OPINI: Mencermati Praktik Window Dressing

Ilustrasi. - Bisnis/Felix Jody Kinarwan
19 Desember 2019 05:02 WIB Totok Budisantoso Aspirasi Share :

Saya bertanya kepada mahasiswa tentang tempat tinggal mereka (baca indekos). Mereka memberikan ilustrasi yang lengkap. Tinggal di sebuah kamar dan umumnya memiliki setidaknya akses utama berupa pintu dan akses pandangan keluar berupa sebuah jendela yang berfungsi sebagai akses ventilasi maupun sumber pencahayaan. Terlepas dari berbagai macam fungsi yang melekat pada jendela tersebut, selalu bahwa mereka berupaya untuk memasang tirai yang indah di jendela tersebut.

Menjadi diskusi yang menarik ketika saya menanyakan mengapa mereka memasang tirai berwarna-warni nan anggun di jendela mereka. Semua sepakat bahwa, mereka tidak ingin ada orang lain serta merta melihat apa yang ada dan aktivitas di dalam ruangan mereka. Tirai atau korden tersebut menjadi jaring pengaman dari kondisi di dalam kamar. Diskusi saya lanjutkan dengan menanyakan kalau sekedar menutupi sesuatu supaya tidak terlihat dari luar, bukankan selembar kertas koran yang ditempelkan di jendela akan dapat secara efektif memenuhi tujuan mereka. Tentu saja derai tawa memenuhi kelas.

Ternyata tujuannya tidak semata-mata sekadar menutupi tetapi juga tirai tersebut menjadi alat yang atraktif menarik hari orang-orang yang melihatnya. Bahkan malah menjadi semacam ajang kontes untuk memasang tirai berumbai-rumbai nan indah untuk meyakinkan orang kamar yang dihuni adalah kamar yang asri nan cantik. Cobalah kita lihat rumah kita masing-masing. Bukankan kita juga melakukan hal yang persis sama. Menjelang hari raya atau ketika ada acara khusus, salah satu dandanan yang biasanya diperhatikan adalah tirai penutup jendela rumah.

Saya yakin akan diamini semuanya tujuannya adalah bersolek dan mempercantik penampilan sehingga siapapun yang melihat atau bahwa secara khusus berkunjung akan memberikan penilaian yang positif dan baik. Rupanya sudah menjadi salah satu kodrat manusia untuk selalu menampilkan yang baik di mata orang lain. Semua yang teratribusi dengan eksistensi seseorang akan dipermak sedemikian rupa sehingga tampil lebih memukau.

Praktik Berdandan
Rupanya kodrati manusia ini juga tidak lepas dari praktik korporasi dalam menampilkan dirinya kepada publik. Mereka juga ingin tampil cantik dan mendapatkan penilaian positif. Tentu saja entitas perusahaan tidak memiliki jendela fisik sama seperti kamar ataupun rumah seperti ilustrasi di atas. Namun mereka memiliki jendela informasi yang berarti sebuah sarana berkomunikasi dengan pihak-pihak di luar entitas yang memiliki kepentingan.

Alat untuk membuka diri tersebut adalah formulasi informasi yang disajikan kepada publik. Salah satu formulasi informasi tersebut berupa rekayasa informasi keuangan perusahaan. Nah, informasi keuangan inilah yang berfungsi sebagai jendela yang kemudian didandani supaya jendela ini memberi gurat indah apa yang ada di dalamnya. Proses berdandan inilah yang disebut sebagai praktik window dressing.

Pada dasarnya praktik ini adalah manuver yang seringkali dilakukan oleh perusahaan terbuka, bank, reksadana, serta perusahaan finansial lainnya untuk memberikan kesan bahwa mereka telah berkinerja baik. Tampilan kinerja yang seakan lebih baik merupakan praktik rekayasa dengan menggunakan trik akuntansi untuk membuat informasi keuangan tampak lebih baik daripada yang sebenarnya. Tentu saja, praktik ini dilakukan untuk membuat para pemegang saham dan pemangku kepentingan lain terkesan.
Seiring praktik memoles informasi untuk publik yang dilakukan oleh korporasi, pasar modal yang mempertemukan pihak penyedia dana dan korporasi yang membutuhkan juga rentan terhadap praktik berdandan ini.

Dalam hal ini, window dressing sudah menjadi fenomena di pasar modal ketika harga saham cenderung meningkat pada akhir tahun saat perusahaan go public yang mencatatkan sahamnya memasuki tahapan tutup buku. Kesempatan ini dimanfaatkan oleh para manajer investasi untuk memperbaiki kinerja saham yang menjadi portofolionya dengan memanfaatkan momentum tutup buku ini. Mereka sudah mengelus-elus kombinasi portfolio tertentu dengan tujuan mengangkat harga saham yang dimilikinya.

Dalam konteks ini, kita melihat adanya konvergensi kepentingan antara emiten dengan para manajer investasi. Dengan melakukan window dressing, terbuka kesempatan atau bahkan menjadi strategi yang digunakan untuk menarik hati investor dengan cara mempercantik laporan atau kinerja keuangan dan portofolio bisnis yang dimilikinya. Tujuannya sangat jelas, yaitu meyakinkan investor dalam menanamkan modal investasi yang menguntungkan bagi perusahaan tersebut. Kuartal terakhir ini menjadi lahan berdandan sehingga target yang ditetapkan dapat diraih atau bahkan terlampaui.

Tercapainya target menjadi sarana kuat untuk negoisasi remunerasi yang optimal sekaligus harapan untuk kembali dipercaya mengelola sumber daya yang sekarang ini berada dalam cakupan otoritasnya. Di sisi lain, poles informasi ini memberi kesempatan para manajer investasi uang mengoptimalkan imbal hasil portofolio yang dimilliki. Infomasi positif yang tersedia di pasar menjadi insentif untuk menggerakkan set portfolionya ke arah yang diharapkan. Dengan demikian dapat dilihat menjelang penutupan tahun, para manajer investasi akan memperbaiki pengelolaan portofolio agar lebih baik dalam rangka memuaskan pihak klien. Perusahaan juga bisa menampilkan performa laporan keuangan yang apik sehingga untuk menyenangkan pihak investor.

Bagaimana Menyikapi?
Harus diakui polesan informasi keuangan yang kemudian ditangkap sebagai peluang di pasar modal sudah menjadi rutinitas yang selalu terjadi. Dengan kata lain, praktik ini menjadi fenomena tahunan yang tidak dapat dipungkiri terjadinya. praktik window dressing memberikan pesan kita harus pandai dalam membaca informasi yang disajikan. Membaca pandai berarti kita harus menerapkan skeptisme profesional yang berarti setiap informasi perlu ditelaah secara mendalam sesuai dengan bukti-bukti yang mendasarinya serta mengkonfirmasi informasi pembanding yang relevan. Ini berarti kita tidak boleh nggumunan.

Harus diakui telaah historis menunjukkan fenomena menjelang tutup buku ini menunjukkan gejala berulang secara konsisten yang memberikan peluang untuk melakukan rebalancing portfolio investasi maupun merealisasikan keuntungan. Cermati portfolio Anda. Mungkin ini saatnya melepas sekuritas yang lemah dan memutarnya ke sekuritas kuat dengan indikator likuiditas maupun kapitalisasi pasarnya. Analisis teknikal akan cukup banyak membantu sebagai pelengkap review fundamental. Semoga anda membuat keputusan yang tepat di penghujung tahun ini dan mari kita buka periode baru dengan energi optimisme.

*Penulis merupakan Dosen Program Studi Akuntansi Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta