Advertisement

OPINI: Pensiun, Berhenti atau Bekerja Kembali?

Sang Ayu Putu Piastini Gunaasih, Dosen Departemen Akuntansi, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Kamis, 19 Mei 2022 - 06:07 WIB
Maya Herawati
OPINI: Pensiun, Berhenti atau Bekerja Kembali? Sang Ayu Putu Piastini Gunaasih, Dosen Departemen Akuntansi, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Advertisement

Pernah nonton film The Intern (2015)? Ben Whittaker (Robert De Niro), di  masa pensiunnya hidup sebatang kara, istrinya sudah meninggal. Ben merasa tidak bahagia dan tidak terbiasa menjadi pengangguran, akhirnya memutuskan bekerja kembali (magang) di toko fashion online pada usia 70 tahun. Apa yang terjadi jika diperusahaan tempat kita bekerja terdapat karyawan magang yang sudah berusia 70 tahun? Berapa banyak fenomena seperti ini terjadi di sekeliling kita? Berapa banyak yang mencoba bisnis setelah memasuki masa pensiun? Berapa banyak yang menikmati pensiun tetapi merasa bosan?

Berapa banyak yang mapan secara finansial namun tetap gagal menikmati masa pensiun? Mengapa ini bisa terjadi? Situasi di lapangan ternyata tidak sesuai dengan iklan asuransi. Hidup santai tenang dan tanpa stres sambil liburan, tinggal di desa, dan berkebun, intinya bahagia selamanya seperti di film-film.

Advertisement

Pensiun menurut KBBI adalah tidak bekerja lagi karena masa tugasnya sudah selesai. Setiap orang memiliki persepsi yang berbeda mengenai makna tersebut. Namun menurut kebanyakan orang, masa pensiun merupakan masa yang menegangkan. Bagaimana tidak, saat kita pensiun setiap hari adalah liburan. Namun, kita masih harus hidup 25 sampai 30 tahun tanpa penghasilan atau dengan penghasilan yang jauh di bawah saat bekerja.

Untuk dapat memulai mempersiapkan masa pensiun, kita perlu mengetahui apa saja perubahan yang akan terjadi di masa depan. Pengelolaan keuangan, mental, dan kesehatan adalah tiga aspek yang akan berubah di masa pensiun yang akan menentukan kesejahteraan dan kebahagiaan kita. Ketika keuangan menipis bahkan tidak memiliki uang di masa pensiun, menyebabkan kesehatan mental yang kemudian dapat berdampak langsung ke masalah kesehatan, seperti penyakit darah tinggi, serangan jantung, dan penyakit lainnya yang tidak pernah dimiliki sebelumnya. Jadi bagaimana merencanakan pensiun sejak dini agar sejahtera, sehat, dan bahagia di masa pensiun?

Sejarah Pensiun

Pada abad ke-17, di Jerman, seorang pangeran bernama Duke Ernest membentuk dukungan dana untuk janda pendeta. Selanjutnya, pada abad ke-18, di benua Eropa, dukungan dana dalam bentuk pembayaran tahunan untuk mereka yang kehilangan pasangan akibat korban perang di negaranya masing-masing.

Abad ke-20, setelah perang dunia ke-2, Amerika membentuk jaminan sosial dalam bentuk dukungan dana bagi seluruh penduduknya. Semenjak abad ke-20, konsep tersebut menjadi populer di Amerika dan negara barat lainnya dan dikenal dengan istilah pensiun. Menurut kajian dari filsuf John Locke, bekerja adalah hukum kodrat manusia. Manusia tidak akan bisa mengingkari itu, karena bekerja adalah bentuk sarana perwujudan diri. Kajian ini menjelaskan mengapa banyak orang pensiun namun gagal menikmatinya. Saat pensiun, hilangnya sarana perwujudan diri dan perubahan rutinitas harian tanpa tujuan menyebabkan masa pensiun bukan lagi menjadi masa yang indah di hari tua.

Usia Ideal Pensiun

Kesalahan terbesar banyak orang tentang pensiun adalah hanya memikirkan masalah tingkat kemapanan finansial. Sedangkan elemen terpenting justru terletak pada tujuan dan proses transisinya. Kapan waktu yang ideal untuk pensiun adalah tergantung dari kesiapan secara “mental dan finansial”. Retirement blues terjadi pada sebagian besar orang yang menjalani suatu pekerjaan secara rutin dalam jangka waktu lama dan menjalani hustle culture (bekerja terlalu keras, mengerahkan kemampuan terbaik dan tidak punya waktu untuk kehidupan pribadi dan sosial). Jadi sebenarnya, tidak ada usia yang ideal untuk pensiun apabila belum ada kesiapan mental dan finansial. Umur rata-rata pensiun di masing-masing negara, khususnya di Indonesia adalah berdasarkan kemampuan fisik dan ingatannya, bukan berdasarkan umur kesiapan pensiun.

Advertisement

Persiapan Masa Pensiun

Untuk generasi milenial, meski waktunya masih lama, namun tidak ada salahnya untuk mempersiapkan masa pensiun sejak dini, agar di masa tua tidak membebani anak dan cucu. Merencanakan masa pensiun sejak dini bukanlah sesuatu yang berlebihan. Banyak yang memilih pensiun dini dan hidup tenang di hari tua karena sudah punya bantalan ekonomi yang mencukupi untuk menopang hidup dari hasil berinvestasi sejak muda. Jangan sampai kualitas hidup menurun karena sudah tidak bekerja lagi. Lalu apa saja yang perlu dipersiapkan?

Pertama, lunasi kewajiban yang masih harus dibayar. Sesuai ketentuan usia pensiun yang sudah diatur pemerintah, maka seluruh kewajiban yang dibuat seperti KPR rumah, kendaraan dan bentuk utang lainnya harus sudah lunas sebelum masuk usia pensiun.

Advertisement

Kedua, perkirakan biaya hidup dan masa hidup. Mulai lakukan survei untuk menyiapkan estimasi biaya hidup di kota yang akan ditinggali saat pensiun dengan memperhitungkan biaya hidup masa datang. Sebagi contoh banyak pekerja yang biasa hidup di kota besar untuk memilih pulang kampung untuk menghabiskan masa tuanya atau menghabiskan masa tua di kota lain yang tenang seperti Jogja.

Ketiga, memiliki asuransi jiwa dan kesehatan. Jika masih memiliki tanggungan istri atau anak yang harus dihidupi, kehadiran asuransi jiwa bisa meringankan beban finansial keluarga jika mendadak pencari kerja utama meninggal dunia. Begitu juga akan memperkecil dampak finansial apabila mendadak jatuh sakit apabila memiliki asuransi kesehatan tanpa perlu antrei panjang dan bisa dilayani dengan cepat. Keempat, kejar kebutuhan dana pensiun dengan investasi yang aman. Investasi yang dipilih hendaknya bisa mengikuti kenaikan inflasi dalam membiayai kebutuhan hidup. Hati-hati memilih produk investasi yang aman. Sesuaikan dengan profil risiko masing-masing, misalnya berinvestasi di reksadana, obligasi/ surat utang negara, atau saham.

Pensiun bukanlah berhenti bekerja, namun tetap bekerja dengan kadar stres yang moderat dan bisa ditoleransi. Pensiun juga bukan berarti kita tidak bersosialisasi, tetapi lebih bijak memilih teman dan atau keluarga yang bisa menjadi support system supaya kita tetap merasa bahagia.

Sejatinya pensiun adalah kesempatan untuk mengenali dan membahagiakan diri sendiri melalui peningkatan spiritual dan membangun hubungan yang lebih baik dengan orang-orang yang kita sayangi. Pensiun adalah kesempatan merevisi tujuan hidup dan menghidupkan kembali  mimpi-mimpi dan mewariskan pengalaman hidup ke anak dan cucu, sebab kelak kita akan meninggalkan legacy. Selamat menyambut masa pensiun yang indah dan sejahtera.

Advertisement

 

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Akhir Pekan, Stok Darah di DIY Aman. Cek Datanya!

Jogja
| Sabtu, 25 Juni 2022, 11:07 WIB

Advertisement

alt

Mantul! Dewa 19 Konser di Candi Prambanan, 3 Vokalis Bakal Bertemu

Hiburan
| Jum'at, 24 Juni 2022, 14:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Advertisement