Advertisement

OPINI: WFH Mengubah Cara Kerja K3 Harus Mengubah Cara Berpikir

Edi Priyanto, Wakil Ketua Dewan K3 Provinsi Jawa Timur
Rabu, 08 April 2026 - 17:47 WIB
Maya Herawati
OPINI: WFH Mengubah Cara Kerja K3 Harus Mengubah Cara Berpikir Foto ilustrasi work from home, dibuat menggunakan Artificial Intelligence.

Advertisement

Perubahan pola kerja menuju work from home (WFH) dan sistem hybrid tidak hanya menggeser lokasi kerja, tetapi juga mengubah lanskap risiko yang dihadapi pekerja. Kondisi ini menuntut keselamatan dan kesehatan kerja (K3) untuk bertransformasi dari pendekatan berbasis kepatuhan menuju budaya berbasis kesadaran.

Data terbaru menunjukkan bahwa meskipun bekerja di kantor (WFO) masih mendominasi sekitar 46,9 persen organisasi, model kerja hibrida telah tumbuh signifikan, hingga 34,4 persen dan terus meningkat, terutama di sektor berbasis pengetahuan.

Advertisement

Hal yang lebih menarik, bukan hanya pergeseran model kerja, melainkan adanya gap nyata antara kebijakan dan implementasi yang dipicu oleh budaya kerja lama, seperti sistem presentasi dan rendahnya kepercayaan berbasis kinerja.

Di Indonesia, arah perubahan ini dipertegas melalui Surat Edaran Menteri Ketenagakerjaan Republik Indonesia Nomor M/6/HK.04/III/2026, yang mendorong perusahaan untuk menerapkan bekerja dari rumah atau WFH, minimal satu hari dalam sepekan, sekaligus menjalankan program optimasi energi di tempat kerja.

Surat edaran ini bukan sekadar kebijakan administratif. Ini adalah sinyal transformasi sistem kerja nasional. Hanya saja, di tengah perubahan ini, ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan; apakah keselamatan kerja ikut bertransformasi?

Saat ini, kita melihat satu realitas yang sering terlewati, yakni kita terlalu fokus pada "di mana bekerja", tetapi belum cukup fokus pada "bagaimana bekerja dengan aman".

Dulu, kita bisa mengontrol risiko dalam satu ruang kantor, tempat kerja, pabrik, operasional. Hari ini, ruang kerja menjadi cair.

Seiring waktu, rumah menjadi kantor. Kafe menjadi ruang pertemuan. Laptop menjadi workstation utama, namun risiko tidak hilang. Ia hanya berubah bentuk.

Kita mulai menghadapi adanya risiko ergonomi akibat fasilitas kerja yang tidak memadai, risiko psikososial akibat batas kerja yang kabur, risiko kelelahan digital, risiko kelistrikan dan lingkungan kerja domestik.

Tanpa disadari, kita sedang menciptakan "area kerja baru, tanpa standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang jelas". Menariknya, surat edaran dari Menaker tersebut tidak hanya bicara tentang WFH, tetapi juga optimasi energi, sebuah pendekatan yang sangat relevan dengan agenda global yang keberlanjutan.

Melalui pengurangan mobilitas dan penggunaan ruang kantor, model kerja hibrida terbukti mampu menghasilkan efisiensi energi hingga 20–30 persen, terutama dari sisi operasional gedung dan transportasi (berdasarkan analisis tren kerja masa depan).

Artinya, WFH bukan hanya tentang kenyamanan pekerja, tetapi juga mengurangi risiko kecelakaan perjalanan, menekan kelelahan akibat perjalanan pergi pulang setiap hari dari rumah ke kantor, mendukung pengurangan emisi dan konsumsi energi.

Di titik ini, K3 tidak lagi berdiri sendiri. K3 menjadi bagian dari environmental, social, and governance atau ESG, keberlanjutan, dan strategi bisnis masa depan.

Menghadapi semua itu, tantangan terbesar yang dihadapi saat ini bukan pada kebijakan, melainkan pada pola pikir. Banyak organisasi sudah menerapkan WFH, tetapi masih mengukur kinerja dari kehadiran, masih mengontrol, bukan mempercayai, dan masih melihat keselamatan hanya di ruang tempat kerja kantor.

Inilah yang menciptakan kesejmbangan tindakan dengan kebijakan. WFH akhirnya hanya menjadi formalitas. Model kerja hibrida hanya menjadi jargon. Padahal, perubahan ini menuntut sesuatu yang lebih mendasar, yaitu transformasi cara berpikir. Saatnya K3 naik level, dari kepatuhan menuju ke nilai tambah yang strategis.

Dalam konteks ini, K3 harus mengambil peran yang lebih besar. K3 tidak boleh lagi hanya menjadi fungsi kepatuhan. K3 harus menjadi strategic enabler dalam transformasi kerja.

Tiga langkah


Setidaknya ada tiga langkah penting untuk mewujudkan hal ini.

Pertama, pendefinisian kembali K3 berbasis sistem kerja. K3 harus mencakup seluruh ekosistem kerja, kantor, rumah, dan mobile working.

Kedua, standarisasi K3 untuk WFH, mulai dari ergonomi sederhana, kesehatan mental, hingga keselamatan lingkungan kerja domestik.

Ketiga, integrasi dengan ESG dan energi. Program K3 harus berkontribusi pada efisiensi energi, pengurangan risiko, dan keberlanjutan organisasi. Dari semua itu, yang paling krusial adalah satu hal, yaitu pada budaya.

Selama ini, kita sering berbicara tentang kepatuhan, namun pengalaman menunjukkan bahwa kepatuhan hanya bertahan selama diawasi. Sementara keselamatan yang sejati lahir dari kesadaran. WFH justru menguji mengenai hal ini.

Ketika pekerja tidak diawasi secara langsung, apakah ia tetap menjaga keselamatan dirinya? Ketika bekerja dari rumah, apakah ia tetap peduli pada kesehatan dan keseimbangannya? Di sinilah K3 menemukan makna yang lebih dalam, bukan sekadar aturan, tetapi perilaku atau budaya.

WFH sering hanya dipahami sebagai "bekerja dari rumah", padahal yang terjadi jauh lebih besar dari itu.

Ini adalah perubahan paradigma dari kontrol menjadi kepercayaan, dari sekadar kehadiran menjadi kinerja, dari tempat kerja menjadi sistem kerja, dari K3 sebagai kewajiban menjadi K3 sebagai budaya.

Jika kita gagal memahami ini, maka K3 akan tertinggal. Sebaliknya, jika kita mampu mengelolanya, maka K3 justru akan menjadi fondasi utama masa depan dalam dunia kerja.

Sebagai praktisi K3, kita meyakini bahwa masa depan kerja bukan hanya tentang fleksibilitas, tetapi tentang bagaimana kita tetap aman, sehat, dan berkelanjutan, di mana pun kita bekerja.

Di situlah peran K3 menjadi semakin relevan, bukan hanya melindungi pekerja, tetapi menjaga arah perubahan.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

WFH ASN DIY Dimulai, Rabu Dipilih Hindari Efek Libur Panjang

WFH ASN DIY Dimulai, Rabu Dipilih Hindari Efek Libur Panjang

Jogja
| Rabu, 08 April 2026, 20:37 WIB

Advertisement

Dari Obrolan Santai Lahir Lagu Emosional Wijaya 80 dan Sal Priadi

Dari Obrolan Santai Lahir Lagu Emosional Wijaya 80 dan Sal Priadi

Hiburan
| Rabu, 08 April 2026, 15:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement