OPINI: Menyemai Kreativitas Generasi Milenial

Ilustrasi generasi milenial. - techcrunch.com
24 April 2019 08:07 WIB Satwika Ganendra Aspirasi Share :

Di tengah gegap gempita pelaksanaan Revolusi Industri 4.0. Harapan pemerintah tidak lagi semata-mata kepada perusahaan yang mapan namun mengedepankan entrepreneurship, geliat industri kecil, startup serta kreativitas warga.

Alasan tersebut bisa dipahami. Apabila fondasi ekonomi belum cukup kuat, maka daya saing bangsa justru berada di tangan warga yang kreatif, inovatif, memiliki kemandirian. Terlebih lagi bagi Indonesia yang memiliki potensi ketenagakerjaan yang besar.

Multiplier effect dari penyediaan infrastruktur yang sedang dibangun pemerintah, perlu dimanfaatkan untuk membangun tumbuhnya kesejahteraan masyarakat. Sekadar contoh, pengoperasionalan Yogyakarta International Airport (YIA) berimbas pada pergerakan roda ekonomi masyarakat Temon, Kulonprogo khususnya dan DIY pada umumnya.

Bukankah kini mulai banyak warung kelontong, rumah makan, penginapan dan penyediaan berbagai kebutuhan karyawan proyek yang dibuka sepanjang jalan antara Wates dan ke Purworejo. Sudah tentu semua itu adalah prakarsa dari warga yang mampu melihat peluang lantaran adanya proyek pembangunan.

Dampaknya bukan semata untuk pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat DIY, tetapi juga merambah Magelang serta Purworejo, lantaran akan terbuka peluang ekonomi yang bertali temali antara keberadaan YIA di Kulonprogo, Candi Borobudur di Magelang serta objek wisata lainnya.

Kreativitas dan Kewirausahaan
Kalau kita perhatikan, tidak keliru adagium yang mengatakan bahwa hardware yang bagus tanpa dukungan software yang andal, tidak akan punya makna apapun. Demikian pula pembangunan saat ini. Tanpa inisiatif, kreativitas dan inovasi masyarakat, maka pembangunan infrastruktur tidak optimal pemanfaatannya.

Lantas, siapa yang patut menginisiasi kreativitas serta inovasi? Tentu bukan inisiatif dari Pemerintah semata, melainkan kesadaran kolektif seluruh masyarakat. Kendati tidak bisa dinafikan bahwa kreativitas, terkait langsung dengan birokrasi pemerintahan. Peran pemerintah adalah mengawali deregulasi dan penyempurnaan peraturan yang menghambat kewirausahaan dan daya saing masyarakat.
Apabila dibanding banyak negara, ternyata daya saing Indonesia masih tertinggal.

Antara lain lantaran proses dan prosedur perizinan usaha masih berbelit serta biaya logistik yang mahal. Realitas itu mengindikasikan bahwa sistem birokrasi, belum mengikutii peraturan dan perundangan yang ramah ekonomi serta efisien.

Pemerintah perlu responsif dalam menyerap aspirasi kreatif, dan mendorong daya saing mulai penciptaan produk sampai pemasarannya. Pendek kata, bagaimana membentuk masyarakat adaptif terhadap tantangan di era disruptif ini.

Peranan Generasi Milenial
Dengan melejitnya tuntutan Revolusi Industri 4.1, diharapkan lahir generasi yang tidak gaptek alias gagap teknologi. Selain itu juga dibutuhkan yang berpendidikan cukup serta akrab dengan teknologi digital. Maka optimisme dan tumpuan harapan ditujukan pada Genersi Y atau lazim disebut Generasi Milenial.

Disamping itu, dalam persaingan kerja yang dahsyat, maka kreativitas dan inovasi lebih bertumpu pada generasi milenial. Kendati hal tersebut tidak berarti bahwa generasi tua terpinggirkan, namun peranan generasi sebelumnya, yaitu baby boomers adalah mentoring dibidang pengalaman dan kebijakannya.

Seperti kita ketahui, generasi milenial adalah generasi yang terlahir antara tahun 1980 sampai dengan 1999, saat ini telah menunjukkan eksistensi dalam blantika perekonomian. Mereka mulai memainkan peran dalam mengubah peta bisnis di Indonesia.

Tidak hanya faktor genetik tetapi juga lantaran tuntutan sosial, generasi yang berusia antara 17 sampai 36 tahun cenderung menunjukkan ciri dan gaya tidak birokratis, kreatif dan inspiratif. Pada umumnya perilaku kerja generasi milenial dibangun dengan ketrampilan interpersonal yang kuat, enthusiasm dan kelenturan berkolaborasi.

Jika selama ini masih ada keluhan pengusaha terhadap panjangnya birokrasi, lantas melakukan tindakan instan yaitu gratifikasi agar upayanya berhasil dalam waktu singkat, maka generasi milenial diharapkan enggan berkolusi. Karena umumnya generasi milenial punya pendidikan cukup baik, menguasai teknologi informasi dan memahami aspek hukum.

Dan bukan hanya sekadar contoh untuk pembangunan YIA di Daerah Istimewa Yogyakarta saja, tetapi secara umum dibutuhkan generasi milenial dengan pemahaman yang utuh, sehingga kreativitas, inovasi, business landscape, pelaksanaan Good Governance serta Business Ethics dapat berjalan baik. Sekaligus sukses mengangkat derajad dan martabat bangsa Indonesia di mata dunia.

*Penulis merupakan Psikolog Industri