HIKMAH RAMADAN: Menyikapi Ujian di Masa Pandemi

Ilustrasi anak dan orang tua - Reuters
29 April 2020 05:02 WIB Anita Aisah Hikmah Ramadan Share :

Zaman sekarang teknologi sudah semakin canggih dan berkembang pesat sebagai upaya untuk membantu mengatasi permasalahan manusia. Akan tetapi tidak semua permasalahan yang terjadi di dunia bisa dikendalikan oleh manusia. Saat ini kita dihadapkan oleh sebuah ujian untuk dapat melewati masa pandemi Covid-19.

Beberapa ahli memprediksi waktu pandemi akan berakhir. Hasil prediksi oleh para ahli berbeda-beda. Ada yang menyatakan Mei akan berakhir, Juni bahkan ada pula yang memprediksi masa pandemi ini akan berlangsung satu tahun. Kita dihadapkan dengan suasana yang penuh dengan ketidakpastian.
Menurut Paul Johnson, Kehidupan spiritual merupakan sumber utama ketika manusia dihadapkan dengan sesuatu ketidakpastian.

Subandi di dalam bukunya yang berjudul Psikologi Agama dan Kesehatan Mental juga memaparkan agama merupakan tempat berlabuh bagi manusia ketika menghadapi berbagai persoalan kehidupan yang tidak bisa diatasi. Pada dasarnya setiap diri manusia terdapat religious instinct. Religious instinct yaitu potensi alamiah manusia yang mengaitkan pada agama di dalam menyelesaikan permasalahan.

Di dalam Alquran sudah jelas keimanan adalah salah satu intervensi terbaik ketika umat Islam menghadapi masalah. Melalui keimanan, maka kondisi psikis kita akan menjadi tenang. Namun realitanya banyak orang yang kesulitan mengelola kondisi emosi di masa pandemi. Penulis akan mengajak para pembaca untuk menyikapi masa pandemi melalui teori fase-fase perkembangan keagamaan.

Fase-fase perkembangan kegamaan, menurut Subandi, dibagi menjadi fase perkembangan anak-anak, remaja dan dewasa. Pada fase anak anak, keluarga adalah faktor yang paling penting untuk meningkatkan religious instinct. Proses perkembangan keagamaan anak-anak dikembangkan melalui proses peniruan. Di masa Pandemi ini, anak lebih banyak meluangkan waktu dengan orangtua di rumah.

Orangtua sebaiknya menjadi model yang baik dalam menstimulasi perkembangan keagamaan anak. Anak-anak akan meniru orangtua terutama perilaku ibadah selama masa pandemi. Orangtua yang semakin rajin melaksanakan ibadah, maka anak akan meniru perilaku mereka, sebaliknya, apabila orangtua berperilaku seperti mengeluh, marah-marah dan terlihat seperti orang depresi, anak akan meniru perilaku negatif tersebut.

Ritual Beribadah
Selain memiliki proses meniru yang cepat, anak-anak juga memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Orangtua perlu memfasilitasi pertanyaan anak terutama mengenai ritual beribadah dan ketuhanan. Anak akan memiliki persepsi positif terhadap Tuhannya berdasarkan arahan yang baik dari orangtua. Hal ini akan berdampak baik dalam perkembangan keagamaan pada tahap selanjutnya.

Fase kedua adalah fase pada masa remaja. Karakteristik kehidupan beragama pada masa kanak-kanak akan dibawa sampai pada masa remaja. Remaja yang melewati masa pendemi dengan pembiasan beribadah dan ritual agama yang lain sangat dipengaruhi pembiasaan pada masa kanak-kanak. Remaja memiliki pergaulan sosial yang luas, sehingga remaja akan mendapatkan informasi mengenai masa pandemi dari berbagai sumber. Remaja juga memiliki pemikiran kritis dalam menghadapi masa pandemi, misalnya alasan mengapa harus kembali ke agama. Orangtua tetap menjadi model yang baik dan mengarahkan pemikiran dan perilaku remaja agar religious instinctnya berkembang.

Fase terakhir adalah perkembangan keagamaan pada masa dewasa. Individu yang sudah mencapai usia dewasa atau minimal 21 tahun, seharusnya memahami konsep beragama secara komprehensif. Seorang dewasa menganggap sesuatu yang terjadi senantiasa dikembalikan kepada Tuhan. Pada saat menyikapi masa pandemi ini seorang yang dewasa seharusnya bisa meningkatkan keimanannya.

Seorang dewasa juga memiliki kehidupan beragama yang bersifat heuristik. Dia akan menyadari keterbatasan dalam kehidupan beragama sehingga selalu berusaha meningkatkan pemahaman yang dianutnya.

Pada momentum Ramadan ini, mari kita berlomba-lomba meningkatkan keimanan kita. Hal ini merupakan cara terbaik agar kita selalu sehat secara mental dan fisik.

*Penulis merupakan Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta