Mengulang Ramadan di Masa Pandemi

Restu Faizah, Dosen Prodi Teknik Sipil FT UMY
14 April 2021 06:17 WIB Restu Faizah, Dosen Prodi Teknik Sipil FT UMY Hikmah Ramadan Share :

Ramadan 1442 H kembali hadir, sementara pandemi Covid-19 belum juga berakhir. Masih teringat Ramadan setahun yang lalu, umat Islam tiba-tiba harus berdiam diri di rumah, dan tidak bisa meramaikan rumah Allah, menggaungkan ayat-ayat-Nya, dan melakukan buka dan tarawih berjamaah.

Umat Islam merasa kehilangan Ramadan yang selalu dirindukan, dimana amal ibadah diganjar beberapa kali lipat. Kini umat Islam harus mengulang kembali kekecewaan itu. Ramadan hadir kembali, namun pandemi belum juga usai. Sebagai orang yang beriman, kekecewaan tidak boleh menimbulkan salah langkah. Sinarilah hati dengan berita-berita yang telah disampaikan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepada kamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un”.Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabb mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Baqarah: 155-157).

Hadirnya Covid-19 adalah bagian dari ujian-Nya yang menimpa semua manusia, namun hanya mereka yang sabarlah yang akan mendapatkan rahmat dan keberkatan dari Allah SWT. Orang-orang yang sabar akan mengembalikan fenomena Covid-19 ini kepada sang pencipta. Bahwa ada yang maha kuasa di balik semua ini. Manusia hanya diperintahkan untuk menjalankan ikhtiar sesuai dengan petunjuk yang telah diberikan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Peristiwa adanya wabah sudah pernah terjadi pada masa Rasulullah Muhammad SAW, yaitu berupa penyakit pes, lepra, dan penyakit menular lainnya. Akibat wabah telah mengakibatkan beberapa sahabat Nabi Muhammad meninggal dunia, yaitu Yazid Ibn Abi Sufyan, Mu’adz bin Jabbal, Abu Ubaidah, Syarbil bin Hasanah, dan Al-Fadl ibn Al-Abbas. Maka nabipun melarang umatnya untuk memasuki daerah yang sedang terkena wabah atau penyakit menular.

"Jika kalian mendengar tentang wabah di suatu negeri, maka janganlah kalian memasukinya. Tetapi jika wabah terjadi di tempat kalian berada, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu." (HR. Bukhari Muslim).

Metode karantina atau isolasi yang diterapkan pada masa pandemi covid-19 ini pun juga pernah diterapkan Nabi pada masa itu. Bahkan Nabi memerintahkan untuk membangun tembok-tembok yang membatasi daerah yang terkena wabah, agar wabah tidak meluas ke daerah lain. Dikatakan oleh Nabi bahwa orang-orang yang menepati untuk berdiam diri dengan penuh kesabaran demi tidak menyebarnya wabah akan mendapatkan pahala sebagai mujahid di jalan Allah atau seperti pahala mati syahid.

Dari Aisyah Ummul Mukminin ra, Beliau berkata: Saya pernah bertanya kepada Rasulullah saw tentang tha’un (wabah penyakit), lalu Rasulullah SAW memberitahukan kepadaku wabah itu adalah siksa yang dikirim Allah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya dan Dia menjadikannya sebagai rahmat bagi orang-orang beriman.

Siapa yang menghadapi wabah lalu dia bersabar dengan tinggal di dalam rumahnya seraya bersabar dan ikhlas sedangkan dia mengetahui tidak akan menimpanya kecuali apa yang telah ditetapkan Allah kepadanya, maka ia mendapat pahala seperti pahala orang yang mati syahid”. (HR. Bukhari)

Berdasarkan kisah, maka keputusan adanya social distancing, Pembatasan Sosial Berskala besar (PSBB), isolasi mandiri, penerapan protokol kesehatan, atau istilah lainnya, merupakan penerapan nilai-nilai Islam yang sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad dan para sahabat. Barangsiapa ikut menyukseskan program-program yang bertujuan untuk memutus rantai persebaran Covid-19 dengan penuh kesabaran, maka Allah menjanjikan pahala sebagaimana mati syahid. Apakah Ramadan tahun depan umat Islam sudah bisa terbebas dari Corona? tentunya tergantung kesungguhan umat ini dalam usaha memutus rantai penularannya.