Advertisement
OPINI: Mengurai Krisis Air Bersih di Gunungkidul
Ilustrasi. - Reuters/Mike Hutchings
Advertisement
Air merupakan kebutuhan hidup setiap manusia karena dalam tubuh manusia terdiri dari setidaknya 60%-70% air. Dengan kadar air yang tinggi didalam tubuh, maka setiap manusia memerlukan untuk mengkonsumsi air setidaknya dua liter air dalam sehari, selain itu untuk segala aktivitas manusia juga memerlukan air, misalnya untuk mandi, memasak ataupun mencuci.
Apabila jumlah kebutuhan air tidak terpenuhi, maka tubuh akan mengalami dehidrasi dan metabolisme tubuh juga akan terganggu. Melihat pentingnya air dalam kehidupan manusia, menjadikan air sebagai salah satu hak asasi manusia yang harus terpenuhi. Namun pada kenyataannya, saat ini beberapa daerah masih mengalami kesulitan air bersih. Salah satu contohnya adalah daerah Gunungkidul.
Gunungkidul yang terkenal karena keindahan pariwisata alamnya, ternyata memiliki sisi kelam bahwa sampai saat ini, beberapa daerah di Gunungkidul masih kesulitan air bersih. Bahkan pada tahun 2018 silam, ada sebanyak 96.523 warga Gunungkidul masih mengalami krisis air bersih. Krisis air bersih di Gunungkidul kebanyakan terjadi di 11 kecamatan, yakni kecamatan Purwosari, Panggang, Tepus, Rongkop, Sidoarjo, dan Girisubo.
Advertisement
Salah satu penyebab krisis air yang terjadi di Gunungkidul adalah tidak tersedianya fasilitas distribusi air yang memadai. Sumber air yang tersedia di Gunungkidul terletak pada daerah bawah Gunungkidul sehingga untuk dapat menarik sumber air tersebut dan mendistribusikannya ke daerah atas, dibutuhkan biaya besar, mengingat mahalnya listrik yang harus dikeluarkan untuk memompa air. Hal ini menjadi kendala karena seringnya terjadi kesalahpahaman antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat.
Alokasi dana dari pemerintah pusat kurang sedangkan pemerintah daerah tidak menganggarkan dana untuk pendistribusian air. Akibatnya distribusi air terhambat sehingga beberapa wilayah di Gunungkidul menjadi krisis air. Air tanah yang terdapat di Gunungkidul sendiri juga telah banyak dilaporkan bahwa banyak mengandung kapur sehingga beberapa saat setelah direbus, air menjadi keruh kembali.
Jual Ternak
Terjadinya krisis air bersih dan tidak mendukungnya kondisi air tanah, membuat warga Gunungkidul mau tidak mau harus membeli air PDAM dengan harga yang cukup tinggi. Warga Gunungkidul membeli air pertangki dengan kapasitas antara 5.000-7.000 liter dengan harga mulai dari Rp.150.000,00 hingga Rp.350.000,00 tergantung dari akses jalan yang ditempuh. Semakin jauh dan susah untuk ditembus oleh truk air, harga akan semakin meningkat, sehingga untuk dapat menikmati air bersih, beberapa kepala keluarga harus “patungan” bersama.
Padahal, air sejumlah 5.000 liter saja apabila dipakai oleh satu keluarga besar (ayah, ibu dan dua orang anak) dengan rata-rata pemaikaian perorang sebesar 60 liter, hanya cukup sampai 2-3 minggu. Sehingga apabila untuk memiliki air bersih secara “patungan”air sebanyak 5.000 liter tentu tak mampu mampu bertahan sampai dengan tiga minggu. Dengan tingginya harga yang harus dibayar untuk mendapatkan akses air bersih, pengeluaran warga Gunungkidul semakin melonjak.
Bahkan di Gunungkidul saat ini dikenal dengan istilah ternak makan ternak yang mana melalui istilah ini mengandung cerita yang sampai saat ini masih berlangsung di Gunungkidul. Warga Gunungkidul sampai saat ini menjadikan ternak sebagai harta cadangan mereka. Ketika membutuhkan uang untuk membeli pakan ternak, mereka menjual ternak tersebut. Begitupun juga ketika mereka kekurangan air bersih, untuk dapat membeli air bersih, tak jarang banyak warga yang rela menjual ternak mereka. Saat para warga Gunungkidul memiliki dana yang lebih, mereka lebih memilih untuk menginvestasikan harta mereka dengan membeli hewan ternak. Sedangkan bagi warga yang memiliki perekonomian dibawah dan tak memiliki hewan ternak untuk dijual, selain berhemat, terkadang mereka masih menggunakan air yang sebenarnya jauh standar baku mutu yang tentunya beresiko besar bagi kesehatan tubuh.
