OPINI: Perubahan Iklim dan Kesadaran Ekoliterasi Remaja

Ilustrasi. - Harian Jogja
04 Oktober 2019 05:02 WIB Udi Utomo Aspirasi Share :

Aksi demontrasi pelajar Swedia Greta Thunberg, 16, setiap Jumat di depan gedung parlemen Swedia menjadi viral. Dia menuntut pada para pengambil kebijakan untuk peduli pada perubahan iklim dunia. Aksi Greta ini kemudian menginspirasi remaja-remaja lain di dunia.

Pada Jumat (20/9), melalui gerakan Fridays for Future, ribuan siswa sekolah di 4.500 kota di 150 negara dengan jumlah peserta hingga empat juta orang melakukan aksi turun ke jalan menuntut suatu tindakan nyata dari dunia pada ancaman perubahan iklim.

Fenomena perubahan iklim dari waktu ke waktu makin terasakan dampaknya. Maka perlu adanya suatu tindakan nyata yang masif dari semua kalangan. Termasuk suara dari kalangan remaja (siswa sekolah) menekan para pemimpin dunia untuk peduli pada perubahan iklim.

Ini karena masih belum adanya respon yang memadai dari para pemimpin negara terhadap fenomena perubahan iklim. Pembangunan ekonomi negara terutama di negara-negara berkembang belum berorientasi pada pembangunan berkelanjutan. Pembangunan negara masih mengandalkan pada bahan-bahan yang tidak ramah lingkungan seperti bahan bakar fosil. Bahan dengan kandungan karbon dioksida yang memiliki andil besar pada perubahan iklim.

Padahal, lebih dari 15 tahun, pemimpin negara-negara bersepakat untuk menahan naiknya suhu global. Di mulai dari Konferensi Stockholm (1972), Pertemuan Puncak Rio (1992), Protokol Kyoto (1997), hingga terakhir Kesepakatan Paris (2015). Pada Kesepakatan Paris, dunia menargetkan menahan kenaikan suhu global di bawah dua derajat Celcius.

Jika perubahan iklim tidak mendapat penanganan dan antisipasi. Ancaman bencana sudah ada di depan mata. Menurut World Meteorological Organzation (WMO) mengungkapkan rata-rata temperatur dunia meningkat 0,98 celcius. Pemanasan ini bisa mencairkan es di kutub dan membuat permukaan air laut naik. Berdasar draf laporan Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), jika pemanasan global bisa ditekan sampai dua derajat Celcius pun, permukaan air laut naik 0,5 meter. Ini akan menjadikan sebagian kota di tepi pantai bakal tenggelam dan diperkirakan 280 juta penduduk akan kehilangan tempat tinggal. Lalu bagaimana jika kenaikan suhu global melebihi dua derajat Celcius?

Selain itu, kini 11 persen populasi dunia atau setara 800 juta orang rentan mengalami dampak perubahan iklim seperti kekeringan, banjir, gelombang panas, dan cuaca ekstrem. Dampak ini sudah terlihat pada bulan Juli lalu, di mana sebanyak 1.500 orang di Prancis tewas akibat gelombang panas.
Kini saatnya, semua kalangan masyarakat dan negara-negara bertindak nyata untuk mengantisipasi perubahan iklim. Jika terus menundanya maka dampak perubahan iklim akan makin komplek dan dunia akan kesulitan untuk menanggulanginya.

Kecerdasan Ekologis
Ternyata tindakan seorang siswa sekolah seperti Greta ini dapat menghentak dunia. Ini artinya suara dari kalangan yang mungkin sebelumnya dianggap tidak berarti dapat menyadarkan dunia akan adanya persoalan serius terhadap kelestarian Bumi.

Meski tidak harus dengan aksi unjuk rasa. Kini saatnya, sekolah (kalangan siswa) dapat berbuat lebih untuk ikut andil dalam menyelamatkan keletarian Bumi. Sekolah dapat berperan aktif untuk menumbuhkan ekoliterasi (literasi lingkungan) yaitu suatu kemampuan berupa kesadaran peduli lingkungan.

Untuk mencapai tujuan tersebut, membutuhkan suatu pendekatan pembelajaran alternatif. Penumbuhan kesadaran lingkungan peserta didik dapat menggunakan pendekatan ekopedagogik. Menurut Goleman (dalam Supriatna, 2016) mengartikan ekopedagogik sebagai sebuah pendekatan dalam pembelajaran dengan strategi pembelajaran yang didasari oleh pengetahuan, kesadaran, keterampilan, dan empati pada semua bentuk kehidupan di muka Bumi serta ikut menjaga kelestarian bumi sebagai tempat bagi semua mahluk hidup.

Ekopedagogik merupakan pendidikan transformatif yaitu pendidikan yang menjadikan kurikulum praksis sebagai pembelajaran. Guru dapat mendekontruksi kelas konvensional menjadi suatu proses pembelajaran yang memberi peluang kepada peserta didik untuk menghubungkan materi pelajaran (kurikulum yang berlaku) dengan sistem lingkungan seperti sistem ekologi, sistem budaya, sistem ekonomi dan semua aspek yang berada di luar kelas.

Guru berperan mengembangkan kurikulum dengan isu-isu lingkungan di sekitar kehidupan peserta didik. Persoalan lingkungan seperti sampah di sungai dekat sekolah, limbah industri rumah tangga di dekat sekolah, penambangan pasir di dekat sekolah dan isu lingkungan lokal menjadi laboratorium belajar siswa.

Pembelajaran kontekstual seperti ini jauh bermakna bagi siswa. Sehingga siswa tidak hanya sebatas menguasai pengetahuan (kognitif) tetapi memiliki pula kesadaran (afektif), dan tindakan nyata (psikomotorik). Ujungnya keberhasilan pembelajaran bukan pada hasil tes tetapi terlihat dari kinerja siswa yang nampak dalam praktik kehidupan sehari-hari yang ramah lingkungan.

Selain dalam pembelajaran, menumbuhkan peduli lingkungan dapat melalui budaya sekolah yaitu suatu kebiasaan-kebiasaan baik yang dilakukan seluruh warga sekolah. Ada beberapa tindakan yang dapat melatih peduli lingkungan seperti membiasakan membawa tempat makan dan minuman dari rumah. Tujuannnya melatih siswa untuk meminimalisir penggunaan plastik, memanfaatan bahan daur ulang untuk menghias kelas, melatih siswa mematikan kran air ketika mencuci tangan, membuat taman kelas, dan mengikutkan siswa pada kegiatan membersihkan pantai dan menanam mangrove.

Adanya kesadaran peduli lingkungan remaja merupakan langkah nyata untuk menghadapi perubahan iklim. Saatnya, kalangan remaja sebagai pemilik planet bumi di masa depan ikut andil dalam melestarikan bumi. Kalau bukan remaja yang peduli, lalu siapa lagi?

*Penulis merupakan guru SMP 5 Pati/Alumnus Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia