Advertisement

OPINI: Idulfitri dan Homo Theos

Dr. M. Ali Imron, S.Sos., M. Fis
Kamis, 19 Maret 2026 - 16:47 WIB
Sugeng Pranyoto
OPINI: Idulfitri dan Homo Theos Dr. M. Ali Imron, S.Sos., M. FisDosen Universitas Aisyiyah Yogyakarta

Advertisement

Kita Sedang menyongsong Idulfitri 1427 H di tahun 2025. Sebulan penuh umat muslim berpuasa Ramadan. Dalam tradisi bangsa-bangsa bulan Ramadan selalu disambut dengan aneka rupa aktivitas sebagai wujud kegembiraan budaya. Dari penyiapan makan khusus, perlengkapan ibadah khusus atau bahkan baru, acara-acara khusus seperti silaturahmi, saling mengirim makanan dan membatalkan puasa bersama komunitas ketika azan berkumandang. Bahkan di negara-negara dengan budaya barat kristiani di mana komunitas muslim berada biasanya pendatang, pelajar dan mungkin turis mereka berkumpul di suatu tempat seperti alun-alaun atau meeting point untuk berbagi makanan berbuka. Acaranya berlangsung santai dan tidak mendapatkan penolakan dari penduduk loka. Tentu ini sangat mengembirakan.
Bagi kaum Muslim bulan Ramadan salah satu dari empat shahrul hurum (bulan mulia) sangatlah istimewa. Bulan di mana amal baik dilipat gandakan pahalanya, lapar siang menjadi istimewa dan malam harinya menjadi mulia karena ibadah dan kontemplasi. Bahkan bau mulut orang yang berpuasa bagaikan wangi kasturi dari surga. Inilah metafor bahwa Ramadan memang istimewa. Saat Ramadan tiba maka sisi spiritualitas manusia menjadi makin tinggi dan sifat keduniaan menjadi semakin rendah. Dengan begitu puasa akan mencapai tujuannya yaitu manusia takwa (Qs: Al-Baqarah: 183). Ciri manusia takwa tentu tidak saja tercermin dalam ritual ibadah akan tetapi juga akan tampak dalam kehidupan nyata di tengah-tengah masyarakat. Kata Takwa bukanlah perilaku yang menggantung di langit akan tetapi harus berpijak di Bumi.
Yuval Noah Harari dalam bukunya “Homo Deos: A brief History of Tomorrow”, dengan melihat perkembangan teknologi informasi yang makin cepat, Yuval menggambarkan bahwa di abad 21, manusia tidak akan puas menjadi manusia biasa. Dengan penguasaan teknologi berbasis data seperti bioteknologi, rekayasa genetika dan kecerdasan buatan manusia akan berusaha untuk mengalahkan kematian, menciptakan kebahagian abadi dan meningkatkan kemampuan. Dengan mengagabungkan teknologi maka manusia dibayangkan akan memiliki kemampuan seperti dewa-dewa dalam mitos Yunani yang memiliki kekuatan yang melebihi manusia biasa. Yuval menyebutnya “Homo Deus” yang bermakna “manusia dewa” akan tetapi tidak dalam makna dewa yang magis lebih pada”manusia nyata” yang dengan teknologi seolah memiliki kekuatan seperti dewa. Sesuatu yang secara nyata hari ini mulai terlihat. Pertanyaan mendasarnya adalah apakah betul menjadi “Homo Deus “adalah yang dibutuhkan manusia?
Ramadan tahun ini kita juga menikmatinya dengan keprihatinan mendalam serangan Amerika Serikat dan Israel atas nergara Iran mengharu biru emosi kita. Gedung luluh lantak dan ribuan orang meninggal karenanya dan tentu saja ada anak-anak penerus generasi manusia. Perang ini adalah perang dengan penggunaan teknologi tercanggih yang ada di muka Bumi. Perang di mana manusia tidak perlu saling berhadapan. Dengan teknologi yang ada di tangan berton-ton Rudal yang digerakkan oleh kecanggihan teknologi diluncurkan dan dikendalikan hanya dengan sebuah tombol. Dan merekapun saling menghancurkan. Merngerikan!
Melihat perang ini dari layar kaca saya jadi ingat “Homo deus” nya Yuval seperti tulisan di atas. Manusia dengan teknologi berperang seperti dewa-dewa berperang dengan kesaktiannya tanpa harus bertatap muka. Dengan tobol mereka saling menghancurkan. Perang yang merobek kesucian bulan Ramadan dan nilai kemanusian kita. Bukan sesuatu yang magis tetapi nyata.
Puasa Ramadan apabila dijalankan satu bulan penuh sedikit banyak akan mampu mengubah perilaku seseorang. Mengacu pada penelitian Maxwell Maltz dalam psycho-Cybernetics (1960) yang menyimpulkan bahwa untuk mendapatkan mental baru orang memerlukan 21 hari melakukan dan merasakan hal yang sama. Meskipun penelitian ini kemudian dibantah oleh penelitian lain yang menyebutkan orang memerlukan 66 hari rata-rata untuk menerima kebiasan baru. Puasa dijalankan 29/30 hari dengan kegiatan positif baik berdemensi dunia maupuan akhirat. Kita optimistis karena 30 hari tentu lebih lama dibanding dengan 21 harinya Maxwell, puasa akan mampu mencapai tujuannya yaitu lahirnya manusia takwa. Ukuran takwa juga telah dinformasikan oleh Al-Qur’an dalam surat Ali Imron 133-135. Orang yang bertakwa akan memiliki karakter utama yaitu dermawan (membagikan infaq/shodaqoh), tidak mudah marah dan pemaaf. Inilah karakter utama penyayang (rahmah) yang dimiliki Oleh Tuhan.
Karakter yang secara sosial akan merekatkan, mensejahterakan dan mendamaikan. Setelah satu bulan berpuasa manusia akan mampu mengekspresikan sifat Tuhan yang penyayang.
Abad 21 ini jangan-jangan yang kita butuhkan bukan “homo deus” manusia dewa yang ternyata masih mengobarkan perang dan saling bunuh untuk menyelesaikan persoalan. Yang kita butuhkan adalah “homo theos”, yaitu manusia yang mampu mengekspresikan sifat-sifat utama Tuhan yaitu kasih-sayang.
Puasa Ramadan telah memberi jalan agar kita bisa menjadi ‘homo theos”. Dan puasa dikenal dalam sejarah peradaban manusia dimanapun dan dalam kepercayaan dan agama manapun,

Selamat Hari Raya Idulfitri.

Advertisement

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Video Terbaru

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Pemudik Bisa Akses Layanan Tambal Ban Gratis di Bantul

Pemudik Bisa Akses Layanan Tambal Ban Gratis di Bantul

Bantul
| Kamis, 19 Maret 2026, 17:17 WIB

Advertisement

Film Pelangi di Mars: Ambisi Besar Sci-Fi Lokal Berstandar Global

Film Pelangi di Mars: Ambisi Besar Sci-Fi Lokal Berstandar Global

Hiburan
| Rabu, 18 Maret 2026, 20:57 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement