OPINI: Menjual Indonesia

Arif Budisusilo - JIBI/Bisnis Indonesia
05 Januari 2019 07:25 WIB Arif Budisusilo Aspirasi Share :

Dua hari menjelang Tahun Baru 2019, di dalam mobil, saat perjalanan mudik ke kampung halaman di Baturetno, kira-kira 70 km selatan Solo, saya berkesempatan ceramahin Isal,15, anak lelaki kami satu-satunya.

Perjalanan mudik itu sengaja kami lakukan, sekalian menjajal jalan tol Trans-Jawa yang sudah sebagian besar nyambung. Jalan tol Jakarta-Solo yang kami lalui sepanjang lebih dari 500 km adalah bagian tol Trans-Jawa, yang terbentang dari Merak hingga Banyuwangi.

Saat ini, ruas jalan tol yang jadi sudah sampai di Pasuruan, sepanjang 901 km. Jika tuntas seluruhnya, panjang jalan tol Trans Jawa itu mencapai 1.167 km.

Ini adalah kali pertama saya menjajal tol Jakarta-Solo yang sudah sepenuhnya tersambung tersebut. Saat mudik lalu, saya bersama keluarga juga menggunakan mobil di jalur yang sama, tetapi masih berstatus fungsional. Pemerintahan Presiden Joko Widodo baru meresmikan tol tersebut pada 20 Desember lalu.

Jarak Karawaci-Solo sekitar 550 km, kami tempuh kira-kira delapan jam lebih sedikit, dengan dua kali istirahat termasuk makan. Lumayan cepat.

Saya berangkat dari kompleks perumahan di Karawaci sekitar jam 6.30 pagi, sampai Solo kira-kira pukul 15.00 WIB. Selebihnya, kami lama berkeliling Solo berburu kuliner hingga petang hari, sebelum melanjutkan perjalanan ke Baturetno yang sekitar 1,5 jam lagi.

Sebelumnya, saat sebagian rute masih harus melewati jalur Pantura (sebutan untuk jalan raya pantai utara Jawa), perjalanan Jakarta-Solo memakan waktu sekitar 12 jam. Itu kalau tidak macet. Kalau pas macet seperti di akhir pekan libur panjang, apalagi saat Lebaran, Jakarta Solo bisa ditempuh lebih dari 20 jam. Jelas, ini adalah penghematan waktu yang signifikan.

Karena itu, saya bilang ke Isal, anak milenial kami. “Ini yang akan menik­mati adalah kamu dan teman-temanmu nanti, kalau semua ini sudah selesai.”

Mobilitas orang dan barang tentu akan lebih dinamis. Manakala seluruh proyek infrastruktur sudah tuntas, generasi milenial sekarang, dan generasi Z yang akan memasuki usia produktif, merekalah yang akan merasakan hasilnya.

Merekalah yang nanti akan terdampak manfaat positif dari perbaikan akses transportasi ke banyak wilayah di Indonesia. Tidak hanya untuk perjalanan bisnis, distribusi logistik, distribusi pangan, distribusi produk manufaktur, bahkan juga untuk perjalanan wisata. Seperti perjalanan yang kami mulai rasakan saat ini.

Kebetulan, saya mendapatkan testimoni yang sama dari Syarkawi Rauf, mantan Komisioner Komisi Pengawas Persaingan Usaha. Menurut dia, jalan tol yang sudah beroperasi sangat signifikan menurunkan biaya logistik, membuat masyarakat lebih produktif karena waktu tempuh Jakarta-Surabaya berkurang secara signifikan. Ujung-ujungnya, katanya, produktivitas akan menjadi prime mover pertumbuhan ekonomi.

Menurut dia, turisme dipastikan akan meningkat karena kenyamanan berkendara. “Saya semalam baru tiba di Solo bawa mobil sendiri…serasa (perjalanan dari) Bonn ke Düsseldorf,” ujarnya akhir pekan lalu.

Untuk hal ini, pasti saya setuju dengan Syarkawi. Dengan itu, akan lebih mudah menjual potensi ekonomi Indonesia, kepada para investor, dunia usaha, maupun wisatawan mancanegara.

Musim Liburan

Kalau saya mengangkat kisah perja­lanan, karena bulan Desember adalah musim Liburan. Solo dan Jogja, dua kota yang relatif populer untuk tujuan wisata, memang menjadi relatif macet di pekan terakhir Desember kemarin.

Selain memang musim libur anak-anak sekolah, tampaknya kebetulan momentum berbarengan dengan selesainya jalan tol yang menarik minat banyak perantau untuk menjajalnya.

Banyak kerabat dan kenalan yang memang mudik di pengujung tahun itu. Mudik adalah istilah yang dipakai un­­tuk perantau yang bekerja di satu kota, kembali ke kota atau daerah asalnya.

Mungkin pula ada faktor lain yang mendorong banyak orang mudik, terutama dari Jakarta. Kebetulan, salah satu destinasi wisata yang terdekat dengan Jakarta Raya, kawasan Anyer dan sekitarnya, sedang terkena musibah tsunami pada 22 Desember silam. Kawasan Anyer adalah destinasi pantai favorit bagi turis lokal, selain kawasan resor pegunungan di Puncak.

Bencana tsunami yang menewaskan lebih dari 500 orang itu tentu menyurutkan minat banyak orang untuk berkunjung dalam rangka wisata. Turis mengalihkan kunjungannya ke tempat yang lain.

Karenanya, akses jalan yang relatif lebih baik sangat membantu para traveler. Rekan saya bercerita, pada Libur Natal lalu secara spontanitas mengunjungi kawasan Geopark Ciletuh yang indah di selatan Sukabumi.

Dia mengakui perjalanan yang menyenangkan, karena akses tol menuju Sukabumi sebagian sudah bisa dilewati. Lalu jalan akses menuju Geopark Ciletuh juga sudah nyaman.

Maka, dapat diproyeksikan, turisme akan meningkat pesat tatkala nanti seluruh proyek jalan akses terselesaikan. Bukan cuma distribusi logistik, pangan dan produk manufaktur saja. Apalagi, turisme adalah ekonomi masa depan. Turisme adalah “tambang devisa” yang baru. Akses menjadi sangat penting, selain atraksi dan amenity.

Memang, atraksi tentu perlu terus diperbaiki, yakni tujuan wisata dengan aneka nilai lebihnya, termasuk panorama alam dan kekayaan kultural. Amenity juga perlu terus diperbaiki.

Yang dimaksud amenity dalam kon­teks pariwisata adalah fitur atau fasilitas yang diperlukan bagi turis agar lebih betah dan nyaman dalam kun­jungan ke suatu destinasi. Misalnya fasilitas hotel dan penginapan yang ber­sih, ketersediaan toilet publik yang me­madai.

Juga area perbelanjaan yang nyaman, atau tempat makan dan restoran yang standard dan tersertifikasi bagi turis atau fasilitas lain yang memberikan nilai tambah kenyamanan.

Sebaik-baiknya destinasi dan akses menuju destinasi wisata yang bagus, apabila amenity tidak memadai, akan mendiskon citra pariwisata di satu negara. Di banyak tempat di Indonesia, terutama destinasi favorit turis asing, amenity sudah relatif bagus.

Namun di banyak destinasi turis lokal, amenity masih banyak yang memprihatinkan. Hal-hal kecil seperti toilet bersih dan tempat makan, tidak ada standardisasi yang memadai. Juga kepengelolaan oleh pemerintah daerah setempat, yang kadang masih asal-asalan.

Untuk ini, Indonesia perlu banyak belajar dari negara yang menjadi destinasi favorit bagi turis, seperti Jepang, Thailand, Korea Selatan, atau Singapura. Bahkan, kini Vietnam yang berlari di belakang Indonesia, banyak sekali berbenah.

Kebetulan, pada Libur Natal lalu saya sekeluarga berkunjung ke Vietnam. Kunjungan terakhir saya ke Vietnam adalah lima tahun yang lalu. Kesan saya, dalam lima tahun terakhir, Vietnam banyak sekali berbenah.

Bahkan, kini banyak restoran di Vietnam yang menyertakan label “Certified” untuk standar turis, yang tidak hanya bersih dan nyaman, tetapi juga memastikan kesehatan makanan yang diinginkan para wisatawan.

Infrastruktur akses ke destinasi wisata jangan ditanya lagi. Akses menuju Halong Bay, salah satu destinasi terfavorit di Vietnam, kini jalannya mulus dan lebar. Regulasi peme­rintahnya, menurut cerita tour guide kami, juga makin ketat untuk men­jaga kebersihan lingkungan teruta­ma menjaga perairan Halong Bay, yang dikenal sebagai “Raja Ampat”-nya Vietnam.

Indonesia, untuk soal itu, masih memiliki banyak pekerjaan rumah yang menghadang. Belum lagi, begitu banyak destinasi di Indonesia yang belum dikenal di kalangan turis mancanegara.

Saya jadi ingat obrolan di atas Cruise di Halong Bay tersebut, ketika terjadi tsunami Selat Sunda sepekan yang lalu. Bersama beberapa turis dari Rusia, Argentina, Israel dan Guatemala kami menginap dalam satu Cruise saat kejadian tsunami itu.

Apa komentar mereka? “Mengapa kejadian tsunami di Indonesia setiap akhir Desember? Ini membuat kami khawatir untuk datang ke Indonesia.”

Nah, lho. Kalimat itu bagi saya adalah warning, bahwa pemahaman tentang keragaman destinasi turis di Indonesia masih relatif kurang. Padahal, Indonesia tidak hanya memiliki destinasi wisata pantai, tapi juga wisata pegunungan dan aneka wisata budaya.

Kita memiliki begitu banyak atraksi kultural, yang dapat dinikmati dalam jarak begitu luas, bahkan bisa lebih dari 5 jam penerbangan. Dari Sabang sampai Merauke, dan dari Miangas sampai pulau Rote.

Jelasnya, kita perlu lebih gencar menjual Indonesia kepada para turis asing untuk menambang devisa. Namun, masih ada persepsi di kalangan turis mancanegara, bahwa Indonesia tidak sepenuhnya aman karena risiko bencana.

Seakan-akan Indonesia cuma satu spot saja, seperti Singapura. Inilah yang perlu penjelasan ekstra. Nah, bagaimana menurut Anda?

*Penulis adalah Direktur PT Jurnalindo Aksara Grafika & Anggota Dewan Redaksi Harian Jogja.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia