OPINI: Dari Ramadanomics Menuju Lebaranomics

Sri Susilo, Dosen Prodi Ekonomi Pembangunan, Fakultas Bisnis dan Ekonomika, Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Kegiatan ekonomi di bulan Ramadan (Ramadanomics) yang kemudian dilanjutkan dengan kegiatan ekonomi Lebaran (Lebaranomics), tetap menarik untuk dicermati baik dari sisi permintaan dan penawaran. Fenomena dan masalah ekonomi yang muncul dalam rangkaian kegiatan tersebut menjadi topik klasik. Pada  tahun 2020 dan 2021, Ramadanomics dan Lebaranomics dalam kondisi Pandemi Covid-19. Hal tersebut menjadikan kedua kegiatan ekonomi tersebut berbeda dibandingkan dengan kondisi sebelum pandemi.

Artikel singkat ini dibagi menjadi tiga bagian. Setelah pendahuluan, dibahas Ramadanomics. Bagian selanjutnya membahas Ramadanomics. Selanjutnya pada bagian akhir berisi catatan penutup.

Ramadanomics

Bulan Ramadan dari sisi ekonomi dikaitkan dengan terjadinya inflasi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi pada bulan April 2021 (tanggal 13 April 2021 sudah memasuki Ramadan) mencapai 0,13% dibandingkan bulan sebelumnya (month on month/mom). Pada bulan Maret 2021 inflasi hanya sebesar 0,08% (mom). Sementara inflasi bulanan pada Januari-Maret 2021 masing-masing 0,26%, 0,1%, dan 0,08%. Secara akumulatif, inflasi sepanjang Januari-April 2021 mencapai 0,58%.

Penyumbang inflasi sebesar 0,13% tersebut adalah komoditas daging ayam ras dengan andil sebesar 0,06%. Komoditas lain menyumbang inflasi adalah minyak goreng, jeruk, bahan bakar rumah tangga, emas perhiasan, anggur, pepaya, rokok kretek filter, ikan segar, serta ayam hidup dengan andil masing-masing 0,01%. Berdasarkan survei pemantauan harga Bank Indonesia (BI) pada minggu ke-5 April 2021, inflasi disumbang oleh peningkatan harga daging ayam ras, jeruk, minyak goreng, daging sapi, dan emas perhiasan.

Kenaikan harga komoditas pangan pada bulan Ramadan dan Lebaran (juga Natal dan Tahun Baru), disebabkan faktor berikut: (1) meningkatnya permintaan (over demand). (2) Reaksi masyarakat terhadap kenaikan harga komoditas. (3) Sikap produsen terhadap informasi kenaikan harga.

Meningkatnya permintaan terjadi karena konsumsi masyarakat terhadap komoditas pangan meningkat secara serentak. Kondisi permintaan yang melonjak sebenarnya sudah diantisipasi dengan tambahan pasokan komoditas di pasar. Artinya kenaikan permintaan sudah diimbangi kenaikan pasokan atau penawaran.

Di sisi lain, reaksi produsen atau penjual yang dilakukan tetap menaikkan harga komoditas meskipun pasokan di pasar mampu mengimbangi kenaikan permintaan. Kebijakan kenaikan harga  tersebut juga direspon oleh konsumen atau pembeli dengan menganggap hal yang biasa. Artinya bagi konsumen kenaikan harga di bulan Ramadan merupakan kewajaran.

Di bulan Ramadan juga memunculkan pasar Ramadan yang menyediakan berbagai makanan dan minuman (Takjil) untuk berbuka puasa. Di Kota Yogyakarta di beberapa titik menjadi “pasar dadakan” atau “pasar kaget”. Beberapa titik termaksud antara lain Jogokaryan, Langenastran, Kauman, Pakualaman, Njeron Beteng dan tempat lainnya. Produsen sekaligus penjual di Pasar Ramadan mayoritas adalah pelaku usaha mikro atau skala rumah tangga. Semua tentu sepakat “Ramadan Membawa Berkah” bagi mereka.

Di bulan Ramadan juga mendorong masyarakat untuk buka puasa bersama (bukber). Acara bukber ini tentu dapat menggerakkan atau menggairahkan usaha restoran, warung makan, kafe dan sejenisnya. Beberapa perusahaan swasta juga menyelenggarakan rapat terbatas dan dilanjutkan bukber. Kondisi tersebut dapat mendorong omzet dari usaha yang terkait dengan penyediaan jasa makanan dan minuman. Selanjutnya di minggu terakhir Ramadan, masyarakat juga membeli kebutuhan nonpangan seperti pakaian, sarung, sepatu, dan perhiasan.

Lebaranomics

Kegiatan ekonomi pada Hari Raya Lebaran merupakan rangkaian kegiatan ekonomi di bulan Ramadan. Momentum Lebaran dapat mendorong beberapa kegiatan ekonomi yang ujungnya dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi (Lebaran led growth) dalam jangka pendek.

Lebaran sering dikaitkan dengan Tunjangan Hari Raya (THR), baik bagi Aparat Sipil Negara (ASN), TNI, Polri maupun karyawan/pekerja swasta. THR yang diberikan sebelum Lebaran tersebut tentu dapat mendorong pengeluaran konsumsi dan pada gilirannya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi (consumption led growth).

Tradisi lebaran sedikit banyak juga berkontribusi dalam pemerataan pendapatan. Seperti diketahui, momentum lebaran mendorong para perantau (di dalam dan luar negeri) mengirim uang kepada orang tua dan atau saudaranya di kampung halaman. Sebagai contoh, dana remitansi adalah transfer uang yang dilakukan pekerja asing ke penerima di negara asalnya.

Data Bank Indonesia (2020), menunjukkan jumlah dana remintasi periode tahun 2016-2019 selalu meningkat. Dana remintansi Tenaga Kerja Indonesia (TKI) tahun 2016, 2017, 2018, dan 2019 masing-masing sebesar Rp 119 Triliun per tahun, Rp. 108 Triliun per tahun, Rp 128 Triliun  per tahun, dan pada tahun 2019 sebesar Rp 138 Triliun per tahun. Pada tahun 2020 terjadi penurunan sebesar 17,6% dibandingkan tahun sebelumnya.

Pascalebaran (seminggu setelah lebaran) juga terjadi lonjakan di lokasi tujuan wisata, seperti Taman Wisata, Kebun Binatang, Pantai, Gunung dan sebagainya. Kondisi tersebut tentu dapat mendorong aktivitas pariwisata. Usaha pariwisata dan turunannya, termasuk Usaha Mikro dan Kecil (UMK), memperoleh peningkatan pendapatan yang signifikan.

Catatan Penutup

Kondisi Pandemi Covid-19 tentu berdampak pada Ramadanomics dan Lebaranomics. Pembatasan mobilitas masyarakat, termasuk Mudik, berdampak pada kegiatan ekonomi khususnya sub-sektor pariwisata dan transportasi serta turunannya. Dampak aktivitas ekonomi Ramadan dan Lebaran selama masa pandemi (pada 2020 dan 2021) tentu tidak sekuat dibandingkan masa sebelum pandemi terjadi.

Penulis yakin, meskipun ada larangan mudik namun dampak Ramdhanomics dan Lebaranomics masih nyata bagi perekonomian. Untuk diketahui, di masa pandemi ini dibutuhkan stimulus agar roda perekonomian dapat begerak. Kebijakan mudik terbatas dalam wilayah aglomerasi tertentu dipastikan dapat menggerakkan ekonomi lokal. Artinya meskipun masa pandemi, Ramadanomics dan Lebaranomics masih mampu menjadi stimulus bagi perekonomian. Sebagai penutup, penulis kutip pendapat ustaz Adiwarman Karim yang sangat relevan dengan Lebaran di masa pandemi: “Mudik Jiwanya, Kirim Uangnya dan Unboxing Hadiahnya”.