OPINI: Berpikir Indonesia, Bocah Angon dan Keutuhan Indonesia

Ilustrasi. - Solopos/M. Ferri Setiawan
24 April 2019 07:07 WIB Ahmad Kholikul Khoir Suara Mahasiswa Share :

Pada 17 April 2019, elemen masyarakat telah berbondong-bondong menuju tempat pemungutan suara (TPS) untuk menunaikan haknya dalam memilih pasangan calon presiden dan wakil presiden yang akan menentukan nasib bangsa dan negara Indonesia pada lima tahun mendatang.

Dalam setiap kontestasi apapun terdapat pihak yang menang dan terdapat pihak yang kalah, begitupula dalam kontestasi politik yang telah dilaksanakan. Namun, pihak yang kalah terkadang tidak terima akan kekalahanya, karena merasa telah dicurangi pada saat proses pemilihan tersebut. sehingga kemudian melaporkanya kepada Mahkamah Konstitusi (MK) untuk diberikan keadilan, bahkan sampai mengancam akan terjadi people power.

Bagi penulis, tindak mengancam dan melaporkan seperti itu sangat tidak perlu untuk dilakukan, karena telah diketahui bahwa Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) merupakan badan Independen yang tidak dapat di intervensi oleh pihak manapun, bahkan tidak mungkin melakukan kecurangan.

Tragisnya, secara tidak langsung tindakan tersebut juga dapat memicu kondisi distrust (rasa ketidak percayaan) masyarakat pada Badan milik negara tersebut, karena setiap ada Pemilu selalu terdapat pihak yang meragukan netralitas KPU. Kondisi seperti ini sangatlah riskan bagi keutuhan Indonesia, karena jika kondisi tersebut terjadi pada masyarakat Indonesia, maka dikhawatirkan akan berlanjut pada kondisi berikutnya yaitu disobedient (pembangkangan), dan kemudian yang paling dikhawatirkan adalah terjadinya disintregasi pada negara Indonesia, sehingga timbulah gerakan-gerakan separatis yang sangat membahayakan keutuhan Indonesia.

Maka perlu adanya kerendahan hati untuk menerima kekalahan pada setiap kontestasi politik, sehingga kondisi yang demikian riskan tidak terjadi pada bangsa ini. Karena bagaimanapun dalam kontestasi politik, bukanlah seperti kontestasi tinju yang mencari siapa yang menang dan siapa yang kalah, namun sebuah kontestasi yang akan menentukan nasib rakyat Indonesia kedepanya.

Perlu adanya kerendahan hati pada semua golongan, parpol yang tidak terpilih, karena siapapun pihak yang terpilih menjadi presiden adalah putra terbaik Indonesia yang berniat akan bekerja dengan baik bagi kemajuan Indonesia.

Figur Bocah Angon
Sebaliknya, bagi pihak yang terpilih menjadi presiden agar tidak lagi melihat antara golongan pemilih dan bukan pemilih atau antara siapapun, namun presiden terpilih harus menjadi seorang pemimpin yang mempunyai jiwa bocah angon. Bocah angon adalah suatu bentuk figur yang disebutkan oleh Sunan Kalijaga dalam syairnya yang berjudul Lir-Ilir, dimana salah satu penggalan liriknya berbunyi bocah angon, bocah angon, penekno blimbing kui.

Oleh Cak Nun, Bocah Angon (Anak Gembala) ditafsirkan sebagai seorang figur yang mempunyai daya kesanggupan untuk ngemong semua pihak, determinasi yang menciptakan garis resulthan kedamaian bersama, pemancar kasih sayang yang dibutuhkan oleh semua warna, semua golongan, dan semua kecenderungan. Bocah angon adalah pemimpin nasional, bukan tokoh golongan atau pemuka suatu gerombolan.

Pada saat ini, figur pemimpin seperti itulah yang dibutuhkan Indonesia, yaitu figur yang sudah tidak lagi berpikir mengenai apa parpolnya, siapa pendukungnya, siapa yang membiayainya, namun harus selalu berpikir bagaimana nasib seluruh warga negara Indonesia kedepan. Jikalau masing-masing pihak pengusung telah mempunyai cara berpikir demikian, maka keamanan dan keutuhan negara akan tetap solid dan tetap terpelihara.

*Penulis merupakan mahasiswa Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi dan Ilmu Sosial Budaya Universitas Islam Indonesia