OPINI: Memenangkan Hari Kemenangan

ilustrasi. - Reuters/Ina Fassbender
04 Juni 2019 06:27 WIB Rhafidilla Vebrynda Hikmah Ramadan Share :

Sudah tinggal hitungan hari lagi, kita akan memasuki 1 syawal 1440 H, itu berarti kita akan meninggalkan bulan Ramadan. Sedih? Semoga saja kita termasuk orang-orang yang hatinya sedih ditinggal bulan penuh hikmah dan ampunan tersebut, Amin.

Ramadan adalah bulan paling spesial di antara bulan-bulan lain karena telah Allah janjikan pahala yang berlipat setiap kita mengerjakan amal kebaikan. Apalagi sekarang sedang di penghujung Ramadan, di mana ada satu malam yang paling utama di antara seribu bulan. Dalam surat Al Qadr ayat 3 yang artinya “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”.

Malam di mana diturunkannya Alquran, petunjuk hidup bagi sekalian alam. Tentu bulan Ramadan ini adalah sudah jelas bulan yang paling mulia dan hendaknya kita juga memperlakukan bulan ini dengan berbeda dan mulia juga demi menyambut hari kemenangan. Dengan keihlasan, hendaknya semua amalan yang kita lakukan adalah benar-benar karena Allah SWT.

Bicara soal hari kemenangan, tentu saja ini ditunggu-tunggu bagi seluruh umat. Baik yang penuh menjalankan ibadah puasanya, pun bagi umat Islam yang sedang berhalangan untuk menjalankan dengan penuh ibadah puasanya, yakni orang yang telah uzur, sakit dan lemah, wanita hamil dan menyusui serta yang sedang dalam perjalanan.

Namun, banyak sekali amalan yang dapat kita lakukan untuk melengkapi ibadah puasa wajib yang diperintahkan. Banyak sekali anjuran untuk beritikaf, membaca quran lebih banyak, bersedekah, sholat malam, makan sahur dan menyegerakan berbuka, bahkan memberi makan untuk orang yang berbuka puasa pun menjadi pahala tersendiri bagi kita yang benar-benar tulus ikhlas karena Allah SWT dalam menjalankannya. Semoga kita masih bisa terus menjalankan segala amalan ini hingga di hari akhir Ramadan 1440 H.

1 Syawal
Tentu saja satu hal yang paling ditunggu ketika datangnya hari kemenangan adalah tradisi berkumpul bersama keluarga. Tradisi untuk saling meminta maaf dan memaafkan, serta bersilaturahmi sebagai bentuk rasa syukur kita telah menyelesaikan ibadah di bulan suci Ramadan. Sebagaimana lirik lagu ciptaan Ismail Marzuki yang tentu sudah tidak asing bagi kita,“Berjabatan tangan sambil bermaaf-maafan. Hilang dendam habis marah di Hari Lebaran,”

Tentu saja lirik ini bukan sekadar lirik tanpa makna, namun terbesit doa dan harapan di sana. Harapan untuk bisa berjabat tangan, berkumpul dan bertemu tatap muka. Kemudian setelahnya tidak ada lagi dendam dan marah karena semua sudah diikhlaskan bersama perginya bulan Ramadan. Masya Allah, sungguh mulia Allah SWT menciptakan hari untuk momen seperti ini.

Apalagi mengingat kejadian beberapa waktu lalu, Indonesia yang secara tidak langsung terpecah dukungannya kepada dua pasangan capres cawapres dalam pemilu 17 April lalu, hingga peristiwa 21 dan 22 Mei di Jakarta. Sungguh miris karena kejadian ini terjadi di bulan suci Ramadan, di mana hendaknya kita memperbanyak amal ibadah, dan bukan malah membuat kericuhan.

Dengan momen 1 Syawal, diharapkan benar-benar menghapus segala perbedaan, menghilangkan marah dan dendam yang sempat saling dilontarkan. Di mana yang dulunya berbeda pandangan dapat saling menerima perbedaan, karena bukankah kita memang tidak ada yang diciptakan 100% sama, sehingga diharapkan perbedaan ini bukan dijadikan satu alasan perpecahan, namun menjadikan kita semakin menyadari kebesaran Allah SWT dalam menciptakan makhluk-makhluknya.

Diharapkan momen 1 syawal ini benar-benar dapat menghilangkan segala ganjalan di hati agar ke depan kita dapat menjalani hidup dengan ikhlas, agar istilah hari kemenangan yang telah lama digadang-gadang di Indonesia benar-benar menjadi kemenangan untuk kita semua. Menang dari hawa nafsu, menang dari segala penyakit hati yang sebenarnya hanya akan merugikan diri kita sendiri.


*Penulis merupakan dosen Komunikasi Penyiaran Islam FAI Universitas Muhammadiyah Yogyakarta