OPINI: Menuju Pemilihan Pemimpin Terbaik

Ilustrasi. - Freepik
26 Oktober 2020 17:57 WIB Tri Harsini Wahyuningsih, Direktur UPP STIM YKPN Yogyakarta Aspirasi Share :

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dipastikan tidak akan ditunda lagi karena adanya pandemi Covid-19, seperti telah diungkapkan oleh Mahfud MD, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan. Hari pencoblosan ditetapkan pada 9 Desember 2020 di 270 wilayah Indonesia, yang meliputi sembilan provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota. Setiap wilayah telah menetapkan bakal pasangan calon (paslon) kepala daerahnya pada tanggal 23 September 2020.

Dengan demikian, tinggal satu setengah bulan lagi kita harus menetapkan siapa pemimpin pilihan kita, khususnya bagi masyarakat yang tinggal di wilayah pergantian kepemimpinan tersebut. Walaupun masih dalam kondisi pandemi, kampanye tetap berjalan intensif di setiap daerah. Masa kampanye telah berlangsung sejak 26 September hingga 5 Desember 2020 nanti.

Berbagai kegiatan dilakukan oleh tim sukses para bakal paslon dalam upaya untuk mendapatkan suara terbanyak. Semakin gencar kampanye maka kita akan semakin bingung dalam menetapkan pilihan. Untuk itu, kita perlu memahami kembali beberapa hal yang berhubungan dengan tugas pemimpin, pemimpin ideal, dan menjadi pemilih cerdas. Dengan memahami ketiga hal tersebut, setidaknya dapat membantu kita untuk menentukan pemimpin terbaik pilihan kita.

Tugas Pemimpin
Untuk mewujudkan janji-janji yang telah disampaikannya dalam masa kampanye, para kepala daerah terpilih nantinya tidak mungkin ‘berjalan’ sendirian. Mereka akan merealisasikannya dengan para pejabat yang menjadi anak buahnya, dengan dukungan masyarakat tentu saja. Namun demikian, kesuksesan perwujudan tujuan pemerintahannya akan sangat tergantung pada kemampuan para pemimpin dalam menjalankan tugasnya.

Tugas seorang pemimpin tidaklah sederhana karena dia harus berdiri untuk kepentingan banyak pihak. John P. Kotter, seorang professor bidang kepemimpinan di Harvard Business School, menyampaikan ringkasan praktis tentang tugas-tugas seorang pemimpin. Pertama, menentukan arah, artinya seorang pemimpin harus terlebih dahulu membangun visi tentang masa depan dan strategi-strategi untuk menciptakan perubahan yang diperlukan guna mencapai visi tersebut. Kedua, memadukan orang, artinya seorang pemimpin harus dapat mengkomunikasikan arah yang akan ditempuh dengan kata-kata dan perbuatan kepada semua pihak yang mungkin diperlukan kerjasamanya untuk mencapai visi tersebut.

Tugas ketiga adalah memotivasi dan memberi inspirasi, artinya seorang pemimpin harus mampu menyemangati orang-orang yang dipimpinnya untuk mengatasi hambatan-hambatan dengan memuaskan kebutuhan mereka. Tidak kalah pentingnya, tugas pemimpin yang berikutnya adalah membuat perubahan bila terjadi sesuatu diluar prediksi dari tujuan yang telah ditetapkan.

Pemimpin Ideal
Kriteria pemimpin ideal telah banyak disampaikan oleh para ahli di bidang ini. Dalam pembahasan ini kriteria pemimpin ideal mengacu pada figur Rasulullah SAW yang memiliki empat sifat utama, yaitu sidiq (jujur), amanah (terpercaya), tabligh (komunikatif) dan fathonah (cerdas). Keempat kriteria ini akan membawa kesuksesan kepemimpinan seseorang bila menjadi pegangan hidupnya.

Pemimpin yang jujur adalah pemimpin yang akan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat, karena kejujuran sebenarnya merupakan syarat utama bagi seorang pemimpin. Apabila kepercayaan dari masyarakat telah diperoleh maka akan sangat mudah bagi seorang pemimpin untuk mengajak pengikutnya melaksanakan tujuan yang telah ditetapkannya. Kejujuran juga akan memudahkannya untuk mengahadapi tantangan/kendala dalam melaksanakan pemerintahannya.

Pemimpin yang amanah adalah pemimpin yang menjaga kepercayaan masyarakat yang telah diserahkan kepadanya. Dalam diri pemimpin terpercaya akan selalu ada rasa tanggung jawab dan komitmen untuk memenuhi janji-janjinya kepada masyarakat. Mereka akan lebih memprioritaskan kepentingan masyarakat dibandingkan kepentingan individu dan kelompoknya. Rela berkorban menjadi salah satu ciri pemimpin amanah, demi mewujudkan rasa tanggung jawabnya yang besar.

Pemimpin yang komunikatif adalah pemimpin yang mampu berkomunikasi secara baik dengan semua orang. Keterbukaan menjadi ciri utama pemimpin yang komunikatif. Masyarakat tidak akan segan menyampaikan aspirasinya bila memiliki pemimpin yang memiliki sifat tabligh karena mereka merasa memiliki kedekatan dengan pimpinannya.

Pemimpin yang cerdas adalah pemimpin yang memiliki kemampuan rata-rata di atas pengikutnya. Pribadi pembelajar menjadi ciri utama pemimpin yang cerdas. Kecerdasan yang dimilikinya akan lebih meningkatkan kepercayaan dirinya. Pemimpin yang cerdas tidak akan mudah putus asa bila terjadi permasalahan karena dengan kecerdasannya akan memunculkan inisiatif untuk mencari solusi dari permasalahan tersebut. Pemimpin yang cerdas akan memiliki keberanian untuk melakukan perubahan bila menghadapi sebuah kondisi yang dirasa sulit untuk mencapai tujuannya.

Selain empat kriteria tersebut, untuk kemajuan Indonesia, seorang pemimpin di era digital ini harus memiliki digital mindset. Seseorang yang memiliki pola pikir digital harus bisa memanfaatkan teknologi untuk proses kerja yang efektif dan efisien.

Pemilih Cerdas
Bakal pasangan calon yang telah ditetapkan di semua wilayah pemilihan semuanya merupakan orang-orang baik karena merupakan orang-orang pilihan. Permasalahannya, kita harus memilih pemimpin terbaik diantara yang baik-baik tersebut. Undang-Undang No.10/2016 pasal 210 (7) telah menyebutkan bahwa Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, serta Walikota dan Wakil Walikota hasil pemilihan tahun 2020 menjabat sampai dengan tahun 2024. Pilihan kita ikut menentukan bagaimana ‘nasib’ daerah kita sampai dengan tahun 2024 mendatang. Dengan demikian kita harus menyadari arti penting diri kita sebagai pemilih, sehingga kita harus mampu menjadi pemilih yang cerdas.

Pemilih yang cerdas adalah pemilih yang telah mempertimbangkan bakal paslon pilihannya secara obyektif. Kita telah mengetahui apa sebenarnya tugas pemimpin dan bagaimana kriteria pemimpin yang ideal. Dengan menelusuri track record bakal paslon pilihan kita, kita akan mengetahui apakah kriteria tersebut mereka miliki ataukah tidak.

Track record yang perlu ditelusuri diantaranya latar belakang keluarga, pendidikan, kehidupan dan aktivitas sosial, karya, maupun hasil kerja yang sekiranya bermanfaat untuk orang banyak. Dari hasil penelusuran tersebut kita akan bisa memperkirakan apakah pemimpin pilihan kita itu dapat melaksanakan tugasnya ataukah tidak. Langkah berikutnya adalah mencerna kembali apakah visi misi yang disampaikannya itu realistis untuk mereka lakukan ataukah tidak.

Pemilih yang cerdas adalah pemilih yang tidak tergoda untuk menerima iming-iming dari para bakal paslon, yang biasanya berupa uang atau fasilitas lainnya. Sebagai pemilih, kita menginginkan pemimpin yang jujur dan amanah. Sifat ini juga harus kita miliki, jadilah pemilih yang jujur dan amanah.