OPINI: Lapangan Kerja Produktif di Indonesia

Pekerja memilah sachet minuman energi bubuk Kuku Bima Energ-G di sepanjang conveyor di bagian pengemasan pabrik PT Industri Jamu Dan Farmasi Sido Muncul Tbk. (SIDO) di Semarang, Jawa Tengah, Indonesia, Senin (10/2/2014). Bloomberg - Dimas Ardian

Indonesia telah mengambil berbagai langkah besar untuk menjadi negara kelas menengah dan terus berupaya menjadi negara berpenghasilan tinggi yang berkembang pada 2045. Menyadari pentingnya penciptaan lapangan kerja dalam perjalanan ini, Indonesia terus berkomitmen untuk menciptakan kondisi penciptaan lapangan kerja yang kokoh.

Ke depan, bagaimana Indonesia dapat mengubah krisis Covid-19 menjadi peluang untuk membangun ke depan dengan lebih baik dan menciptakan tidak hanya sembarang pekerjaan tetapi ‘pekerjaan kelas menengah’, yang didefinisikan sebagai pekerjaan yang memungkinkan rata-rata rumah tangga Indonesia mampu untuk hidup seperti kelas menengah?

Memanfaatkan berbagai intervensi kebijakan komprehensif yang sedang berlangsung untuk mengurangi kesenjangan infrastruktur, sumber daya manusia, dan layanan keuangan, laporan Bank Dunia Pathways to Middle-Class Jobs in Indonesia menawarkan tiga strategi terintegrasi yang berfokus pada peningkatan pertumbuhan produktivitas secara menyeluruh, mengalihkan aktivitas ekonomi dan pekerja ke sektor, perusahaan, dan pekerjaan yang lebih produktif dan menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi, serta membangun angkatan kerja yang memiliki keterampilan yang diperlukan untuk mendapatkan pekerjaan kelas menengah, termasuk keterampilan kognitif, interpersonal, dan digital.

Tiga strategi yang terintegrasi ini mencoba menjawab kendala sisi permintaan dan penawaran dalam penciptaan lapangan kerja kelas menengah. Dari sisi permintaan, penciptaan lapangan kerja kelas menengah dibatasi oleh pertumbuhan produktivitas tenaga kerja yang lemah dan kurangnya dinamisme dan ekspansi perusahaan.

Transformasi struktural di Indonesia belum membawa cukup perbaikan dalam meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Hambatan persaingan, ketidakpastian peraturan, dan perdagangan internasional dan investasi yang terbatas menghambat dinamisme dan pertumbuhan perusahaan.

Selanjutnya, kebijakan kewirausahaan yang dibingkai dengan pendekatan kesejahteraan saja, misalnya dengan hanya memberikan bantuan tunai, belum sepenuhnya berhasil dalam meningkatkan produktivitas usaha rumahan di mana dua pertiga pekerjaan berada dan di UKM.

Di sisi penawaran, sebagian besar tenaga kerja saat ini belum memiliki keterampilan yang diperlukan untuk pekerjaan kelas menengah, karena keterampilan mereka yang masih rendah dan sistem pengembangan tenaga kerja yang belum memadai.

Lalu apa rekomendasi kebijakan utamanya? Strategi pertama adalah mempromosikan pertumbuhan produktivitas secara menyeluruh, tidak terkecuali di sektor dengan nilai tambah yang masih rendah.

Untuk meningkatkan produktivitas secara menyeluruh, pembuat kebijakan dapat meningkatkan persaingan dan daya saing yang dapat membantu perusahaan memasuki pasar, berinovasi, dan tumbuh.

Berbagai kebijakan ini berfokus pada penurunan biaya perdagangan yang tinggi, peningkatan akses ke talenta internasional yang sangat terampil dan dibutuhkan di Indonesia, dan penarikan investasi asing langsung yang berorientasi ekspor dan berdasarkan efisiensi dan terintegrasi dengan rantai nilai global.

Kebijakan UKM dan dukungan yang ditargetkan khusus untuk usaha rumahan dapat berfokus pada peningkatan produktivitas dan efisiensi, bukan hanya kesejahteraan dengan sekadar memberikan bantuan tunai.

Kedua, pergeseran aktivitas ekonomi dan pekerja yang lebih jelas ke sektor, perusahaan dan pekerjaan yang lebih produktif dan berpenghasilan lebih tinggi dapat memajukan agenda penciptaan lapangan kerja kelas menengah.

Bahkan jika reformasi untuk meningkatkan produktivitas secara menyeluruh bersifat buta sektor, Indonesia dapat memprioritaskan reformasi kebijakan tertentu di sektor-sektor yang dapat menciptakan lapangan kerja kelas menengah.

Misalnya, menargetkan strategi promosi investasi di sektor dan proyek, termasuk proyek infrastruktur yang memiliki kemungkinan lebih besar untuk menjadi sumber penciptaan pekerjaan kelas menengah.

Sistem informasi pasar tenaga kerja dan mekanisme pencocokan antara pekerja dan pemberi kerja yang kuat, undang-undang yang tidak mendisinsentifkan perubahan pekerjaan, dan dukungan untuk perpindahan pekerjaan, termasuk melalui Jaminan Kehilangan Pekerjaan, dapat membantu upaya persiapan menuju dan naik ke pekerjaan yang lebih baik.

Terakhir, membangun tenaga kerja yang memiliki keterampilan, seperti keterampilan kognitif, interpersonal, dan digital, yang diperlukan untuk mendapatkan pekerjaan baru dengan nilai tambah yang lebih tinggi dan kompetitif di tingkat global.

Strategi ini akan membutuhkan perubahan sistem pendidikan agar lebih menyiapkan kaum muda untuk pekerjaan modern. Strategi ini juga akan membutuhkan inovasi peningkatan keterampilan tenaga kerja dewasa yang sudah bekerja saat ini.

Indonesia telah menunjukkan kemampuannya menghadapi tantangan dalam melaksanakan agenda reformasi penciptaan lapangan kerja yang multidimensi.

Penciptaan lapangan kerja bukan hanya hasil dari pembangunan di Indonesia tetapi juga berkontribusi terhadap pembangunan itu sendiri melalui pertumbuhan ekonomi nasional yang pesat, pengurangan kemiskinan, dan munculnya kelas menengah yang dinamis dan berkembang.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia