (Nutrients 2020, 12, 2478) menunjukkan bahwa menu puasa yang kaya sayur dan buah memberikan dampak kesehatan yang signifikan dalam beberapa aspek kesehatan yang dinilai, utamanya parameter kardiometabolik. Lebih lanjut ditunjukkan bahwa konsumsi diet yang moderat dan tetap aktif secara fisik selama Ramadan menurunkan persentasi lemak tubuh. 

Perlu diingatkan agar pelaku puasa Ramadan memperbanyak minum air putih dan konsumsi buah pada malam hari dan saat sahur. Pepaya, stroberi, sirsak, belimbing, alpokat adalah contoh buah yang sangat bagus karena kandungan air yang tinggi, selain juga kaya vitamin dan zat positif lainnya. Apel dan pir juga umumnya baik untuk kita konsumsi. Khusus bagi yang mempunyai masalah diabetes dan kegemukan, kurangi buah yang tinggi gula, seperti pisang dan mangga atau anggur. Kurma sangat bagus untuk berbuka puasa, namun harus hati-hati (dibatasi) pada diabetes. Buah dalam kaleng atau buah yang diawetkan sebaiknya tidak dikonsumsi, sangat disarankan agar kita hanya mengonsumsi buah segar.

Orang yang mempunyai masalah dislipidemia (kolesterol) perlu bergembira karena beberapa penelitian menunjukkan hasil bahwa puasa Ramadan pada umumnya menguntungkan kelompok ini. Namun demikian masih perlu diingatkan agar mereka pandai memilih menu makanan yang rendah lemak jenuh dan lemak trans.

Puasa Ramadan sejatinya memberikan pembelajaran yang sangat baik, karena sebagai muslim kita diminta untuk berhati-hati dengan pola konsumsi makanan kita. Tak hanya perhatian pada soal kehalalan, namun juga pada nilai thoyyib makanan (kehalalan dan kemampuan tubuh kita menoleransi makanan tersebut) bahkan juga disiplin jadwal makan. Prinsip jenis, jumlah dan jadwal (3J) ini semestinya juga kita amalkan pada sebelas bulan di luar Ramadan. Itulah makna Ramadan sebagai bulan latihan dalam hal literasi gizi. Tentu Ramadan masih mempunyai berbagai makna dan manfaat lain selain keunggulan spiritual (takwa) sebagai tujuan utama puasa itu sendiri.

 

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

3 Daerah di Jogja dengan Nama Luar Negeri

Jogja
| Sabtu, 21 Mei 2022, 13:47 WIB

Advertisement

alt

Gen Halilintar Didenda Rp300 Juta karena Ubah Lirik Lagu Siti Badriah

Hiburan
| Sabtu, 21 Mei 2022, 13:27 WIB

Advertisement

Advertisement