OPINI: Investasi SBN, Pahlawan Ekonomi Masa Kini

Ilustrasi rupiah - Reuters
14 Februari 2019 08:00 WIB Sang Ayu Putu Piastini Gunaasih Aspirasi Share :

Menteri Keuangan Sri Mulyani melalui akun media Instagram dan Facebook-nya memaparkan kinerja Kementerian Keuangan selama 2018. Dalam postingan tersebut Sri Mulyani mengatakan tugas pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 terbaik sejak 2012. Langkah konkrit yang ditempuh pemerintah untuk memaksimalkan kinerja APBN 2018 adalah dengan menerbitkan Surat Berharga Negara (SBN) melalui Kementerian Keuangan.

Setidaknya Kementrian keuangan pada awal dan pertengahan tahun 2018 telah menerbitkan setidaknya sebanyak empat jenis SBN yaitu Obligasi Republik Indonesia (seri ORI 015), Sukuk Ritel (seri SR 010), Saving Bond Ritel (SBR seri 003 & 004), dan diakhiri Sukuk Tabungan (seri ST 002). Di awal tahun ini, 10 Januari 2019, pemerintah kembali mengeluarkan SBN dengan seri SBR 005. Langkah ini dilakukan sebagai antisipasi terhadap kemungkinan terjadinya defisit APBN 2019 dan juga bertujuan agar masyarakat dapat berpartisipasi aktif dalam pemenuhan APBN sehingga tidak perlu lagi dilakukan melalui skema hutang dari pihak luar.

Sejarah SBN
Krisis ekonomi pada 1997 adalah latar belakang pemerintah menerbitkan sejumlah SBN sebagai upaya penyelamatan sistem perbankan ditengah tingginya angka kredit yang mengalami gagal bayar. Menurut Bank Indonesia, SBN terdiri dari Surat Utang Negara (SUN) dan Surat Berharga Syariah Negara (SBSN).

Menurut Kementerian Keuangan melalui Direktorat Surat Utang Negara dan Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang, SUN adalah surat berharga berupa surat pengakuan utang dalam mata uang rupiah maupun valuta asing (valas) yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya sesuai dengan masa berlakunya. Tujuan dari penerbitan SUN yaitu 1) membiayai defisit APBN, 2) menutupi kekurangan kas jangka pendek, dan 3) mengelola portofolio utang negara.

Pemerintah Pusat berwenang menerbitkan SUN setelah mendapat persetujuan dari DPR yang disahkan dalam kerangka pengesahan APBN dan setelah berkonsultasi dengan Bank Indonesia. Atas penerbitan tersebut, pemerintah berkewajiban membayar bunga dan pokok pada saat jatuh tempo. Dana untuk pembayaran bunga dan pokok SUN disediakan di dalam APBN. Investor tidak perlu cemas pada uang yang diinvestasikan dalam bentuk SUN karena dijamin oleh APBN dan pasti kembali. Dari beberapa seri yang telah diterbitkan di 2018, SBR dan ORI adalah termasuk dalam kategori SUN.

Sementara SBSN (biasa disebut Sukuk Negara) adalah SBN yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah, sebagai bukti atas bagian penyertaan terhadap aset dalam bentuk rupiah maupun valas. Sukuk tabungan dan sukuk ritel termasuk kategori SBSN. Sesuai namanya (syariah), sukuk tidak mengandung unsur maysir (judi), gharar (ketidakjelasan), dan riba (usury).

Sukuk juga menggunakan struktur akad wakalah (mewakilkan/mendelegasikan pekerjaan kepada orang lain agar bertindak atas nama orang yang mewakilkan selama batas waktu yang ditentukan. Dana dari investor digunakan untuk kegiatan investasi berupa pembelian hak manfaat barang milik negara dan untuk pengadaan proyek untuk disewakan kepada pemerintah. Imbalan yang dapat berasal dari keuntungan hasil kegiatan investasi tersebut. Sukuk tabungan (ST) dan sukuk ritel (SR) adalah termasuk dalam katagori SBSN.

Ditengah maraknya investasi bodong, pemerintah juga memfasilitasi bagaimana agar generasi milenial tertarik untuk berinvestasi. Sejak 2018, pemerintah mengeluarkan SBN ritel online sehingga investor tidak lagi harus datang ke agen-agen penjual. SBN ritel online ini diharapkan memperkuat basis investor ritel domestik. Data dari Kementerian Keuangan menyebutkan, nilai dan porsi kepemilikan asing di SBN per November 2018 menyebutkan tidak lebih dari 740 triliun atau kurang dari 38% dari total SBN yang didistribusikan, sisanya dialokasikan untuk para investor domestik.

Untuk keperluan pendistribusian SBN, pemerintah telah bekerjasama dengan 11 mitra distribusi penyalur (midis) SBN ritel. Secara online investor bisa mengunjungi halaman web Tanamduit, Investree, Bareksa, Modalku dan Trimegah. Secara offline bisa mengunjungi bank seperti BRI, BCA, BTN, Mandiri, BNI, dan Permata. Dengan menggandeng mitra distribusi online atau lebih dikenal dengan sebutan peer to peer lending marketplace (P2P), warga negara Indonesia yang berdomisili di luar negeri pun bisa memesan SBN. P2P juga terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Pahlawan Ekonomi
Rencananya, sepanjang tahun 2019, pemerintah akan menerbitkan 10 kali SBN ritel. Dari jumlah tersebut baik SUN dan SBSN masing-masing terbagi dalam lima kali penerbitan. Di awal tahun 2019, 10 Januari 2019, peluncuran SBN diawali dengan diterbitkanya SBR005. SBR005 merupakan kelanjutan dari seri-seri SBR yang sebelumnya telah diterbitkan di tahun 2018 yaitu SBR003 dan SBR004.

Sama seperti seri-seri sebelumnya, minimum pemesanan SBR005 sebesar Rp1 Juta dan maksimum ditetapkan sebesar Rp3 miliar. Bahkan yang ingin memesan Rp 1 juta maupun Rp3 miliar mempunyai kesempatan yang sama, alias siapa cepat dia dapat. Pemerintah telah merencanakan pada bulan Februari hingga Mei berturut-turut akan menerbitkan seri ST, SR dan SBR, dan pada bulan Juli hingga November akan menerbitkan SBR dan ST.

Pembelian e-SBN melalui midis online memberi dampak cukup besar. Dilansir di web Kemenkeu, dari penjual sukuk tabungan (ST 002) terakhir di tahun 2018, dari 16.447 investor, generasi milenial mendominasi sebesar 44,61% atau sebanyak 7.350 investor. Generasi milenial ini lahir antara tahun 1980 – 2000 dengan rentang usia saat ini antar 18 hingga 38 tahun. Dapat dikatakan bahwa dari sisi volume pembelian dikuasai oleh kelompok baby boomer. Pasar keuangan akan menjadi lebih stabil jika investor didominasi oleh masyarakat di negara tersebut.

Pada 1 Februari 2019 pemerintah sudah menerbitkan ST seri 003. Masa penawaran ST 003 sampai dengan 20 Februari 2019. Inilah bentuk kedaulatan ekonomi dengan mengupayakan pembiayaan dari lokal, bukan asing. Alangkah bahagianya, jika Indonesia bisa mewujudkan cita-cita kemandirian dalam membiayai pembangunan. Memiliki masyarakat yang mau bersama-sama bahu-membahu membangun negeri untuk kehidupan yang lebih baik dari generasi ke generasi.

Investasi di SBN tidak pernah mengiming-imingi keuntungan yang tidak wajar. Di sisi lain, SBN sering dianggap sebelah mata karena return yang dianggap lebih kecil di mana SBN menawarkan return berkisar diangka 8% dibandingkan dengan investasi bodong yang mengiming-imingkan return yang cukup fantastis namun tidak jelas. Oleh karena itu, kita adalah generasi yang bertanggung jawab menyerap SBN, demi masa depan kita sendiri. Selamat berinvestasi di SBN!

*Penulis merupakan dosen Program Studi Akuntansi Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta