OPINI: Corona dan Siasat Industri Penerbangan

Ilustrasi di dalam kokpit. - safeblog.org
11 Maret 2020 06:02 WIB Tasroh Aspirasi Share :

Maskapai penerbangan menjadi salah satu sektor yang langsung terpukul dengan meluasnya epidemi virus korona Covid-19. Begitu wabah merebak di Wuhan, Tiongkok, pemerintah Indonesia langsung mengikuti langkah negara lain menutup rute ke negara dengan penduduk terbanyak di dunia itu. Langah pemerintah itu tentu harus dibarengi dengan berbagai " siasat" industri penerbangan termasuk bersiasat untuk tetap menjaga perkembangan penumpang melalui kampanye diakon dan insentif dengan sektor yang langsung berkaitan dengan kinerja maskapai kita.

Hingga Jumat (6/3), menurut data worldometers, jumlah penderita yang terinfeksi virus korona Covid-19 di seluruh dunia sebanyak 100.242, dengan 3,4% atau 3.408 orang meninggal. Sedangkan sebanyak 55.986 atau sebagian besar sudah sembuh. World Health Organization (WHO) menyatakan, berjangkitnya penyakit virus korona Covid-19 pertama kali dilaporkan di Wuhan, Tiongkok, pada 31 Desember 2019. Jumlah penderita di negara itu mencapai 80.559 dan korban jiwa 3.042. Epidemi virus korona ini meluas dan infeksi virus itu telah terjadi di 94 negara dan 1 kapal internasional Diamond Princess. Jumlah penderita terbanyak di luar Tiongkok ada di Korea Selatan sekitar 6.593, dengan korban meninggal 42 orang. Indonesia pun mulai masuk dalam daftar negara yang sudah terinfeksi virus korona ini, dengan jumlah penderita bertambah menjadi empat orang yang masih dalam perawatan.

Garuda Indonesia merupakan salah satu yang terpukul dengan merebaknya virus korona baru itu. Selain terpaksa menutup rute penerbangan dari dan ke Tiongkok sejalan dengan kebijakan pemerintah, Garuda juga akan segera menyetop sementara layanan penerbangan umrah setelah tuntas memulangkan sisa jemaah Tanah Air dari Arab Saudi, setelah pemerintah Arab Saudi menunda sementara kunjungan umrah. Karena penurunan permintaan, Garuda juga menyetop rute Denpasar-Hong Kong dan mengurangi penerbangan dari dan ke Singapura. Kendati demikian, Garuda masih mempertahankan jumlah penerbangan dari dan ke Korea Selatan sebanyak 14 penerbangan sepekan. Dengan pengurangan itu, tentu saja akan ada berapa pesawat yang tidak terutilisasi. Ini otomatis membuat berkurangnya potensi pendapatan.

Sementara itu, Batik Air mengaku sudah merugi, setelah menyetop sementara penerbangan dari dan ke lima kota di Tiongkok sejak 5 Februari 2020. Untuk sementara, beberapa pesawat yang biasa menerbangi rute Indonesia- Tiongkok akan di-maintenance karena tak beroperasi. Untuk mengoptimalkan utilitas pesawat, Garuda maupun Batik Air berencana memperkuat rute penerbangan domestik, guna mengantisipasi penurunan jumlah penumpang karena penutupan beberapa rute internasional akibat virus korona. Pesawat-pesawat Garuda berbadan lebar yang selama ini melayani rute internasional akan dimanfaatkan untuk memperkuat rute-rute domestic utama, seperti ke Denpasar, Surabaya, Balikpapan, Solo, dan Yogyakarta.

Siasat Insentif
Pasar domestik ini merupakan keunggulan industri penerbangan nasional yang tak dimiliki beberapa negara lain, seperti Singapura, bisa dikembangkan dalam berbagai insentif dan oeningkatan layanan yang lebih menantang. Maskapai internasional yang relatif tidak punya rute penerbangan domestik, beberapa sudah menerapkan cuti tak berbayar akibat virus korona, seperti Singapore Airlines, Cathay Pacific, dan Emirates. Sedangkan maskapai nasional masih relatif bertahan dan tak menerapkan pengurangan pegawai ataupun memberlakukan cuti tak berbayar. Garuda juga tetap melihat potensi pembukaan rute internasional melalui Denpasar, menuju dan dari beberapa kota yang tidak terlalu terdampak virus korona, seperti Brisbane dan Delhi.

Namun, rute-rute tersebut masih dalam tahap pencarian slot dan izin otoritas setempat, sehingga baru bisa mulai diperkenalkan pada April 2020. Untuk maskapai nasional, memang pilihannya lebih banyak mengembangkan rute-rute domestik. Tetapi, ini dengan catatan Covid-19 tidak banyak menyebar di Indonesia atau sedikit yang terinfeksi, sehingga orang tidak takut bepergian.

