OPINI: Peran Bank Mendampingi UMKM

Antrean pelaku UMKM mendaftar pengajuan Bantuan Sosial Produktif di Kantor Dinkop UKM Solo, Rabu 12 Agustus 2020. - JIBI/Burhan Aris Nugraha
05 September 2020 05:02 WIB Hery Gunardi, Wakil Direktur Utama PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Aspirasi Share :

Sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) tidak terlepas dari hantaman krisis sebagai dampak pandemi Covid-19. Pagebluk telah menyebabkan produksi terhambat, permintaan menurun, distribusi terhambat, kesulitan bahan baku, serta permodalan terhambat.

Bukti nyata dari adanya hantaman krisis kali ini terhadap UMKM terlihat dari banyaknya pelaku usaha di sektor tersebut yang mengajukan restrukturisasi kredit.

Hingga akhir Juni 2020 misalnya, jumlah sasaran realisasi restrukturisasi kredit telah mencapai 5,29 juta debitur UMKM dengan total outstanding Rp317,29 triliun. Nilai itu 42,83% dari keseluruhan kredit yang direstrukturisasi.

UMKM memegang peranan kunci dalam penyelenggaraan perekonomian di Indonesia. Hingga 2018, jumlah UMKM mencapai 64,19 juta unit usaha dengan serapan tenaga kerja 116,97 juta jiwa. Sektor ini menjadi tulang punggung perekonomian dengan kontribusi 60% terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.

Pemerintah telah menempatkan dana Rp30 triliun di Himpunan Bank Negara (Himbara) agar dapat menyalurkan kredit 2--3 kali dari nilai simpanan tersebut. Setelah lebih dari satu bulan program ini berjalan, bank pelat merah telah menyalurkan pinjaman Rp35 triliun.

Sebelumnya Ketua Satuan Tugas Pemulihan dan Transformasi Ekonomi Nasional Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa dana pemerintah telah menjadi modal Himbara menyalurkan kredit kepada UMKM.

Sektor UMKM merupakan segmen khusus yang menjadi fokus layanan Bank Mandiri sebagai salah satu anggota Himbara. Perseroan berupaya meningkatkan pertumbuhan portofolio bisnis di sektor itu melalui sinergi strategis dengan seluruh stakeholders dan mendorong pelaporan UMKM secara grup usaha.

Sesuai rencana bisnis pada awal 2020 atau sebelum pandemi terjadi, kami telah menyiapkan beberapa strategi yang terbagi ke dalam strategi organik dan nonorganik untuk mendorong pengembangan sektor UMKM.

Strategi organik adalah pengembangan business cluster dengan spesialisasi komoditas tertentu yang berbasis pengembangan masyarakat. Misalnya penyaluran kredit usaha untuk industri kreatif seperti fotografi, film, studio musik, fashion, gaya hidup, studio desain, dan kerajinan tangan. Dilakukan pula ekspansi saluran distribusi melalui MKS (tenaga penjual), agen Mandiri, pengembangan link/e-money di UMKM, dan optimalisasi value chain dengan wholesale.

Selanjutnya, melakukan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) seperti Mandiri Sahabatku (khusus TKI), Rumah Kreatif BUMN (UMKM batik/tunik), BUMDES, dan WMM.

Strategi organik melalui pengembangan kluster komoditas tertentu berbasis pengembangan masyarakat misalnya dilakukan pada klaster padi. Untuk itu dibuat kredit usaha rakyat (KUR) skema kerja sama dengan BUMN pangan, kelompok tani, dan pengepul lokal. Sementara strategi nonorganik bagi UMKM dilakukan secara bersama-sama dengan grup usaha perseroan, yakni Bank Syariah Mandiri (BSM) dan Bank Mantap.

BSM menyalurkan kredit syariah kepada UMKM dengan kriteria kekayaan bersih debitur maksimal Rp10 miliar dan penjualan tahunan maksimal Rp50 miliar. Adapun Bank Mantap menyalurkan kredit produktif bagi para pensiunan yang ingin membuka usaha UMKM.

Selain itu kerja sama dengan e-commerce seperti Tokopedia dan Bukalapak untuk memberikan kredit usaha kepada pebisnis online shop.

Dengan fintech seperti Amartha, Crowde, Investree, dan Koinworks untuk memperluas penyaluran kredit produktif.

Di tengah pandemi yang masih berlangsung, fokus bank saat ini adalah, pertama mendorong pertumbuhan melalui penyaluran kredit yang selektif, melakukan restrukturisasi terhadap kredit debitur yang terdampak pandemi, serta aktif berkontribusi dalam penyaluran kredit sekaligus ikut serta dalam program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).

Hingga 13 Agustus 2020, kami telah menyalurkan PEN Rp26,9 triliun atau 88% dari target perseroan Rp30 triliun yang menyasar pada sektor riil padat karya untuk mendorong penyerapan tenaga kerja.

Realisasi ini juga melampaui alokasi PEN yang diamanahkan kepada perseroan senilai Rp10 triliun pada akhir Juni. Perseroan juga menyiapkan dana pendamping dari internal perusahaan senilai Rp27 triliun, karena sudah berkomitmen kepada pemerintah untuk melakukan leverage amanah penyaluran tersebut hingga menjadi tiga kali lipat.

Di antara nasabah-nasabah baru yang memperoleh dana PEN tersebut sebagian besar berasal dari segmen mikro dengan sektor bisnis di bidang perdagangan. Bahkan ada arahan juga untuk menyalurkan PEN kepada nasabah-nasabah yang sudah memperoleh relaksasi kredit atau restrukturisasi sebagai tambahan modal kerja bagi mereka.

Sampai dengan 13 Agustus 2020 kami telah melakukan restrukturisasi kredit atas lebih dari 545.000 debitur dengan nilai baki debet kredit Rp119,3 triliun atau 15,8% dari total portofolio perseroan pada Juni. Dari total debitur yang direstrukturisasi, sebanyak 324.000 debitur atau 34% di antaranya merupakan segmen UMKM dengan nilai baki debet Rp32,6 triliun.

Sampai akhir tahun, perseroan diperkirakan masih melakukan restrukturisasi kredit hingga sekitar Rp160 triliun. Namun bank tetap mendukung rencana regulator untuk memperpanjang program restrukturisasi kredit sebagaimana diamanatkan POJK 11/2020 yang berakhir pada Maret 2021.

Fokus kedua adalah melakukan efisiensi biaya. Di Bank Mandiri, biaya operasional secara kuartalan menurun sebesar 8,7%. Fokus ketiga yakni meningkatkan akselerasi digital banking untuk menjaga kinerja. Layanan ini dapat memenuhi kebutuhan nasabah yang tidak dapat datang langsung ke cabang, terutama di tengah penerapan pembatasan sosial berskala besar.

UMKM terbukti menjadi penggerak terbesar ekonomi Indonesia, dan menjadi penyelamat saat krisis ekonomi dan moneter pada tahun 1998 dan 2008. Sudah menjadi tugas kita semua untuk menjaga dan menopang UMKM sebagai sendi-sendi perekonomian bangsa ini agar mampu melewati krisis 2020.

Sumber : Bisnis Indonesia