OPINI: Mengenalkan Konsep Keberlanjutan Usaha bagi UKM di Indonesia

Pameran UMKM. - Harian Jogja/Gigih M. Hanafi
15 Agustus 2019 05:02 WIB Daniel Yudistya Wardhana Aspirasi Share :

Usaha Kecil dan Menengah (UKM) masih menjadi prioritas pengembangan pemerintah dan diharapkan dapat terus membuka kesempatan yang luas bagi masyarakat untuk ikut serta dalam pengembangan perekonomian. Harapan dalam menggerakkan sektor riil tersebut tidak terlepas dari peran UKM sebagai pelaku usaha utama pada tingkatan masyarakat di daerah baik dalam memberikan lapangan kerja dan membuka kesempatan usaha yang menguntungkan.

Namun demikian, beberapa penelitian mengenai tata kelola usaha menunjukkan bahwa UKM sering mengalami hambatan dalam melakukan praktek tata kelola usahanya yang sesuai dengan peraturan yang berlaku seperti pelaporan dan pencatatan keuangan, perpajakan, ijin usaha dan lainnya.

Oleh karena itu berbagai agenda pemerintah melalui program inkubasi bisnis, mentoring dan juga berbagai pelatihan yang menggandeng pihak swasta dan akademisi demi menyelesaikan permasalahan tersebut.

Keberlanjutan
Selain permasalahan mengenai tata kelola usaha, UKM di Indonesia juga dihadapkan pada tantangan baru yang penting dan tidak bisa dikesampingkan, yaitu aspek keberlanjutan usaha atau sustainable business. Berdasarkan penelitian dari Brinkmann (2016) keberlanjutan dapat secara ringkas didefinisikan sebagai melakukan kegiatan untuk melestarikan lingkungan bagi masa depan generasi. Secara umum, keberlanjutan usaha atau sustainable business ini memiliki tiga komponen dasar yang dikenal dengan istilahtriple bottom line yang terdiri dari profit, people dan planet.

Konsep tersebut sudah dikenalkan sejak 1970-an dalam suatu konferensi lingkungan di Stockholm, Swedia, yang kala itu membahas mengenai kemiskinan, kesetaraan dan juga ketahanan pangan.Namun pada kelanjutannya juga mengarah ke ranahindustri, bisnis dan lingkungan.

Pemahaman mengenai triple bottom line bagi UKM dirasa sangat mendesak karena mereka mengalami proses interaksi langsung sehari-hari secara intensif dengan berbagai pihak. Alangkah lebih baik jika para pelaku usaha riil tersebut jugai ikut serta menjadi agent of change dan pionir dalam menyelamatkan masa depan melalui tindakan nyata yang walaupun kecil namun sangat berdampak bagi lingkungan. Secara sederhana, perlu dipahami terlebih dahulu mengenai konsep triple bottom line.
Pertama adalah profit yang dalam hal ini dijelaskan sebagai kondisi di mana pelaku usaha diharapkan untuk dapat menjalankan usahanya dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan.

Kedua,konsep people yaitu bagaimana suatu usaha ketika menjalankan usahanya dapat mengedepankan kesetaraan dan etika bagi sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya dan juga bagi sosial masyarakat.

Terakhir adalah konsep planet yaitu kepedulian pelaku usaha dalam melakukan usahanya untuk tidak merugikan lingkungan baik secara langsung maupun tidak langsung. Ketiga konsep tersebut dapat dipahami menjadi sebuah kesatuan sehingga ketika UKM melakukan segala aktivitas usahanya tidak hanya berorientasi pada profit namun juga senantiasa beretika ketika memperlakukan people yang terlibat demikian juga dalam aspek lingkunga natauplanet, UKM juga diharapkan dapat melakukan proses bisnisnya yang ramah lingkungan.

Aksi Nyata
Pemaparan di atas semakin menyadarkan kita bahwa dalam melakukan suatu usaha harus didasari dengan semangat untuk tidak meningggalkan warisan buruk bagi lingkungan, masyarakat saat ini dan generasi mendatang. Kenyataan bahwa UKM mengalami banyak permasalahan dalam menjalankan usahanya kiranya tidak menjadi alasan untuk tidak peduli dengan lingkungan.Alih-alih mengutuki kondisi yang dialami akan sangat lebih produktif jika pelaku usaha kecil dan menengah secara bersama-sama memulai langkah kecil yang berdampak besar.

Penerapan konsep profit, people dan planet dapat dilakukan bersama-sama secara sederhana seperti mendirikan Bank Sampah, melakukan inovasi produk dari bahan daur ulang, menggunakan promosi online yang paperless, menggunakan kemasan produk yang ramah lingkungan, memisahkan dan jika dimungkinkan mengolah kembali limbah usahanya, melakukan rekrutmen yang adil dan tidak diskriminatif, mengurangi pemakaian peralatan yang mengonsumsi energi yang relatif besar hingga menyisihkan sebagian dari keuntungan usaha sebagai program tanggung jawab sosial bagi lingkungan sekitar.

Bukanlah perkara yang mudah ketika suatu usaha yang sudah mapan dan memiliki budaya tertentu dengan ekstrim mengubah hampir sebagian besar tatanannya, tentu akan muncul banyak resistensi, namun perlu dipahami bahwa risiko yang dipertaruhkan adalah keberlanjutan usaha, lingkungan dan generasi penerus di masa depan. Lebih lagi ketika faktor konsekuensi biaya yang muncul di awal ketika praktek keberlanjutan usaha tersebut dilakukan oleh UKM, tentu saja akan berdampak pada efisiensi biaya. Namun, tidak akan ada faedahnya jika saat ini pelaku UKM hanya berfokus pada mencari keuntungan semata dan menutup mata pada realita bahwa kondisi lingkungan dan masyarakat kita perlu mendapatkan perhatian khusus.

Oleh karena itu, mengenalkan konsep keberlanjutan usaha pada UKM tampaknya harus menjadi prioritas mengingat lebih dari 90% pelaku usaha di Indonesia adalah UKM.Dapat dibayangkan betapa luar biasanya, ketika kita tidak hanya mewariskan usaha yang mapan dan berkelanjutan kepada anak cucu kita, tetapi juga lingkungan yang masih layak, sumberdaya alam yang masih dapat dinikmati generasi mendatang.

Melakukan usaha tidak hanya masalah keuntungan, namun bagaimana peran positif kita bagi sesama dan lingkungan, seperti kesepahaman yang dihasilkan dalam konfrensi lingkunganWorld Commission on Environment and Development (1987) yang mengatakan bahwa pengembangan berkelanjutan berarti mampu memenuhi kebutuhan di masa sekarang tanpa mengorbankan generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhannya.

*Penulis merupakan dosen Program Studi Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika UniversitasAtma Jaya Yogyakarta