OPINI: Membebaskan Diri dari Jerat Technocapitalism

Ilustrasi belanja online - Bisnis.com
24 Mei 2019 08:57 WIB Irsanti Widuri Asih Aspirasi Share :

Indonesia 4.0 digadang-gadang sebagai satu tahap kemajuan Indonesia di era teknologi disruptif. Salah satu indikator masuknya Indonesia pada era teknologi 4.0 adalah penetrasi internet yang terus meningkat. Pada Januari 2019, dari total populasi 268,2 juta jiwa, 56% (lebih dari 150 juta penduduk Indonesia) telah terkoneksi Internet dengan jumlah telepon genggam yang terdaftar sejumlah 355,5 juta (133% dari total populasi).

Keakraban masyarakat Indonesia dengan teknologi, juga ditandai dengan semakin masifnya interupsi berbagai aplikasi yang memudahkan masyarakat melakukan aktivitas sehari-hari. Pun di bidang e-commerce atau ekonomi digital, karena diramal Indonesia akan menjadi ekosistem ekonomi digital terbesar di Asia Tenggara.

Pada akhir 2018, transaksi e-commerce Indonesia, dengan sumbangan terbesar dari mal online, menyentuh angka Rp95,48 triliun. Yang menarik, financial technology (fintech) antara lain dalam bentuk aplikasi e-money, telah mencatatkan transaksi sejumlah Rp252 triliun, yang sebagian besar berasal dari pembayaran digital. Data-data tersebut memperlihatkan keperkasaan para pemain startup sebagai pendongkrak ekonomi digital Indonesia.

One Dimensional Man
Lima dekade silam, Herbert Marcuse, seorang Sosiolog Jerman, mengritik masyarakat kapitalis maju ketika itu melalui bukunya One Dimensional Man (manusia satu dimensi).  Dalam bukunya tersebut, Marcuse menjelaskan bahwa dalam semua masyarakat, selalu ada dua dimensi: dimensi afirmatif dan dimensi negatif.

Dimensi afirmatif selalu membenarkan dan mendukung sistem kekuasaan yang ada. Adapun dimensi negatif merupakan unsur-unsur yang menentang struktur-stuktur masyarakat karena misalnya efek ketidakadilan yang dihasilkannya. Unsur-unsur yang melawan itu bertujuan untuk mengubah sistem kekuasaan yang ada. Tentu saja dimensi negatif ini berupaya ditindas oleh mereka yang berkuasa. Cara menindasnya tidak dengan cara-cara represif, namun dengan cara hegemonik dengan mengintegrasikan unsur-unsur negatif tersebut sedemikian rupa sehingga justru mendukung sistem kekuasaan yang ada.

Marcuse menjabarkan bahwa penundukan yang dilakukan penguasa terhadap dimensi negatif masyarakat adalah melalui manipulasi dua nilai penting masyarakat modern, yaitu rasionalitas dan kebebasan. Contoh nyata manipulasi tersebut adalah melalui penciptaan produktivitas dan standar hidup yang semakin tinggi. Masyarakat dijerat dalam pola-pola konsumsi paksaan berbasis kebutuhan palsu yang telah dimanipulasi melalui rayuan berbagai iklan yang membius dan mendefinisikan “kebahagiaan”, “kesenangan”, atau “kesuksesan” versi mereka yang berkuasa, yaitu versi kapitalis.

Dalam pandangan Marcuse, rasionalitas dan kebebasan masyarakat industri maju ketika itu tidak pernah tercipta. Mereka justru menjadi irasional dan semakin terkukung dalam jeratan kapitalis.

Jeratan Technocapitalism
Berangkat dari kegamangannya akan praktik kapitalisme masih terus terjadi di berbagai belahan dunia, Douglas Kellner (1989) mengajukan istilah technocapitalism untuk menunjukkan peran teknologi yang terus semakin berpengaruh dan menjadi kapitalis utama dalam relations of production.

Kellner mendefinisikan technocapitalism sebagai konfigurasi masyarakat kapitalis di mana pengetahuan teknis dan saintifik, otomasi, komputer, dan teknologi tinggi memainkan peran dalam mekanisasi proses pekerja, sekaligus juga memproduksi bentuk-bentuk organisasi kemasyarakatan dan budaya baru dalam kehidupan keseharian masyarakat.

Di Indonesia, technocapitalism hadir melalui berbagai aplikasi yang mengubah cara masyarakat berperilaku sehari-hari, khususnya dalam berkonsumsi dalam ranah e-commerce.
Dalam bingkai konsep one dimensional man dan technocapitalism, maka ekonomi digital ini menjadi fenomena yang menarik untuk diulik pada momentum bulan Ramadhan ini. Memang bukan merupakan kajian yang baru bahwa tingkat konsumsi masyarakat selama bulan Ramadhan cenderung meningkat. Padahal menurut logika, ketika umat muslim berpuasa seharusnya tingkat konsumsi menurun, karena intensitas makan yang biasanya tiga kali sehari (sarapan, makan siang, dan makan malam), hanya menjadi dua kali sehari (sahur dan berbuka).

Technocapitalism memunculkan gaya berkonsumsi baru yang melanda kalangan menengah Indonesia. Cara berbelanja online dengan menggunakan aplikasi semakin mendominasi masyarakat.