Di sini, peran Kementerian Kesehatan sangat diperlukan untuk mengatasi penularan. Kebijakan pemerintah yang mendukung upaya penyelamatan dan memperkuat penerbangan domestik melalui insentif kepariwisataan dari dan menuju 10 destinasi unggulan wisata, juga sangat membantu. Apalagi, virus korona ini juga memukul destinasi wisata yang mengandalkan pemasukan dari pariwisata.

Jumlah pergerakan pesawat di sejumlah bandara seperti di Bandara I Gusti Ngurah Rai (Denpasar) misalnya, anjlok. Oleh karena itu, insentif dari pemerintah bersama stakeholders penerbangan agar masyarakat bisa mendapatkan diskon hingga 50% untuk kuota 25% dari total kapasitas setiap penerbangan dari dan ke 10 destinasi itu perlu dimanfaatkan dengan baik. Apalagi, insentif berupa diskon tarif penerbangan ke 10 destinasi wisata yang bertujuan untuk mendorong sektor pariwisata itu direspons positif masyarakat.

Sepuluh destinasi pariwisata itu adalah Jogja, Malang di Jawa Timur, Manado di Sulawesi Utara, Bali, Mandalika di Nusa Tenggara Barat, Labuan Bajo di Nusa Tenggara Timur, Tanjung Pandan di Bangka-Belitung, Batam, Toba (Silangit), dan Bintan di Kepulauan Riau. Pemerintah Indonesia juga resmi memberikan insentif keringanan pajak bagi pengusaha perhotelan dan restoran di 10 destinasi wisata. Para pengusaha hotel dan restoran di 33 kabupaten atau kota akan dibebaskan dari pajak selama enam bulan. Insentif ini diberikan untuk merespons imbas virus korona Covid-19 yang berdampak terutama pada kunjungan wisatawan dari Tiongkok ke Indonesia. Pembebasan pajak selama 6 bulan ini nantinya akan menyebabkan potensi kehilangan penerimaan daerah Rp 3,3 triliun, sehingga pemerintah pusat akan memberikan kompensasi hibah senilai itu.

Tuntaskan Efisiensi
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga berjanji masih akan mengguyur pemerintah daerah dengan Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik di bidang pariwisata, yang awalnya ada sekitar dana Rp 147 miliar yang belum mampu digunakan pemda. Mengingat insentif yang diberikan pemerintah berupa diskon tarif penerbangan domestik ternyata mendorong peningkatan pemesanan tiket pesawat ke 10 destinasi wisata dan kamar hotel, maka momentum ini juga perlu dimanfaatkan untuk meningkatkan standar pelayanan, fasilitas, kenyamanan, dan keamanan di 10 destinasi tersebut. Ini termasuk lewat kerja sama dengan kementerian terkait dan BUMN.

Dengan demikian, diharapkan dampak positif saat ini yang masih low season terus berlanjut saat high season, dan saat wabah korona mereda. Sementara itu, kendati negara-negara yang punya rute domestik seperti Indonesia dan Thailand yang kotanya banyak, kondisinya masih tertolong; akan tetapi apabila epidemi virus korona berlanjut, tentu akan berpengaruh terhadap penurunan pendapatan maskapai.

Pasalnya, raihan dari penerbangan domestik bermata uang lokal. Revenue rupiah long term bagi Garuda misalnya, tentu tidak bagus, karena struktur biaya maskapai 75% menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat, seperti untuk biaya sewa pesawat, spare part, avtur, simulator, ban, lubricant, dan lain-lain.

Oleh karena itu, tentu saja maskapai juga harus menuntaskan efisiensi agar lebih berdaya tahan dalam menghadapi situasi yang tak terduga. Jangan sampai terjadi lagi praktik seperti pembentukan anak dan cucu usaha Garuda yang mencapai 26, yang hanya membebani induk perusahaan. Selain itu, Garuda juga harus cerdik melakukan restrukturisasi atau pembicaraan kembali dengan perusahaan penyewaan pesawat, agar bisa mendapatkan keringanan sewa sesuai pasar yang sedang terpuruk di mana-mana.

Dengan cara demikian, Corona hadir justru jadi peluang guna membangkitkan siasat bisnis penerbangan domestik agar berkembang lebih inovatif ke depan. Kejelian dan kecermatan bersiasat di tengah wabah Corona, diyakini akan jadi batu ujian yang menentukan masa depan industri penerbangan nasional untuk lebih berdaya tahan kuat dan tak cengeng lagi. Begitu!

*Penulis merupakan Tim Pengembangan Ekonomi Pariwisata Daerah/Alumnus Ritsumeikan Asia Pacific University Jepang