OPINI: OTG dan Fase Bahaya

Joko Hastaryo, Ketua IDI Sleman
22 Juni 2020 20:17 WIB Bhekti Suryani Aspirasi Share :

Sebelum masa pandemi Covid-19, istilah OTG (on the go) sudah lebih dulu populer sebagai perangkat penghubung gadget dengan USB flashdisk. Tapi belakangan ada istilah OTG lain yang juga tak kalah ngehits, yaitu orang tanpa gejala terkait Covid-19, sebagai pembeda dari ODP (orang dalam pemantauan) maupun PDP (pasien dalam pengawasan).

Covid-19 yang di fase awal pandemi terkesan begitu mengerikan, akhir-akhir ini seperti dikalahkan oleh OTG. Di awal fase pandemi di Indonesia, kasus terkonfirmasi positif Covid-19 identik dengan kegawatan medis bahkan kematian. Selain itu PDP dan kasus positif Covid-19 mempunyai masa rawat inap (length of stay) yang panjang dan memerlukan resource yang mahal.

Sebagai contoh, di Sleman, ada kasus PDP yang baru dinyatakan sembuh setelah dirawat di ruang isolasi sebuah rumah sakit selama dua bulan penuh. Tentu saja dengan upaya luar biasa dari tim medis rumah sakit dalam mengatasi masa kritis maupun mengelola penyakit penyerta (comorbid). Akan tetapi akhir-akhir ini banyak muncul kasus positif Covid-19 yang sangat cepat dinyatakan sembuh setelah hasil pemeriksaan laboratorium PCR (polymerase chain reaction) dua kali negatif.

Dalam sebulan terakhir ini, banyak pasien positif yang hanya dirawat lima hari sudah dinyatakan sembuh. Bahkan ketika saat pertama dinyatakan positif pun pasien tersebut secara fisik terlihat sehat-sehat saja. Maka sebutan untuk orang semacam ini adalah OTG atau orang tanpa gejala.

Fenomena OTG ini menciptakan dilema tersendiri bagi kalangan kesehatan. Bagi klinisi tenaga medis dan paramedis di rumah sakit, OTG ini dirasa tidak perlu dirawat di ruang isolasi yang mensyaratkan alat canggih, protokol medis ekstra ketat dan berbiaya mahal.

Akan tetapi dari aspek epidemiologis, OTG ini adalah orang yang berbahaya apabila dibiarkan beraktivitas di tengah masyarakat, bahkan andaikan dilakukan karantina mandiri sekalipun. Masalahnya, meskipun terlihat sehat, di dalam tubuhnya mengandung virus Corona yang dengan sangat mudah menular kepada orang yang ada di sekitarnya.

 Sudah jamak diketahui bahwa virus Corona sangat mudah menular, cukup melalui jalur percikan ludah (droplet) dari orang yang mengandung virus ke orang lain termasuk orang yang terlihat sehat maupun orang dengan sakit kronis yang sudah lebih dulu diderita.

Maka tidak berlebihan apabila saat ini Covid-19 disebut memasuki fase yang justru membahayakan. Ketika di awal masa pandemi kasus Covid-19 bergejala berat dan kompleks jelas pasien tersebut akan diisolasi di rumah sakit. Dengan kerja keras tim medis rumah sakit dan peralatan canggih angka kesembuhannya sangat tinggi.

Dalam kondisi seperti ini yang paling rawan tertular adalah tenaga dokter dan perawat yang merawat pasien sehingga untuk itu diperlukan alat pelindung diri (APD) lengkap dan aman.

Sebaliknya ketika OTG mendominasi, maka ia menjadi sangat berbahaya, karena baru ketahuan mengandung virus Corona setelah dilakukan uji laboratorium. Sebelum diperiksa laboratorium, OTG adalah sebagaimana orang sehat pada umumnya.

 

Masih berjualan di pasar seperti biasa, masih melakukan aktivitas ibadah seperti yang lainnya, masih gowes ke mana-mana karena sudah menjadi hobi sejak sebelum pandemi. Dan masih sering lupa tidak memakai masker maupun cuci tangan pakai sabun, serta melupakan protokol kesehatan lainnya.

Apabila OTG ini berinteraksi dengan orang yang memiliki penyakit berat maupun orang lanjut usia, maka akan terjadi penularan yang excesive, dan rantai epidemiologi akan kembali seperti di awal masa wabah yakni banyak kasus Covid-19 dengan gejala berat, butuh ventilator, butuh obat-obat mahal, butuh SDM dengan APD lengkap. Fenomena pingsan di mal atau objek wisata, mati mendadak di jalan, di pasar, akan kembali banyak terjadi.

Bisa dimengerti apabila dikatakan bahwa pihak yang paling berdebar-debar dengan istilah new normal adalah kalangan dokter dan manajemen rumah sakit. Sehebat apa pun tingkat disiplin masyarakat akan tetap terjadi risiko kebobolan penularan pada kelompok rentan, apalagi kalau kedisiplinan masyarakat tidak hebat.

Wacana new normal baru digaungkan di ibu kota, tapi eforianya sudah terasa sampai di daerah-daerah, bahkan sampai ke perdesaan, termasuk yang sebelumnya tidak diterapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Menurut berita di beberapa media tiap Sabtu dan Minggu, para goweser sudah seperti memproklamirkan kemerdekaannya dengan tumpah ruah di sepanjang Malioboro bahkan semua ruas jalan di Jogja. Demikian juga dengan aktivitas di pusat-pusat perbelanjaan, pasar tradisional, sepanjang jalan, aktivitas sudah seperti sebelum pandemi.

Padahal sejatinya DIY masih dalam masa tanggap darurat. Penerapan protokol kesehatan untuk semua aktivitas masyarakat masih perlu dilakukan secara ketat, dengan atau tanpa pengawasan dari orang lain. Semua orang yang terlihat sehat belum tentu bebas dari virus Corona, dan bisa saja akan terjadi rantai penularan baru.

Maka menjadi penting untuk kita sadari bersama, bahwa lebih baik kita menganggap semua orang di sekitar kita adalah OTG tanpa harus menjadi parno alias paranoid.

Tanpa kewaspadaan tinggi dan ketat, maka OTG Covid-19 ini akan seperti OTG (on the go) pada penghubung gadget ke USB flashdisk, bisa di mana-mana dan bisa menulari virus ke siapa saja.

 *Penulis Joko Hastaryo, Ketua Ikatan Dokter (IDI) Sleman