OPINI: Privasi dan Pengungkapan Diri Remaja di Media Sosial (Bagian-1)

Ilustrasi. - Freepik
29 Agustus 2020 05:02 WIB Amalia Rizkyarini, Konselor Rifka Annisa Aspirasi Share :

Saat ini alat komunikasi digital (teknologi informasi dan komunikasi) tengah berkembang sangat pesat di seluruh dunia. Perkembangan ini jelas sangat berpengaruh pada aspek kehidupan masyarakat. Hal yang tampak paling menonjol adalah besarnya dampak terhadap pada cara berinteraksi antar manusia baik dalam hubungan personal maupun hubungan profesional.

Pada awalnya teknologi memang dibentuk oleh manusia, namun seiring perkembangannya giliran manusia yang dibentuk oleh teknologi. Marshal Mc Luhan (Mauludi S, Socrates Café, 2018), seorang pakar media dan komunikasi, mengatakanm, “Kita membentuk sebuah alat lalu setelah itu alat yang membentuk kita.” Semua itu mungkin saja terjadi tanpa disadari jika kita kekurangan literasi digital. Manusia justru menjadi budak teknologi itu sendiri.

Berdasarkan data dari Global Webindex yang dipublikasi pada januari 2020, jumlah pengguna internet di Indonesia sebanyak 160 juta orang. Dan sebagian besar penguna internet di Indonesia di dominasi usia 13-35 tahun. Kemungkinan besar telah saja terjadi peningkatan selama pandemi karena diberlakukannya work from home atau school from home.

Dikutip dari hasil survei Tech Crunch sebuah lembaga riset pada tanggal 14-24 maret 2020, menyebutkan bahwa setidaknya terjadi peningkatan 25.000 pengguna baru Whatsapp. Secara keseluruhan, Whatsapp mengalami kenaikan trafik sebanyak 51% secara global selama diterapkannya karantina wilayah. Dalam sebuah pertemuan membahas kesehatan jiwa yang dilakukan daring oleh kementerian kesehatan, perwakilan RSCM FK UI menyampaikan hasil survei yang menyebutkan bahwa ketergantungan pada internet pada orang dewasa meningkat lima kali lipat yakni dari 3,3% menjadi 14% sedangkan pada remaja angkanya justru lebih tinggi mencapai 19,3% dengan rata-rata penggunaan perharinya 11,6 jam.

Fakta meningkatnya perkembangan dan kebutuhan internet secara masif ini membuat kita harus menyoroti beberapa hal diantaranya. Pertama, jumlah pengguna internet yang semakin besar ini tentunya membutuhkan perhatian serius, karena sebagai pengguna kita perlu menyadari konsekuensinya dalam skala luas. Kedua, kita perlu menyadari bahwa internet telah mempengaruhi cara manusia berpikir, berperilaku dan berinteraksi antar manusia baik secara individu maupun kelompok.

Perubahahan cara berinteraksi ini mempengaruhi aspek psikologi, budaya, dan sosiologis dari setiap individu penggunanya. Ketiga, di Indonesia perkembangan internet belum sebanding dengan kemelekan penggunanya terhadap literasi digital. Hal ini jelas menimbulkan ketimpangan sehingga memberikan dampak negatif akibat rendahnya kemampuan masyarakat untuk menggunakannya secara produktif. Sebagai akibatnya, masyarakat kita sangat rawan menjadi korban kejahatan daring.

Semakin tinggi penggunaan internet yang tidak dibarengi dengan literasi digital pada penggunanya, membuat faktor kerentanan pengguna mengalami hal-hal yang tidak diinginkan juga semakin buruk. Bedasarkan data kasus yang tercatat di Rifka Annisa, Komnas Perempuan, Safenet dan lembaga layanan lainnya menyebutkan bahwa terjadi peningkatan jumlah perempuan dan anak yang mengalami kekerasan gender berbasis daring. Rifka Annisa mencatat bahwa perempuan yang mengalami kekerasan berbasis daring selama bulan Maret-Juli sebanyak 22 kasus yang di dominasi oleh usia 18-25 tahun, dimana usia ini termasuk dalam kategori remaja akhir.

Remaja dan Medsos
Banyaknya data kasus remaja yang mengalami kekerasan berbasis daring di satu sisi cukup memprihatinkan, namun di sisi lain kita perlu mengapresiasi bahwa remaja saat ini telah berani untuk melaporkan dan meminta bantuan kepada lembaga-lembaga layanan yang menyediakan layanan daring. Peningkatan jumlah klien usia remaja selama pandemi ini menunjukkan remaja lebih siap terhadap kemajuan teknologi sehingga mereka bisa menemukan layanan yang sesuai dengan gaya hidup mereka yaitu melalui media daring. Melalui layanan daring ini, remaja dapat berkonsultasi dekat dengan konselornya tanpa mengharuskan tatap muka yang selama ini membuat remaja kesulitan jika sebuah lembaga layanan tersebut hanya buka di jam-jam sekolah atau kuliah.

Bentuk kekerasan berbasis daring yang terlaporkan di Rifka Annisa berbeda-beda, mulai dari penyalahgunaan akun, foto profil, atau data tanpa seizin korban, pengancaman untuk menyebarkan video atau foto pribadi, pemaksaan melakukan aktivitas seksual yang direkam dalam bentuk video, hingga balas dendam dengan sengaja menyebarkan foto atau video pribadi korban. Pelaku dalam kasus ini bisa orang asing yang tidak dikenal oleh korban, namun bisa juga orang-orang terdekat korban yang menjalin relasi intim dengan korban.

Saat ini media sosial tidak hanya menjadi gaya hidup untuk menunjukkan eksistensi diri remaja, tetapi juga salah satu kebutuhan penting untuk mengakses pendidikan selama masa pandemi. Melihat status tanggap darurat di DIY yang terus diperpanjang, menyebabkan remaja tidak bisa melakukan kegiatan tatap muka baik untuk sekolah, kuliah, atau sekedar berkumpul dengan rekannya.

Pemberlakuan jaga jarak sosial ini berdampak pada pemindahan aktivitas luring berubah menjadi daring. Setelah hampir enam bulan kebijakan ini diterapkan, membuat remaja dan masyarakat secara umum semakin terbiasa dengan media digital dan internet. Namun tidak dipungkiri, hal ini juga seringkali menimbulkan kebosanan dan kelelahan, misalnya jika harus melakukan sekolah atau kuliah daring dalam durasi waktu yang panjang setiap harinya.

Banyak remaja kemudian mengalihkan rasa bosan tersebut dengan bermain di media sosial, seperti WA, Youtube, Twitter, Instagram, Tinder, atau aplikasi-aplikasi dating daring dan lain-lain. Melalui media sosial ini mereka bisa mengenal dan menjalin hubungan interpersonal dengan orang asing tanpa harus bertatap muka. Mereka bisa saling menjalin kedekatan dan terbuka satu sama lain via chat, telepon, atau panggilan video.