OPINI: Siapkah Wisata Kesehatan Indonesia?

Ilustrasi. - Antarafoto
20 Januari 2020 05:02 WIB Agus Rochiyardi Aspirasi Share :

Akhir November 2019, Menteri Kesehatan dan Menteri Pariwisata dan Ekonomi kreatif era pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) sepakat untuk mengembangkan Wisata Kesehatan dengan lokus lima kota yaitu Jogja, Solo, Semarang, Bali dan Jakarta.

Ini melanjutkan apa yang sudah digagas oleh pendahulunya di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yaitu dalam bentuk SK Bersama No.KB.59/OT.001/MPEK/2014 No.HK.02.05/MENKES/323/2014 tentang kelompok Kerja Nasional Pengembangan Wisata Kesehatan yang ditetapkan di Jakarta pada 8 Oktober 2014.

Wisata Kesehatan yang disepakati terdiri empat klaster yaitu Wisata Medis, Wisata Kebugaran dan Jamu, Wisata Olah Raga dan Wisata Ilmiah kesehatan. Dari keempat klaster tersebut prioritas utama yang dipilih untuk waktu sekarang ini yaitu Wisata Kebugaran dan Jamu yang dianggap memiliki prospek kesehatan, budaya dan ekonomi serta menawarkan tindakan preventif di bidang kesehatan.

Sesuai dengan Undang Undang No.10/2009 tentang Kepariwisataan, maka wisata diartikan kegiatan perjalanan yang dilakukan manusia baik perorangan maupun kelompok untuk mengunjungi destinasi tertentu dengan tujuan rekreasi, mempelajari keunikan daerah wisata pengembangan diri dan lain sebagainya, dalam kurun waktu yang singkat atau sementara waktu. Wisata Kesehatan dapat disintesiskan merupakan kegiatan yang dirangsang oleh obyek atau fasilitas yang diperlukan untuk mengembalikan kesehatan didaerah tujuan wisata, tempat sejuk ataupun terdapat sumber air panas.

Kebugaran (jasmani) pengertian umumnya adalah kemampuan dan daya tahan fisik atau tubuh seseorang dalam melakukan berbagai aktifitas kehidupan sehari-hari, tanpa mengalami kelelahan yang berarti, kegiatan yang membuat bugar ini dapat berupa spa serta wellness center.

Jamu adalah obat tradisional Indonesia dari bahan atau ramuan yang berupa bahan tumbuhan, hewan, mineral, dan sari-sarian yang dicampur dan dipergunakan untuk pengobatan, contoh beras kencur, pegel linu, antangin, kunir asem, anggur kolesom, berdasarkan uji klinis laboratorium (saintifikasi) memiliki khasiat meningkatkan kesehatan tubuh, melindungi diri dari berbagai penyakit dan ini dianggap sebagai obat alternatif, setara dengan obat farmasi.

Kesadaran manusia, pentingnya preventif untuk menjaga kesehatan sangat tinggi, terbukti menjamurnya pertumbuhan komunitas-komunitas seperti Komunitas Spa Massage Indonesia, Komunitas Therapist Spa, Jalan Santai, Jamu Gendong dan komunitas lainnya, bahkan disetiap acara yang melibatkan kebugaran ramai diikuti peserta dari dalam dan luar negeri, seperti Ethno Spa Indonesia serta Festival Jamu Gendong.

Di tingkat Asia tenggara, seperti Malaysia Healthcare Travel Council (MHTC) lembaga wisata kesehatan di Malaysia didirikan 2005 untuk mempromosikan Industri Kesehatan, diluncurkan pada 2009 dengan tag line Quality Care for Your Peace of Mind menyatakan total wisatawan internasional yang berkunjung pada 2018 sebanyak 1,2 juta orang dengan pendapatan 1,5 miliar ringgit Malaysia dan 700.000 pasiennya berasal dari Indonesia dengan berbagai jenis pengobatan, terutama di Island Hospital Penang, Gleneagles Penang yang berbentuk wisata kesehatan berbasis medis.

Keberhasilan MHTC karena dukungan lembaga swasta dan pemerintah Malaysia seperti Kementerian Keuangan, Kementerian Pariwisata, Kementerian Kesehatan, Kementerian Ekonomi, Imigrasi Malaysia, Persatuan Rumah Sakit Swasta Malaysia, Perkumpulan Kualitas Kesehatan Malaysia dan MSC Malaysia yang bergerak pada Digital Ekonomi.

Pengembangan wisata kesehatan oleh Singapore juga tidak kalah majunya, seperti Mount Elisabeth Hospital, Singapore General Hospital (di majalah Newsweek Januari 2019 diakui terbaik ketiga di dunia). Rumah sakit ini memiliki pengalaman dan kredibilitas yang diakui dunia bahkan dianggap yang terbaik di Asia Tenggara, ini dilihat dari sisi aksesibilitas, kualitas pelayanan, keterjangkauan, secara konsisten memberikan output berupa harapan hidup dan tingkat kematian yang rendah dan sudah lama memperoleh akreditasi dari Joint Commision International (organisasi nonprofit) yang dibentuk pada 1994 bertujuan memberikan penghargaan atau pengakuan kepada institusi medis terkait dengan peningkatan kualitas dan keamanan layanan kesehatan bertaraf International.

Rencana pengembangan Wisata Kebugaran dan Jamu, bisa menjadi perpaduan antara nilai kesehatan, nilai ekonomis, wisata, serta edukasi yang diharapkan mampu menciptakan multiplier effect untuk menumbuhkan minat investasi dan turunannya ke Indonesia. Namun demikian sudah ada pesaing yang kuat yaitu negara Korea yang sangat populer dengan Negeri Ginseng dan juga obat-obatan tradisional China sehingga untuk mensukseskan rencana tersebut perlu dilakukan persiapan yang matang, mulai dari peraturan daerah, aksesibilitas, kredibilitas, kualitas pelayanan.

Di setiap daerah sudah memiliki peraturan daerah tentang jamu, aksesibilitas relatif memadai namun perlu penambahan direct flight, tinggal masalah aspek pelayanan dan kredibilitas. Hal ini menjadi kata kunci mengingat pasien akan pergi ketempat yang mereka yakini dan harapkan dapat menyembuhkan penyakitnya.

Untuk menunjang rencana ini, perlu kesiapan produk jamu yang sudah melalui uji laboratorium (saintifikasi) demikian juga produk kebugaran yang telah mendapatkan sertifikasi pemanfaatannya.
Pelayanan harus prima, mengedepankan profesionalisme, dan mampu memberikan informasi yang luas tentang jamu dan akurasi pemanfaatannya.

Untuk para pengelola Wisata Kebugaran dan Jamu, demi suksesnya program yang di targetkan, maka SOP, tata-tertib terkait denan aspek kesehatan maupun wisatanya, harus dilaksanakan secara konsisten, sehingga klien merasa yakin dengan jasa yang dibelinya. Promosi yang dilakukan dalam bentuk narasi-narasi yang dibangun agar citra Kebugaran dan Jamu positif dan tentunya harus diikuti pembuktian dilapangannya.

Keberhasilan program Wisata Kebugaran dan Jamu, tidak hanya tanggung jawab Kementerian Parekraf dan Kementerian Kesehatan saja tetapi harus mendapat dukungan seluruh pemangku kepentingan sehingga terjadi kolaborasi positif yang mampu mengangkat kepentingan nasional.

*Penulis merupakan Direktur Pemasaran Pariwisata Badan Otorita Borobudur