Semesta Peran Dalang Edan

Enthus Susmono (kanan) - Antara
20 Mei 2018 00:25 WIB Aris Setiawan Aspirasi Share :

Ia banyak dihujat dan dikritik karena dianggap terlalu frontal lewat gaya dia mendalang. Di panggug pertunjukan wayang itu tak jarang ia mengumpat (misuh) dengan kasar kendati ada tokoh masyarakat atau orang berpengaruh yang sedang menyaksikan pertunjukan itu.

Dalam beberapa kali kesempatan, tanpa tedeng aling-aling, ia langsung menunjuk dan menyebut nama pejabat yang menurut dia tidak kompeten atau bekerja asal-asalan walaupun pejabat tersebut berada di bangku penonton. Ia dianggap dalang edan, tak pernah takut meluapkan kritik.

Banyak birokrat yang tak suka alias membenci dia, tapi tidak demikian bagi masyarakat akar rumput. Pergelaran wayang semalam suntuk yang dia bawakan selalu dibanjiri ribuan penonton hingga usai.

Enthus Susmono kemudian menjadi salah seorang dalang yang diperhitungkan, generasi anyar setelah era Manteb Soedarsono dan Anom Suroto. Sebagai seorang dalang, Enthus berada dalam dua wilayah kreatif.

Ia begitu mahir memainkan wayang golek gaya Sunda, namun juga piawai membawakan wayang kulit gaya Surakarta. Dalam setiap pergelarann selalu ada bentuk wayang baru yang dia munculkan, misalnya wajah Goerge W. Bush, Saddam Husein, hingga Osama Bin Laden.

Hal itu membuat penonton tertawa terpingkal-pingkal. Dengan lagak yang begitu percaya diri, ia menirukan suara tokoh-tokoh tersebut. Di tangan Enthus percakapan antara George W. Bush dan Osama Bin Laden dapat menjadi kisah tersendiri yang menarik untuk didengar dan dilihat.

Dalam realitas kehidupan nyata, dua sosok itu tentu bersebrangan ideologi, bahkan saling berperang. Di panggung pertunjukan wayang dengan dalang Enthus, dua sosok tersebut dapat berdialog layaknya sahabat lama yang bertemu di warung kopi, akrab dan terlihat romantis.

Enthus berusaha membentur-benturkan logika awam bahwa urusan perang, kebencian, kekerasan, dan dendam justru dapat begitu cair di panggung pertunjukan wayang. Panggung wayang adalah semesta dunia mikro dengan dalang sebagai tuhan.

Boneka-boneka wayang itu tidak semata-mata digerakkan, namun juga berisi gugusan wacana dan gagasan. Konsep pemikiran yang dibawa Enthus adalah membuat masyarakat terhibur dengan menertawakan keadaan, kemelaratan, dan ketidakadilan.

Walaupun ia menggelar pertunjukan wayang seolah-olah dengan serampangan, guyonan, dan banyak canda, sesungguhnya hal tersebut diikuti dengan proses yang ketat dan serius. Beberapa waktu sebelum pertunjukan digelar, latihan rutin dilakukan.

Dalam proses latihan itulah ia sering kali terlihat emosional, memarahi musikus atau apa pun yang bagi dia kurang pas. Suasana latihan menjadi sangat tegang. Sedikit saja ada kesalahan, tentu terdengar umpatan.

Enthus sangat menghargai proses. Bagi dia, tidak ada pertunjukan yang sukses tanpa proses yang baik. Lewat wayang, Enthus berdakwah. Tak jarang ia begitu fasih menyuplik nukilan ayat-ayat suci Alquran kemudian dimaknai dan dikomunikasikan kepada penonton.

Di titik inilah Enthus berada pada posisi liminal, batas antara yang baik dan buruk menjadi bias. Pada satu sisi ia terlihat sangat arogan, kasar, bahkan brutal, tapi di sisi lain ia tampak sangat religius dan agamis. Penonton melihat Enthus bukan semata-mata dalang, tapi juga manusia dengan pribadi yang komplet.

Ia mampu menggerakkan boneka wayang (sabet) dengan terampil, serta khatam dalam membuat lakon-lakon sehingga tampak hidup dan mengena di hati masyarakat (sanggit). Gaya bahasanya sederhana alias mudah dipahami, bahkan ia mendudukkan dirinya terlibat (fate in) dalam konteks pertunjukan.

Artinya, penonton tidak hanya melihat boneka wayang tapi juga sosok dalang. Dalam beberapa adegan, ia terlihat berbicara sendiri (berkomunikasi) dengan wayang layaknya orang gila. Di beberapa kesempatan lain, ia menggantikan peran wayang yang dimainkan, ia berbalik menghadap penonton, tidak lagi menghadap kelir.

Penonton memerhatikan dan mendengarkan dengan saksama apa pun yang diucapkan Enthus. Pada titik itu boneka wayang ia “matikan”. Batas antara dalang dan wayang menjadi sumir. Apakah dalang memainkan wayang ataukah tokoh dan karakter wayang yang memainkan dalang?

Enthus dengan tandas memainkan peran tersebut. Di tangan Enthus, pertunjukan wayang kulit yang selama ini menjadikan wayang sebagai pusat tontonan kemudian mengarahkan ke dalang sebagai pusat perhatian. Ia juga “membunuh” peran sinden.

Banyak dalang yang menjadikan pesinden (perempuan vokalis dalam musik gamelan) sebagai daya tarik pertunjukan, dengan “memajang” mereka di samping kanan dalang menghadap penonton, sehingga kemolekan tubuh dan kecantikannya tampak jelas terlihat, Enthus tak melakukan itu.

Sinden-sinden justru terlihat religius dengan berkerudung, duduk bersama pengrawit (pemain gamelan) menghadap dalang atau kelir. Enthus bukan dalang yang menjual tampilan fisik pergelaran, tapi wacana dan konsep-konsep.

Dekonstruksi

Enthus Susmono adalah dalang yang paling kreatif saat ini. Ia memberi warna baru dalam dunia pedalangan. Hujatan dan kritikan kepada dia justru semakin melambungkan namanya. Ia sadar, semakin sering digunjingkan maka semakin banyak pula masyarakat yang penasaran melihat pementasannya.

Ia mendekonstruksi batas-batas tradisi dalam pertunjukan wayang. Ia menolak kemonotonan dan kebekuan. Selalu ada kebaruan dan kejutan yang dia lakukan, mulai dari berinovasi membuat wayang dengan wajah-wajah orang (wayang rai wong), hingga membuat wayang simfoni dengan menggunakan orkestra musik Barat.

Pergelarannya senantiasa dinanti dan ditunggu. Pergelaran wayang garapan dia membuat masyarakat tertawa terpingkal-pingkal, garuk-garuk kepala karena bingung, bahkan menangis tersedu-sedu karena bersedih.

Enthus hidup di semesta peran. Ia berhasil membawakan peran itu dengan paripurna, bahkan kala dirinya menjadi Bupati Tegal (periode 2014-2019). Tak cukup memainkan boneka wayang untuk membawa kisah-kisah positif, ia menjadi “dalang sesungguhnya” bagi kehidupan masyarakat Tegal.

Hingga menjelang kematiannya (14 Mei 2018) pasa usia ke-51 tahun, ia masih menjadi pemimpin dan pejabat yang dipuja dan dianut. Enthus pergi meninggalkan kenangan berupa kebaruan pertunjukan wayang dan tanggung jawab politik yang belum usai.

Dalam rentang jabatannya sebagai Bupati Tegal, tak sedikit pun Enthus mengubah tampilan dan karakter dalam mendalang. Ia masih pribadi yang ceplas-ceplos, blak-blakan, dan tanpa kepura-puraan. Jabatan adalah bagian dari semesta peran bagi dirinya.

Di panggung ia adalah dalang yang disegani dan di luar itu Enthus adalah pemimpin yang bersahaja serta bertanggung jawab. Kini ia telah memainkan peran yang lain, tidak lagi di dunia, tapi di hadapan Sang Pencipta. Selamat jalan Ki Enthus Susmono.

*Penulis adalah etnomusikolog, pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo.

Sumber : JIBI/Solopos