OPINI: Go Public dan Disiplin Pasar

Ilustrasi. - Bisnis Indonesia/Felix Jody Kinarwan
07 Februari 2019 08:00 WIB Totok Budisantoso Aspirasi Share :

Mencermati pemberitaan ekonomi di media massa, ada kelekatan erat kinerja perekonomian dengan kondisi di pasar modal. Eksistensi pasar modal dalam perekonomian modern sudah tidak dapat dielak. Pasar modal dapat menjadi salah satu alternatif utama pengembangan ekonomi.

Keberadaannya yang bertumbuh dengan pesat membuktikan bahwa pasar modal menjadi semakin signifikan terutama dalam menjawab kebutuhan perusahaan dalam permodalan. Pasar modal menjadi wahana bertemu antara entitas usaha dengan masyarakat yang berpartisipasi dengan menginvestasikan dana melalui serangkaian instrument investasi dengan pemerintah berperan sebagai wasit dalam menciptakan stabilitas politik dan hukum, stabilitas iklim investasi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa akhirnya pasar modal menjadi indikator keberhasilan perekonomian. Untuk dapat memahami dengan komprehensif, perlu diulas bagaimana dinamika yang terjadi di pasar modal yang melibatkan berbagai pihak.

Ketika perusahaan melakukan go public, dapat dimaknai bahwa perusahaan tersebut siap terbuka kepada publik dengan target kepercayaan dari masyarakat, investor dan calon investor. Kepercayaan yang diperoleh dari publik akan memberikan posisi positif di mata investor dan calon investor ketika perusahaan akan menghimpun dana dalam rangka ekspansi maupun diversifikasi usaha. Ada dua kata kunci di sini, keterbukaan dan kepercayaan. Keterbukaan dalam hal informasi tidak dapat dilepaskan dari rerangka regulasi yang harus dipatuhi oleh para emiten.

Selain keterbukaan informasi (full disclosure), emiten juga wajib memenuhi serangkaian peraturan pasar modal. Gaya manajemen yang dipilih juga mestinya akan bergeser dari informal menjadi lebih formal dan tentu saja beban utama untuk mengelola sumber daya perusahaan mengarah pada pertumbuhan yang positif. Hal ini hanya berarti bahwa akses dana ke masyarakat investor berbanding lurus dengan kewajiban sebagai perusahaan publik.

Investor akan selalu bersiaga dengan informasi apapun yang direlease oleh perusahaan emiten. Analis keuangan akan merespons dengan tinjauan tajam kinerja emiten dari berbagai aspek dan menginterpretasikan setiap kebijakan yang diambil oleh manajemen. Tinjauan ini akan menjadi pisau tajam bermata dua. Ketika analisis sampai pada simpulan positif, pasar akan merespon secara produktif tercermin pada pergerakan naik harga saham emiten yang berarti peningkatan nilai bagi para pemegang saham.

Kepercayaan dari para pemangku kepentingan memiliki efek beragam positif bagi perusahaan emiten. Meningkatnya nilai perusahaan dengan pertumbuhan kinerja operasional dan kinerja keuangan umumnya akan mempunyai dampak terhadap citra perusahaan. Citra positif akan menempatkan emiten sebagai entitas penting di mata media, analis maupun komunitas keuangan lainnya. Keuntungannya adalah publikasi yang murah yang juga berarti lingkaran malaekat yang bisa berdampak semakin bagus bagi perusahaan. Citra perusahaan memiliki dampak masa depan yang signifikan karena akan menempatkan perusahaan dalam level yang setara dengan perusahaan-perusahaan lainnya yang menjadi incaran para investor.

Perbaikan Kinerja
Mata publik yang selalu terarah pada target emiten menjadi alat paksa terhadap pengelolaan perusahaan. Terbukti bahwa tekanan dari publik ini memberikan efek positif bagi kinerja perusahaan emiten. Riset Megginson et.al (2007) menyoroti kinerja perusahaan BUMN yang diprivatisasi melalui IPO.

Privatisasi tersebut berdampak positif dengan adanya peningkatan kinerja operasional dan keuangan pasca privatisasi. Riset tersebut secara gambling mengulas adanya disiplin pasar yang menjadi mekanisme perkembangan kinerja tersebut. Mekanisme tersebut terwujud dengan dorongan bagi pengelola perusahaan melalui jendela informasi yang mereka miliki untuk memberikan informasi akurat kondisi perusahaan.

Manajemen memiliki insentif kuat untuk membuat keputusan bisnis yang lebih baik karena disiplin pasar yang tidak bisa dihindari. Setiap kebijakan yang dibuat akan selalu memiliki dampak ke pasar. Disiplin pasar akan selalu menjadi alat yang efektif untuk melakukan pengawasan dengan informasi yang disediakan oleh perusahaan maupun rangkuman informasi yang tersedia dari berbagai sumber lain yang relevan.

Di sisi lain, pihak pengelola harus menciptakan suasana positif dan kondusif kepada para investor di pasar modal. Upaya ini dilakukan demi meyakinkan mereka akan kondisi dan iklim investasi yang ramah dan aman. Perusahaan publik bahkan tak boleh ragu untuk mengungkap data-data keuangan perusahaannya kepada para calon investor untuk menciptakan rasa aman sebelum menginvestasikan dananya. Upaya menjaga kondusivitas pasar juga berarti menyeimbangkan dampak dari makroekonomi yang terjadi. Ketika pemberitaan eksternal mengancam stabilitas pasar yang bahkan dapat berujung pada kepanikan, informasi positif dari emiten dapat menjadi peredam yang efektif untuk mengurangi dampak negatif faktor-faktor eksternal.

Pengelola tentu saja terus mengupayakan untuk perbaikan kinerja secara terus menerus. Dengan hadirnya disiplin pasar, upaya tersebut dapat dimaknai sebagai sebuah upaya dari perusahaan dengan semangat bahwa arahnya tidak semata-mata demi pihak manajemen tetapi upaya tersebut adalah upaya untuk menciptakan nilai yang optimal bagi semua stakeholder perusahaan.

Selalu dibutuhkan pihak yang akan membantu untuk menjembatani kepentingan berbagai pihak terutama manajemen dan investor. Jembatannya adalah public relation unit yang mestinya dibentuk oleh setiap emiten sebagai pihak yang akan mengelola jendela informasi perusahaan. Cutlip et.al (2000) menyatakan: the competitive nature and the profit imperative of business make public relations works extremely demanding. Silakan para emiten merespon secara positif dan para investor mencermati informasi yang akan disajikan dan mari kita lihat hasilnya. Semoga go public yang dilakukan dan disiplin pasar sebagai mekanisme pengawasan berjalan secara efektif.

*Penulis merupakan dosen Program Studi Akuntansi Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta