Advertisement

OPINI: Menguasai Jagat Metaverse

Johannes Kolibonso, Managing Director, CIE Practice for Indonesia Accenture
Selasa, 30 Agustus 2022 - 06:07 WIB
Maya Herawati
OPINI: Menguasai Jagat Metaverse Pengunjung berada di dekat instalasi seni imersif berjudul

Advertisement

Pandemi memaksa orang-orang untuk menggunakan teknologi internet yang belum pernah mereka dengar dan gunakan sebelumnya. Hal ini berakibat kepada dua hal, yang pertama adalah mengubah cara kita bekerja seperti menggunakan teknologi untuk bekerja secara jarak jauh, dan hadirnya tempat kerja yang berbasis karantina. Selain itu, ada juga berbagai adaptasi lain yang dilakukan, misalnya, terhadap rantai logistik, yang semakin bergantung dengan menggunakan internet untuk kegiatan operasionalnya.

Di sisi lain, pandemi juga membuka mata bahwa teknologi yang ada sekarang juga tidak memadai jika kita menghadapi peristiwa yang lebih besar lagi di masa depan. Hal ini akhirnya memicu berbagai terobosan, dengan cara kita menggunakan internet, dan internet itu sendiri. Pada akhirnya, terobosan, atau lebih tepatnya evolusi internet, ini juga membawa perubahan ke lingkungan bisnis.

Namun, perubahan itu tidak hanya terjadi di sebagian proses yang dihadapi secara langsung oleh manusia seperti bekerja atau berkomunikasi. Secara keseluruhan, berbagai hal baru yang didorong oleh evolusi internet ke tahap yang berikutnya ini, membuat pengguna menemukan aspek baru dalam dunia digital: “metaverse”.

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

Seperti “multiverse”, metaverse terdengar seperti istilah dalam cerita fiksi. Namun, berbeda dengan multiverse, metaverse sudah hadir dan memberikan pengalaman baru di internet, atau biasa disebut dengan Web3. Singkat kata, lingkungan Web3 akan memfasilitasi pertukaran data tanpa batasan sambil tetap mempertahankan batasan privasi atau akses. Dan saya percaya hal ini kan menjadikan metaverse sebagai cara utama dalam aktivitas komersial di masa depan.

Seperti inovasi teknologi baru lainnya, ada banyak pendapat, termasuk harapan dan keraguan mengenai metaverse. Berbagai pendapat terkait metaverse itu muncul karena metaverse tampak hanya seperti game atau hiburan bagi konsumen. Hal yang sama pernah terjadi pada saat internet baru lahir. Banyak sekali pelaku pemasaran tahun 1990an mengabaikan peran internet untuk kegiatan bisnis mereka. Lalu, satu dekade berikutnya, berbagai situs online menggantikan toko fisik sebagai tempat berbelanja yang lebih disukai konsumen. Sekarang, kita berada di titik yang sama di mana metaverse akan menjadi evolusi internet yang baru dan mendorong perubahan paradigma antara dunia fisik dan digital.

Saya melihat metaverse sebagai “kontinum”, rangkaian kesatuan yang berevolusi dan berkembang ke berbagai dimensi, memberikan pengalaman ‘realitas-virtual’ baru, mulai dari murni virtual, hingga campuran fisik dan virtual seperti yang termuat dalam laporan terbaru Accenture, Metaverse Continuum.

Singkatnya, anggaplah Metaverse Continuum sebagai spektrum dunia digital yang disempurnakan. Sehingga membuka potensi bagi model bisnis yang mampu untuk merevolusi berbagai proses kehidupan dan bisnis pada dekade berikut, atau bahkan, mungkin lebih cepat dari itu.

Saya melihat sekarang adalah saat yang tepat bagi perusahaan untuk menetapkan aturan main dan menjadi pionir untuk penciptaan dunia digital yang baru. Ibaratnya, Anda berada pada posisi yang sama dengan Jeff Bezos pada tahun 1994 ketika dia melihat potensi internet dan menciptakan Amazon.

Berkaca pada apa yang sudah terjadi pada tahun 90an, saya percaya bahwa bisnis yang ingin sukses sebaiknya juga mempertimbangkan metaverse untuk berbagai kegiatan mereka. Jika pada era 90-an internet berhasil menghubungkan berbagai jaringan B2B dan B2C, memberikan perspektif yang lebih luas serta menyambungkan orang dari berbagai belahan dunia, metaverse akan siap membawa inovasi ini ke tingkat baru, menghasilkan transformasi bisnis secara total.

Advertisement

Sebagai contohnya, BMW telah menerapkan teknologi digital twin di 31 pabrik milik mereka. Teknologi ini memungkinkan pengguna untuk menggunakan versi virtual dari suatu mesin untuk memantau, mengontrol, melakukan analisis, dan memprediksi secara jarak jauh dan real time. Hal ini tentunya dapat membantu BMW untuk memberikan informasi dan masukan kepada para pekerja dan mempermudah proses pengambilan keputusan operasional dari jarak jauh.

Teknologi metaverse tidak hanya milik perusahaan besar atau pemerintah. Bisnis seperti travel agent atau pemilik hotel juga dapat mengalami manfaat inovasi ini. Misalnya, pengelola resor diving atau hotel di Bali dapat menunjukkan pemandangan pantai, kondisi cuaca, angin, dan ombak, serta jadwal penerbangan alternatif agar para turis mendapatkan informasi dan dapat mengganti jadwal kedatangan mereka. Dulu, hal seperti ini membutuhkan pendanaan dan sumber daya yang sangat besar, tetapi melalui metaverse melakukan hal ini hanya membutuhkan beberapa langkah saja.

Beberapa hal tadi hanyalah perwakilan kecil dari kemampuan metaverse yang lebih luas. Untuk dapat memanfaatkannya, para pemimpin bisnis perlu membangun strategi baru, mengeksplorasi potensi produk dan jasa baru, dan melatih para pegawai mereka tentang teknologi yang akan segera menjadi dasar bisnis mereka. Seiring dengan dewasanya teknologi metaverse dan Web3, saya percaya, mereka yang dapat melihat potensi metaverse akan menuai manfaat pada dekade berikutnya.

Advertisement

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

BREAKING NEWS: Pelaku Pemerkosaan Anak Difabel di Bantul Resmi Ditahan

Bantul
| Selasa, 27 September 2022, 15:17 WIB

Advertisement

alt

Netflix Bocorkan 120 Konten Baru yang Akan Dirilis

Hiburan
| Selasa, 27 September 2022, 11:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement