OPINI: Cyber Society dan Pesona Wisata Daerah

Pegawai sedang bersiap membuka stan Galeri UMKM Pemda DIY di Bandara YIA pada Senin (29/4/2019). - Harian Jogja/Fahmi Ahmad Burhan
08 Mei 2019 07:07 WIB Satwika Ganendra Aspirasi Share :

Pada dasarnya pariwisata adalah proses industrialisasi, sama-sama merajut daya tarik masyarakat domestik maupun mancanegara, baik jangka pendek maupun lama. Dibangunnya bandara bernama Yogyakarta International Airport (YIA), maka geliat wisata maupun industrialisasi di Kabupaten Kulonprogo DIY berkembang pesat.

Sebagaimana dikabarkan, Pemerintah telah membuka kemungkinan YIA digunakan untuk penerbangan domestik. Apabila YIA digunakan untuk 50 kali take off-landing pesawat setiap harinya, dengan kapasitas satu pesawat mengangkut 200 penumpang, maka YIA setiap hari bisa melayani sekitar 5.000 penumpang.

Sudah tentu, realitas tersebut adalah ceruk pasar industri dan pariwisata yang potensial bagi DIY dan daerah di sekitarnya. Dalam bentuk UMKM, industri rumahan seperti warung kelontong, rumah makan, usaha pernik-pernik suvenir daerah ataupun yang berskala besar, seperti pabrik, perhotelan, vila atau resort di berbagai objek wisata.

Teknologi Informasi
Selain persiapan infrastruktur yang dibangun pemerintah, maka di era Revolusi Industri 4.0 pemerintah serius memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi. Bukan semata kebutuhan bisnis dan perusahan start-up tetapi juga pengawasan birokrasi pemerintahan itu sendiri.

Berita menggembirakan dikemukakan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika DIY Roni Primanto Hari, bahwa sejumlah investor akan menanamkan modalnya di DIY terkait dengan industri smart city dan smart province. Dewasa ini memang banyak negara yang menjajaki kerja sama dengan Pemda DIY. Pengembangan teknologi informasi serta digitalisasi di DIY jadi salah satu yang banyak dilirik. (Harian Jogja, 29/4).

Dari peluang tersebut, kita perlu menyiapkan cyber society. Pada satu sisi kebutuhan bisnis dan pengembangan start up terpenuhi, masyarakat juga bisa mengawasi arah perkembangan wisata di daerahnya. Sebaliknya Pemerintah juga cepat merespons masalah yang menjadi keluhan warga.
Kendatipun begitu, sesungguhnya sekarang masih banyak menyisakan pertanyaan. Sejauh manakah pemerintah di daerah dan segenap masyarakat menguasai teknologi informasi dan komunikasi?

Kesiapan Masyarakat
Pertanyaan di atas juga tertuju kepada masyarakat di luar wilayah DIY, seperti di daerah segitiga emas, yaitu Kabupaten Kulonprogo, Kabupaten Purworejo, Kotamadya Magelang, apakah sudah menguasai teknologi informasi? Untuk menjawab pertanyaan di atas, barangkali kita pahami dulu teori klasik organisasi yang dikemukakan oleh Kast & Rozenweig.

Masyarakat adalah organisasi dengan sistem sosioteknik terbuka. Terdiri dari sistem pemerintahan daerah dengan tatakelolanya, kemudian subsistem yaitu nilai budaya, pranata sosial. Sedang yang tidak terabaikan adalah sarana pembentukan persepsi pada intisistem organisasi, yaitu manusianya. Pada sudut yang lain, pengelolaan daerah harus selaras dengan kebijakan suprasistem, yaitu regulasi dan perundangan yang berlaku.

Oleh karena itu, untuk membangun sebuah cyber society berbasis kemajemukan nilai sosial, pendidikan dan budayanya, dibutuhkan multidimentional approach sehingga tercipta kesiapan mental, kesamaan persepsi dan pemahaman tentang penerapan teknologi informasi dan komunikasi. Sekadar contoh, di Jogja ada warga kampung yang sudah melek Internet sehingga wilayahnya disebut Kampung Siber.

Kesiapan Prasarana
Setiap perkembangan teknologi, di satu sisi melahirkan kemaslahatan hidup, namun di sisi lain dapat berdampak negatif. Begitu pula teknologi informasi dan komunikasi bagi masyarakat yang berlatar belakang majemuk, perlu dibangun terlebih dulu infrastrukturnya, baik hardware maupun software-nya
Jika di kota besar, telah ada WIFI di banyak perumahan, hotel, lembaga pendidikan.

Bahkan ada kedai kopi dan ruang kerja bersama yang menyediakan piranti internet dengan signal kuat sehingga warga dapat ngopi sembari bekerja serta berselancar di media sosial. Namun, bagaimanakah rumah di perkampungan yang prasarananya belum memadai? Padahal kita sadar, industri pariwisata tidak mungkin tanpa Internet, bukan?

Pengalaman membuktikan, seseorang yang tidak memanfaatkan teknologi informasi dengan bijaksana, justru kerugian yang diperolehnya. Dengan lain perkataan, untuk membangun cyber society maka masyarakat patut dipersiapkan kecakapan intelektualitas, emosionalitas dan ketrampilannya. Kemampuan tadi dibutuhkan agar tidak gugup dan gagap menyelesaikan berbagai masalah.

Perlu Diwaspadai
Sebagai gambaran. Sejauh ini pada destinasi wisata, juga masih ditemukan adanya warga atau bahkan pemandu wisata yang belum akrab dengan teknologi informasi. Sebaliknya, ada pula yang kecanduan telepon seluler sehingga nyaris seperti zombie yang tidak peduli lingkungannya. Tengara menunjukkan sering terjadi polemik di antara netizen terhadap suatu masalah. Semuanya tidak lepas dari perkembangan teknologi informasi dan komunikasi.

Walaupun masih banyak dampak yang patut diwaspadai, baik aspek sosial, hukum, kesehatan, psikologi, budaya dan lainnya. Namun diharapkan dampak tersebut bisa diantisipasi, jika masyarakat dewasa menghadapi perkembangan teknologi.

Now or never patut jadi semboyan masyarakat sadar wisata untuk mengikuti perubahan di era Revolusi Industri 4.0. Memang tidak sederhana mewujudkan Sapta Pesona tanpa menyiapkan cyber society. Namun, jika tidak kita mulai saat ini, lalu kapan lagi?

*Penulis merupakan psikolog