Hingga tahun 2019, Indonesia telah memiliki tiga startup (perusahaan rintisan berbasis online) yang masuk sebagai kategori unicorn, yaitu perusahaan baru dengan valuasi di atas satu miliar dollar Amerika Serikat/USD, yaitu Traveloka, Tokopedia, dan Bukalapak. Sedangkan GO-JEK yang awalnya bersamaan dengan tiga perusahaan tersebut juga sudah berstatus sebagai unicorn, pada Maret 2019 bahkan telah dinobatkan sebagai decacorn pertama Indonesia dengan nilai perusahaan di atas sepuluh miliar USD. Para founders startup tersebut pun telah masuk sebagai pendatang baru di jajaran 150 orang terkaya Indonesia dengan jumlah kekayaan lebih dari satu triliun rupiah versi majalah Globe Asia.

Aplikasi-aplikasi e-commerce, seperti Tokopedia, Bukalapak, Shopee atau aplikasi fintech, seperti OVO, GO-PAY, Doku, dan T-Cash, selalu menggempur kita dengan serangkaian godaan untuk mengonsumsi. Gempuran-gempuran godaan konsumsi yang dilancarkan para technocapitalism tersebut membuaikan masyarakat ke dalam pola hidup konsumtif. Keputusan masyarakat untuk membeli sebuah komoditas, tidak lagi didasarkan kepada kebutuhan, tetapi kepada keinginan. Masyarakat seolah dikejar untuk segera melakukan tindak konsumsi di balik iming-iming program-program cashback, discount, voucher, points, dengan waktu yang sangat dibatasi.

Secara khusus pada momen bulan Ramadhan ini, bahkan nilai-nilai ibadah dan kebaikan pun dikomodifikasi. Misalnya, OVO melalui hashtag #TobatBoros. Progam cashback 50% ini dilengkapi dengan detail narasi: “Marilah saudara-saudara sekalian, jadikan momen Ramadhan kali ini sebagai momen #TobatBoros. Karena cukup #pakeOVOaja saudara bisa merasakan bulan penuh nikmat ini, baik untuk makan-makan, jalan-jalan, sampai belanja-belanja, sambil menabung CASHBACK 50% di banyak merchant. Segala ada, segala hemat!”.

Program tersebut sangat paradoksial. Bagaimana mungkin program itu mengajak masyarakat tidak berboros dengan mendorong mereka untuk membeli, mengonsumsi, belanja, yang belum tentu benar-benar mereka butuhkan. Padahal, cashback yang dijanjikan 50% itu dikenai serangkaian syarat dan ketentuan yang hanya memberikan cashback berbentuk OVO point (yang lagi-lagi merupakan bentuk permainan mereka), dengan maksimal nominal cashback hanya 30.000 rupiah.

Contoh lain, aplikasi GO-JEK dengan hashtag #CariKebaikan mengusung retorika “apa kebaikan yang sudah kamu lakukan hari ini?”. Selintas hashtag ini seolah mengingatkan masyarakat untuk berbuat kebaikan. Namun di baliknya, mereka menyodorkan untuk berbuat kebaikan dengan menggunakan bisnis mereka, seperti “Beli bukaan puasa untuk keluarga di Hajatan Berkah” dengan berbelanja menggunakan GO-PAY. “Beliin mba di rumah vitamin biar puasa makin vit” dengan menggunakan GO-DEALS. “Pulang lebih awal untuk berbuka bersama keluarga” dengan GO-RIDE. “Bantu anak “#YatimBisa hafal Quran” lewat GO-GIVE. “Bantu Ibu bebersih rumah meski lagi puasa”, serahin pada GO-CLEAN. “Lemari baju kepenuhan? Sumbangin aja sebagian”, kirim dengan GO-SEND. “Jadi tuan rumah buka puasa bareng”, pesan dengan GO-FOOD. Mereka mengajak kita untuk berbuat kebaikan dengan menjual layanannya sehingga akumulasi profit akan mereka dapatkan.

Membebaskan Diri
Barang kali ada baiknya untuk memikirkan ulang pola konsumsi kita. Telaah secara bijak apakah kita memang perlu mengonsumsi berbagai komoditas yang disodorkan hingga ke ruang-ruang pribadi kita? Taklukkan dimensi afirmasi yang selama ini mendominasi hidup kita. Munculkan lagi dimensi negatif yang akan menghidupkan ranah kritis kita akan berbagai ajakan konsumerisme tersebut.

Pola konsumsi adalah memang ranah pribadi kita di mana kita memegang kendali penuh akan apa yang akan kita beli. Tapi lepaskanlah diri kita dari jerat technocapitalism yang tanpa kita sadari menempatkan kita sebagai sapi perah mereka dalam mengakumulasi profit dengan berbagai strategi menggiurkan.

Berhentilah menjadikan diri kita sebagai objek eksploitasi mereka melalui kemasan cara-cara yang sangat persuasif dan hegemonik. Tunjangan Hari Raya (THR) yang kita dapatkan setahun sekali alangkah eloknya kita gunakan untuk hal-hal yang lebih produktif, misalnya untuk investasi yang dalam jangka panjang justru akan semakin mampu meningkatkan kualitas hidup kita dibanding kesenangan sesaat yang sesat akibat peninaboboan para technocapitalist tersebut.

*Penulis merupakan dosen Jurusan Ilmu Komunikasi FHISIP Universitas Terbuka/Mahasiswa Doktoral Kajian Budaya dan Media Universitas Gadjah Mada