Dalam penanganan kasus ini, baik pihak pemerintah maupun pihak swasta telah melakukan berbagai cara seperti pembuatan sumur-sumur baru dibeberapa daerah, pembangunan PDAM swasta, dan juga pembangunan Baron Technopark yang berperan dalam desalinasi air laut menjadi air bersih.
Pemerintah daerah Gunungkidul telah membuka kesempatan bagi sektor-sektor PDAM swasta untuk menyediakan air bersih bagi warga Gunungkidul. Namun pada kenyataannya di Gunungkidul saat ini, masih banyak warga yang sulit mendapatkan air bersih dan bahkan harus merogoh kocek yang tidak sedikit akbat mahalnya air PDAM. Sementara itu, harga air yang mahal juga tidak sebanding dengan kualitasnya. Menurut beberapa penelitian yang telah dilakukan, air PDAM yang terdapat di Gunungkidul sendiri kurang memenuhi standar baku mutu.
Pekerjaan Rumah
Pada saat musim hujan, air PDAM menjadi berwarna keruh dikarenakan tidak adanya pengolahan air lebih lanjut oleh pihak PDAM, mengingat kebutuhan biaya yang cenderung mahal untuk dapat melakukan pengolahan lebih lanjut. Tanpa adanya pengolahan lebih lanjut, tak jarang pada beberapa sumber PDAM yang ada di Gunungkidul, ketika dianalisis kadar coliformnya 55% melebihi baku mutu air bersih serta pH yang 65% juga melebihi baku mutu. Memang sejak 2010 silam, telah dibangun “Baron Technopark” yang juga turut berperan menyediakan air bersih bagi masyarakat Gunungkidul melalui program desalinasi air laut menjadi air tawar. Namun sayangnya, kapasitas air bersih yang saat ini berhasil disediakan oleh Baron Technopark baru mencapai 10.000 liter per hari yang mana angka ini masih jauh belum mencukupi kebutuhan air seluruh warga Gunungkidul.
Permasalahan mengenai keterbatasan air bersih yang terjadi di Gunungkidul menandakan sebenarnya hak warga belum terpenuhi. Padahal menurut Undang-Undang No.122/2015 mengenai sistem penyediaan air minum, sebagai bentuk dari tanggung jawab pemerintah dalam pemenuhan penyediaan air minum dibentuk SPAM (Sistem Penyediaan Air Minum). Sesuai dengan asas Desentralisasi yang dianut Indonesia, SPAM dapat dibentuk oleh setiap pemerintah daerah dalam rangka pemenuhan hak rakyat atas air minum. Kinerja SPAM Gunungkidul yang telah terealisasi salah satunya adalah dengan membuat sistem perpipaan yang dapat menyalurkan air dari sumber ke rumah-rumah warga. Namun pada kenyataannya sistem distribusi air masih belum merata yang menandakan kinerja dari SPAM Gunungkidul masih belum optimal.
Karena itu, permasalahan krisis air bersih di Gunungkidul menjadi pekerjaan rumah tersendiri bagi pemerintah untuk dapat meningkatkan kembali kinerja dalam pemenuhan hak rakyat atas air minum. Gunungkidul yang mulai meningkatkan perekonomian daerah lewat pariwisatanya, tak seharusnya mengalami krisis air bersih. Apabila pariwisata saja dapat dikembangkan dengan baik, maka seharusnya begitu-pun juga dengan pengelolaan airnya. Pemerintah daerah harus menganggarkan dana lebih untuk ketersediaan air bersih warga, mengingat kemajuan pariwisata Gunungkidul yang tentunya berdampak pula pada peningkatan pemasukan anggaran daerah.
Selain itu perlu juga dikembangkan tenaga-tenaga pembangkit listrik dengan tenaga surya ataupun angin, sehingga dapat menekan pengeluaran untuk listrik pompa. Namun hal ini tidak akan berhasil apabila hanya melalui kerja dari sebelah pihak, yakni pihak pemerintah, melainkan warga Gunungkidul juga dapat ikut membantu memerangi krisis air bersih yang terjadi. Keikutsertaan warga Gunungkidul dapat dimulai dengan melakukan penghematan air. Penghematan air bukan hanya berarti mengurangi frekuensi penggunaan air namun juga bisa dilakukan dengan menggunakan kembali.
Selain itu warga juga dapat membuat waduk-waduk penampungan air sederhana yang dapat dibuat dengan terpal atau hal lain untuk menampung air hujan, sehingga pada saat musim kemarau tiba, mereka memiliki cadangan air. Namun untuk menggunakan air bekas bak penampungan tersebut, warga juga tetap harus melakukan pengolahan air tersebut agar terhindar dari penyakit yang disebabkan oleh sanitasi air yang buruk.
*Penulis merupakan mahasiswi Bioteknologi Universitas Kristen Duta Wacana
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Tangis Pecah Saat Jenazah Prajurit TNI Tiba di Kulonprogo
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement








