Advertisement

OPINI: Menyoroti Fenomena Nongkrong Mahasiswa di Coffee Shop Jogja

Fuad Krisdiantoro, Mahasiswa UNY
Selasa, 07 April 2026 - 18:57 WIB
Maya Herawati
OPINI: Menyoroti Fenomena Nongkrong Mahasiswa di Coffee Shop Jogja Fuad Krisdiantoro, Mahasiswa UNY

Advertisement

Jogja dikenal sebagai kota pelajar dengan dinamika kehidupan mahasiswa yang sangat aktif. Salah satu perubahan yang mencolok dalam beberapa tahun terakhir adalah meningkatnya budaya nongkrong di coffee shop sebagai bagian dari gaya hidup modern.

Pertumbuhan coffee shop di Jogja menunjukkan tren yang sangat pesat. Pada 2018 jumlahnya diperkirakan sekitar 350 kedai, kemudian meningkat menjadi lebih dari 1.100 pada 2024, dan mencapai sekitar 3.500 coffee shop pada 2025.

Advertisement

Lonjakan ini menegaskan bahwa Jogja menjadi salah satu kota dengan perkembangan industri kopi tercepat di Indonesia. Coffee shop kini tidak lagi sekadar tempat menikmati kopi, tetapi telah bertransformasi menjadi ruang sosial alternatif bagi mahasiswa.

Banyak mahasiswa memanfaatkan coffee shop untuk belajar, berdiskusi, mengerjakan tugas, hingga bekerja secara daring.

Fasilitas seperti WiFi, suasana yang nyaman, serta desain interior yang estetik menjadi daya tarik utama. Selain itu, pengaruh media sosial turut memperkuat fenomena ini. Coffee shop dengan konsep instagramable kerap dijadikan lokasi pembuatan konten di platform seperti Instagram dan TikTok, sehingga semakin meningkatkan popularitas dan jumlah pengunjung.

Fenomena ini mencerminkan perubahan perilaku konsumsi mahasiswa yang tidak lagi semata-mata didasarkan pada kebutuhan, tetapi juga dipengaruhi faktor sosial, psikologis, dan tren. Coffee shop menawarkan pengalaman sosial, kenyamanan, sekaligus simbol gaya hidup modern yang membuat mahasiswa merasa lebih produktif dan terhubung dengan lingkungan sekitarnya.

Dari sisi positif, pertumbuhan coffee shop memberikan dampak ekonomi yang signifikan, seperti membuka lapangan kerja dan mendorong berkembangnya ekonomi kreatif. Tidak sedikit mahasiswa yang memanfaatkan peluang ini untuk bekerja paruh waktu sebagai barista atau tenaga kerja di industri kopi.

Namun demikian, fenomena ini juga berpotensi memicu perilaku konsumtif apabila tidak disikapi secara bijak. Mahasiswa dapat mengalokasikan pengeluaran lebih besar untuk gaya hidup dibandingkan kebutuhan utama.

Karena itu, diperlukan kesadaran dalam mengelola keuangan serta kemampuan memanfaatkan coffee shop sebagai ruang produktif, bukan sekadar tempat konsumsi. Di sisi lain, pengelola coffee shop juga dapat berperan dengan menghadirkan kegiatan yang lebih edukatif, seperti diskusi, kelas kreatif, atau forum komunitas.

Fenomena menjamurnya coffee shop di Jogja pada akhirnya menjadi cerminan gaya hidup mahasiswa yang terus berkembang.

Agar tetap memberikan dampak positif, keseimbangan antara fungsi sosial dan kontrol konsumsi menjadi kunci, sehingga coffee shop tidak hanya menjadi ruang berkumpul, tetapi juga ruang produktif yang mendukung perkembangan akademik dan ekonomi kreatif.

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Terkait

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Kemenhaj DIY: Persiapan Haji 2026 Sudah 100 Persen

Kemenhaj DIY: Persiapan Haji 2026 Sudah 100 Persen

Jogja
| Selasa, 07 April 2026, 22:17 WIB

Advertisement

Industri Film Diminta Lebih Cermat Pilih Judul dan Promosi

Industri Film Diminta Lebih Cermat Pilih Judul dan Promosi

Hiburan
| Selasa, 07 April 2026, 14:07 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement