OPINI: Meningkatkan Akses Ruang Literasi Masyarakat

Perpustakaan di DIY - Ilustrasi
01 Juli 2019 06:57 WIB Muhammad Mufti AM Aspirasi Share :

Ada ungkapan bijak mengatakan setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah, setiap buku adalah ilmu. Boleh berhenti sekolah tapi jangan berhenti belajar. Ungkapan itu mengisyaratkan belajar merupakan sebuah proses yang harus terus menerus dilakukan di manapun dan kapanpun. Tempat belajar tidak selalu identik bangku sekolah atau lembaga pendidikan formal.

Belajar pun bisa dilakukan di sebuah tempat bernama perpustakaan. Pasal 2 Undang-Undang No. 43/2007 tentang Perpustakaan menyebutkan bahwa perpustakaan diselenggarakan berdasarkan asas pembelajaran sepanjang hayat, demokrasi, keadilan, keprofesionalan, keterbukaan, keterukuran, dan kemitraan. Boleh dikatakan perpustakaan memberi keleluasaan akses ruang bagi terciptanya proses pembelajaran mandiri lintas batas usia. Perpustakaan menjadi ruang literasi seluruh lapisan masyarakat.

Kepala Perpustakaan Nasional RI, Muhammad Syarif Bando, pada sebuah Rapat Koordinasi Nasional Bidang Perpustakaan di Jakarta beberapa waktu lalu pernah menyampaikan jumlah perpustakaan di Indonesia ada 164.610 buah. Indonesia menempati posisi kedua yang memiliki perpustakaan terbanyak di bawah India dengan 323.605 perpustakaan.

Sementara data Kemendikbud RI memperlihatkan lebih dari 6000 perpustakaan berbasis masyarakat (taman bacaan) tersebar di negeri kita. Informasi tersebut memperjelas bahwa ternyata ada banyak ruang bisa diakses masyarakat dalam rangka aktivitas literasi. Bukan cuma enam literasi dasar saja, tetapi juga aktivitas literasi berbasis pengetahuan lainnya.

Sebagai ruang literasi, perpustakaan tentu sering dikunjungi banyak orang dari berbagai lapisan. Masyarakat datang ke perpustakaan dengan tujuan berbeda-beda. Ada yang membaca, mencari informasi, belajar, diskusi, atau internetan. Sampai benar-benar serius memanfaatkan perpustakaan guna menunjang kegiatan penelitian dan pendidikan.

Ruangan nyaman serta kondusif sangat berperan agar pengguna perpustakaan (pemustaka) tidak segera meninggalkan tempat ketika informasi telah diperoleh. Mereka dapat memanfaatkan fasilitas lainnya, berkegiatan, bahkan sekadar menghabiskan waktu bersantai membuang kejenuhan. Di situlah kemudian akan terlihat bagaimana sesungguhnya fungsi perpustakaan.

Di Indonesia kita masih mudah menemukan perpustakaan yang dikelola seadanya. Asal memiliki koleksi dan layanan peminjaman pengembalian buku sudah dianggap cukup, tanpa memperhatikan aspek lain. Padahal kebutuhan pemustaka tak hanya koleksi, layanan, atau informasi namun lebih dari itu. Beberapa hal sebenarnya dibutuhkan para pemustaka misalnya ketenangan, penerangan memadai, tersedianya listrik untuk charger, keramahan para pustakawan, suasana sejuk santai. Termasuk kebersihan maupun kerapian ruangan perpustakaan.

Siapa betah berlama-lama berada di sebuah perpustakaan yang terkesan gelap, pengap, panas, dan berdebu. Buku-buku belum tertata alias berantakan ditambah pustakawannya terkadang menunjukkan sikap kurang ramah ketika dimintai tolong. Gambaran seperti itu jelas menimbulkan penilaian buruk terhadap perpustakaan. Semua mesti diatur kembali agar masyarakat tidak lantas berpandangan negatif.

Perpustakaan tergolong maju dan berkembang pasti sudah bagus sistem pengelolaannya. Begitu juga menyangkut aspek kenyamanan ruang/gedung, desain interior, sistem layanan ataukah suasananya. Apalagi kalau koleksi beragam dan jumlahnya cukup banyak. Baik buku teks, majalah, surat kabar, karya ilmiah, koleksi pandang dengar, sampai koleksi digital. Pencurian koleksi jarang terjadi karena keamanan perpustakaan relatif terkondisikan. Selain itu tersedia tempat penyimpanan (locker) barang. Perpustakaan memang seharusnya menyediakan fasilitas dan layanan menyenangkan.

Berbasis Masyarakat
Kesan berbeda terhadap layanan perpustakaan tentu dirasakan setiap orang. Kita dapat membandingkan satu perpustakaan dengan perpustakaan lainnya, misalnya perpustakaan perguruan tinggi. Umumnya perpustakaan perguruan tinggi telah tertata sedemikian rupa dan terjaga keamanan serta kenyamanannya.

Garis besarnya kondisi dan suasana perpustakaan membuat betah siapapun. Di samping sudah lebih baik, koleksinya cukup menjanjikan sesuai kebutuhan. Koleksi digital maupun perangkat teknologi informasi pendukungnya tersedia. Pemustaka bisa berselancar di dunia maya menggunakan layanan akses internet wifi gratis.

Tak hanya perguruan tinggi, keberadaan perpustakaan umum kabupaten/kota, perpustakaan desa, hingga perpustakaan sekolah yang dikelola secara baik hingga memberikan kenyamanan cukup lumayan pula jumlahnya. Pustakawannya ramah dan sering membantu setiap kebutuhan pemustaka. Bukan sekadar menunjukkan letak sebuah koleksi, tetapi pustakawan turut mendampingi dan membimbing pemustaka sampai menemukan informasi yang dicarinya. Pustakawan aktif berdedikasi tinggi selalu menyajikan pelayanan terbaiknya.

Kondisi di atas mestinya bisa dilakukan oleh semua perpustakaan tanpa kecuali. Perpustakaan tak ubahnya tempat rekreasi yang sifatnya edukatif untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa. Itulah fungsi perpustakaan sebagaimana diamanatkan undang-undang. Karenanya perpustakaan terus berbenah memaksimalkan fungsi-fungsi tersebut. Bila mungkin dilakukan standardisasi, baik Standar Nasional Perpustakaan (SNP), terakreditasi, hingga ISO atau standar internasional.

Lain halnya dengan perpustakaan berbasis masyarakat atau taman bacaan, mayoritas sering menghadapi kendala berupa pendanaan (anggaran operasional). Begitu pun sumber daya manusia untuk mengelolanya sangatlah terbatas. Namun jika ada dukungan berbagai pihak, maka potensi pengembangan taman bacaan cenderung membaik. Kerja sama semacam kemitraan merangkul instansi/lembaga yang punya perhatian terhadap perpustakaan perlu dilakukan. Misalnya perpustakaan daerah, biasanya setiap tahun mengagendakan kegiatan pelatihan dan pendampingan bagi para pengelola perpustakaan. Selain instansi pemerintah, kemitraan juga terbuka bersama sektor swasta serta dunia usaha. Wujudnya bermacam-macam, mulai hibah buku (koleksi), pendanaan, pendampingan, relawan, penyediaan sarana prasarana, fasilitas internet, hingga pembangunan gedung perpustakaannya.

Kita semua berharap perpustakaan semakin konsisten melayani kebutuhan masyarakat. Merupakan tugas kewajiban segenap personil di lingkup internal menjadikan perpustakaan sebagai sebuah tempat menarik, dinamis, nyaman, dan bermanfaat. Sedangkan dukungan pemerintah maupun lembaga-lembaga yang memberikan perhatian khusus pada dunia perpustakaan amat dibutuhkan. Terlebih era milenial seperti sekarang ini dimana sebagian besar layanan perpustakaan memanfaatkan perangkat teknologi informasi. Fasilitas layanan perpustakaan diharapkan mampu mengakomodir serta menciptakan kenyamanan berliterasi masyarakat, terutama generasi muda di zamannya. Akses ruang literasi masyarakat senantiasa ditingkatkan.

*Penulis merupakan pustakawan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bantul