Advertisement

OPINI: Nasib Peminatan SOS

Th. Agung M. Harsiwi, Dosen Departemen Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Kamis, 14 Juli 2022 - 06:07 WIB
Maya Herawati
OPINI: Nasib Peminatan SOS Th. Agung M. Harsiwi, Dosen Departemen Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Advertisement

Ingar bingar suasana Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA negeri di seluruh provinsi di Indonesia, termasuk di DIY beberapa waktu yang lalu sudah berakhir. Ada yang bahagia karena diterima di pilihan jurusan dan SMA yang diinginkan.

Ada juga yang kecewa, baik yang diterima di jurusan dan SMA yang bukan pilihan pertamanya, maupun yang tidak diterima sama sekali di SMA negeri. Hari-hari menegangkan yang acap kali menguras pikiran dan emosi siswa dan orang tuanya.

Setiap tahun, hampir dipastikan aturan PPDB SMA negeri di DIY mengalami perubahan, mulai dari komposisi nilai yang dipakai untuk seleksi, jalur PPDB yang dibuka, maupun persentase setiap jalur PPDB. Terlepas dari aturan PPDB SMA negeri yang selalu berubah, ada hal menarik untuk dicermati pada SMA-SMA negeri, khususnya di Kota Yogyakarta, yaitu ketidakseimbangan jumlah kelas jurusan IPA dan IPS. Menjadi hal yang lazim terjadi jika ada anak-anak peminatan jurusan IPS atau SOS  terpaksa  mengambil jurusan IPA karena terbatasnya kelas jurusan IPS yang tersedia. Betulkah demikian?

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

Fenomena Jurusan IPS

SMA negeri di Kota Jogja umumnya hanya membuka kelas jurusan IPA dan IPS, tanpa ada jurusan Bahasa. Tercatat ada 2 SMA negeri yang tidak memberlakukan kelas jurusan IPA dan IPS karena sama-sama menjadi “SMA Penggerak” yang menerapkan Kurikulum Merdeka. Kurang lebihnya pada saat siswa kelas X mempelajari beragam mata pelajaran sesuai minatnya, sebelum akhirnya pada kelas XI akan mengalami penjurusan IPA atau IPS. 

Berdasarkan data PPDB SMA negeri di Kota Jogja tahun ini (https://yogyaprov.siap-ppdb.com), dari 89 kelas yang dibuka bagi siswa kelas X, terdapat 15 kelas (17%)  tanpa penjurusan di 2 “SMA Penggerak”, sisanya tersebar di 9 SMA negeri yang terdiri dari 61 kelas jurusan IPA (69%) dan 13 kelas jurusan IPS (15%). Adakah skenario di balik ketersediaan kelas di jurusan-jurusan ini?

Apakah sejak awal siswa baru SMA diarahkan untuk mengambil jurusan IPA daripada jurusan IPS, yang menurut pandangan umum masyarakat lebih mudah melakukan lintas jurusan dari IPA ke IPS dari pada sebaliknya?

Sedikitnya jumlah kelas jurusan IPS dibandingkan IPA berdampak persaingan pada PPDB SMA negeri justru menjadi sangat ketat pada jurusan IPS karena kelas yang tersedia sedikit, otomatis peminat harus berkompetisi mendapatkan kursi yang sedikit itu. 

Kadang-kadang menjadi persaingan yang sangat tidak masuk akal karena nilai rata-rata IPS menjadi lebih tinggi daripada IPA pada satu sekolah.

Advertisement

Akibat lain, ada sebagian siswa yang terpaksa mengambil kelas jurusan IPA karena kalah bersaing dalam perebutan kursi di jurusan IPS. Bercampur dengan lulusan SMP yang belum mempunyai bayangan jurusan IPA itu mempelajari apa saja, termasuk yang memutuskan secara pragmatis daripada tidak dapat sekolah. Harus diakui sebagian besar lulusan SMP belum punya pengetahuan yang memadai tentang berbagai disiplin ilmu, termasuk gambaran kuliah dan profesi pada masing-masing disiplin ilmu tersebut.

Menjadi pertanyaan besar, apakah selama ini para pengambil kebijakan di dunia pendidikan menengah pernah mengadakan survei pasar input dan pasar output di SMA. Survei pasar input dilakukan dengan mengidentifikasi peminatan lulusan SMP atau calon siswa SMA tentang jurusan yang diinginkannya saat duduk di bangku SMA. Betulkah proporsi kelas jurusan IPA dan IPS telah menjawab minat calon siswa selama ini? Sementara survei pasar output dilakukan dengan mengidentifikasi banyaknya lulusan SMA jurusan IPA yang akhirnya memilih kuliah di bidang sosial humaniora daripada bidang sains dan teknologi, atau memakai istilah sekarang adalah lintas jurusan (linjur). Menjadi satu “kesia-siaan” waktu, tenaga, dan pikiran, ketika seorang siswa SMA harus mempelajari suatu ilmu yang tidak menjadi minatnya, bahkan tidak akan dimanfaatkan untuk kelanjutan studinya nanti.

Ketersediaan data menjadi faktor kunci dalam pengambilan keputusan pembukaan kelas-kelas jurusan IPA dan IPS. Pertanyaan berikutnya, adakah data itu? Apabila ada datanya dalam sistem, apakah sudah berfungsi sebagai pendukung dalam pengambilan keputusan (decision support system)? Sebab sudah menjadi rahasia umum, berbagai kebijakan yang diambil tidak didasari data yang memadai dan dapat diandalkan, yang pada akhirnya terjadi kesalahan dalam keputusan yang diambil.  

Advertisement

Jika dikaitkan dengan kacamata Business Model Canvas (BMC), maka yang pertama kali harus diperhatikan organisasi pendidikan menengah semestinya adalah aspek pelanggan (customer segment), yang tidak lain adalah siswa. Siapa dan bagaimana pelanggan harus menjadi pertimbangan utama dalam penentuan suatu produk, termasuk produk jasa pendidikan menengah ini. Fokus pada kebutuhan serta keinginan pelanggan akan memberikan manfaat yang tepat bagi pelanggan itu sendiri, baik dari sisi efektivitas maupun efisiensi proses pendidikan yang diselenggarakan.

 

'Merdeka Belajar' 

Sebenarnya pemerintah melalui Mendikbud Ristek Nadiem Makarim telah menawarkan Kurikulum Merdeka di tahun 2022 ini, dengan memberikan kebebasan bagi siswa dalam memilih disiplin ilmu, bahkan mata pelajaran yang ingin dipelajarinya. Meskipun Kurikulum Merdeka ini baru diujicobakan di beberapa SMA yang disebut “SMA Penggerak”, ke depan baik siswa maupun guru akan lebih merdeka dan lebih fleksibel dalam pembelajaran karena siswa dapat memilih kombinasi mata pelajaran sesuai dengan minatnya. Tentu dalam implementasinya, tidak semudah membalik telapak tangan karena apapun pilihan siswa nantinya akan berdampak pada ketersediaan guru pengampu mata pelajaran serta sarana pembelajarannya.  

Advertisement

Tahun pertama di SMA akan menjadi pengenalan pada semua mata pelajaran yang ditawarkan sekolah, gambaran pendidikan lanjut yang dapat dipilih, serta karier yang diinginkan. Bersamaan dengan itu siswa akan mempertimbangkan minat dan kemampuannya untuk memperdalam suatu disiplin ilmu. Kembali seperti tahun-tahun 1980-1990-an saat penjurusan dilakukan pada tahun kedua SMA. Harapannya akan terjadi sinkronisasi antara pendidikan menengah dengan pendidikan tinggi, sehingga siswa SMA dipersiapkan lebih awal untuk memasuki pendidikan tinggi dengan gambaran ilmu dan karier yang memadai.

Catatan Penutup

Penentuan jumlah kelas jurusan IPA dan IPS pada pendidikan SMA sebaiknya berdasarkan data pasar input dan pasar output yang sangat mungkin berubah dari waktu ke waktu sesuai tren yang berkembang di masyarakat. Berdasarkan data itu, cerita pragmatisme dalam memilih jurusan IPA yang terkesan “lebih” karena bisa lintas jurusan atau memilih IPA dari pada tidak dapat sekolah dapat dieliminasi.

Advertisement

Sebab pada dasarnya IPA maupun IPS sama-sama mempunyai keistimewaan, meski mempelajari bidang ilmu yang berbeda. Tidak semua menjadi dokter atau insinyur, karena harus ada yang menjadi ekonom, psikolog, pengusaha, bahkan budayawan dan seniman. 

Kurikulum Merdeka seharusnya menjadi jawaban dan momentum berharga bagi siswa dengan diberikannya kebebasan memilih mata pelajaran yang menjadi passion-nya. Sudah saatnya dunia pendidikan yang didominasi orang dewasa mengakomodasi passion siswa agar mereka dapat belajar dengan bahagia untuk menjadi generasi Indonesia masa depan.

 

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Dispar DIY Dorong Wisata Berwawasan Lingkungan dan Inklusif

Sleman
| Selasa, 27 September 2022, 13:47 WIB

Advertisement

alt

Netflix Bocorkan 120 Konten Baru yang Akan Dirilis

Hiburan
| Selasa, 27 September 2022, 11:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement