OPINI: ETF, Reksa Dana Seharga Secangkir Kopi!

Ilustrasi. - Freepik

Pasar modal di Indonesia memiliki banyak varian produk yang bisa dijadikan sebagai produk investasi alternatif. Namun, belum banyak masyarakat yang mengetahui salah satu produk investasi yang dinamakan exchange traded fund (ETF).

Produk tersebut terbilang sudah cukup lama yang sudah ada sejak 14 tahun yang lalu. Di negara maju seperti Kanada, Amerika Serikat, Hongkong, Jepang, Singapura, China, dan lain-lain. ETF bukan jenis investasi baru melainkan hampir semua pasar modalnya (bursa) memiliki produk ini dan sangat diminati. Di Indonesia, ETF menjadi ramai diperbincangkan dan menjadi bahan webminar dalam berbagai virtual meeting setahun terakhir ini.

Ada suatu ungkapan yang mengatakan don’t put all your eggs into one basket. Istilah tersebut berarti jangan menempatkan semua dana investasi pada satu jenis instrumen yang sama. Untuk mengurangi risiko kerugian maka perlu menerapkan diversifikasi, sehingga dapat menghasilkan return yang optimal dalam jangka panjang.

Dilansir dari Bursa Efek Indonesia (BEI), ETF merupakan reksa dana berbentuk kontrak kolektif yang unit penyertaannya diperdagangkan di Bursa Efek. Dengan kata lain ETF merupakan reksa dana dengan rasa saham. ETF bisa diperdagangkan seperti saham-saham yang terdaftar di BEI. Para investor dapat secara langsung melakukan transaksi jual dan beli melalui bursa efek dengan harga real time.

Perbedaan
Reksa dana dan ETF merupakan wadah sekumpulan produk investasi. Sama halnya seperti reksa dana, ETF juga memiliki manager investasi (MI) untuk pengelolaan dananya. Perbedaan utamanya terletak pada proses pencatatan dan perdagangannya. ETF langsung dicatat dan diperdagangkan di bursa efek layaknya saham.

Para investor dapat langsung melakukan transaksi beli ataupun jual tanpa perlu lagi mendatangi MI atau agen penjualnya. Transaksi ini bisa langsung dilakukan di aplikasi online trading perusahaan sekuritas yang tersedia.

Sementara reksa dana konvensional memerlukan MI untuk proses jual dan belinya. Minimum pembelian untuk ETF adalah satu lot (100 unit) sementara reksa dana satu unit. Apabila seorang investor membeli reksa dana konvensional, maka harus memasukkan dana sebesar Rp500.000 untuk membeli portofolio satu atau dua saham.

Sementara ETF cukup dengan Rp20.000 sudah bisa mendapatkan 30 saham terbaik di Indonesia (indeks IDX30). Perbedaan lainnya adalah dari sisi risiko. Risiko transaksi ETF dapat dikontrol karena jual/beli dapat dilakukan selama jam bursa berlangsung, sehingga berisiko rendah sedangkan pada reksa dana konvensional, risiko ada di MI yang mengelola portofolio.

Sampai Maret 2021, terdapat 48 ETF yang terdaftar di BEI. Sebanyak tiga diantaranya ber-underlying obligasi (surat utang) sedangkan 45 produk lainnya memiliki underlying saham. Perbedaannya terletak pada adanya perolehan capital gain dan dividen. Produk dengan underlying obligasi akan mendapatkan capital gain dan dividen bahkan ada ETF yang membagikan dividen sebanyak lima kali.

ETF dengan underlying saham memiliki dua jenis metode pengelolaan yaitu ETF pasif dan ETF aktif. ETF pasif memiliki acuan berdasarkan indeks tertentu yang sudah ditetapkan oleh MI. Oleh karena itu, kinerja ETF tersebut mengikuti pergerakan indeks acuan yang digunakan. Tujuannya adalah untuk mereplikasi kinerja indeks acuan tersebut.

Sementara ETF aktif dikelola secara aktif tergantung keahlian MI berdasarkan kriteria dan pemilihan saham yang ditentukan oleh MI tersebut. Tujuannya adalah mencapai kinerja terbaik untuk mengalahkan kinerja pasar. ETF pasif cenderung lebih sesuai untuk jangka panjang karena mengikuti indeksnya sehingga cenderung bergerak lambat dan lebih aman. Sedangkan ETF aktif mengambil keuntungan dari fluktuasi jangka pendek sehingga lebih aktif diperdagangkan (trading). ETF aktif memiliki prinsip high risk high return.

Cara Membeli
ETF dapat dibeli melalui dua cara yaitu pasar primer dan pasar sekunder. Pada pasar primer, jumlah ETF minimal yang harus dibeli adalah 1.000 lot (100.000 unit). Pembelian dapat dilakukan melalui enam Dealer Partisipan (anggota bursa) yang bekerja sama dengan MI pengelola ETF. Keenam Dealer Partisipan itu antara lain: Bahana Sekuritas, Mandiri Sekuritas, Philip Sekuritas, Sinarmas Sekuritas, Indopremier Sekuritas, dan Panin Sekuritas. Oleh sebab itu, diperlukan dana puluhan juta rupiah untuk melakukan pembelian di pasar primer ini.

Bagaimana jika ingin membeli ETF secara retail/eceran? Pada pasar sekunder, investor dapat melakukan pembelian minimal satu lot melalui aplikasi perusahaan sekuritas hanya dengan modal secangkir kopi (puluhan ribu saja). Melalui online trading perusahaan sekuritas, investor dapat mencari produk ETF berawalan huruf X. Sebagai contoh, XIID untuk Reksa Dana Indeks Premier ETF Index IDX30 (30 saham terbaik di Indonesia) atau XIJI untuk Reksa Dana KIK Syariah Premier ETF JII (mengacu pada Jakarta Islamic Index).

Aman bagi pemula
ETF lebih aman untuk pemula dan transparan pengelolaannya serta jauh dari bahaya saham gorengan (saham yang dikelola oleh beberapa oknum agar harganya cepat naik dan turun). Selain itu, para investor dapat membeli indeks seluruh saham yang ada pada indeks acuannya layaknya reksa dana konvensional.

ETF memiliki beberapa keuntungan. Pertama, mudah dan fleksibel karena dapat diperjualbelikan kapanpun pada jam perdagangan. Kedua, efisien, biaya rendah dan risiko rendah. Ketiga, transparan karena informasi mengenai saham atau portofolionya wajib diupdate setiap hari di website resmi BEI (www.idx.co.id). Keempat, cakupannya luas karena memiliki ETF sama saja dengan memiliki banyak saham-saham unggulan.

Apapun pilihan investasi kita, baik deposito, reksa dana, saham, ETF, dan yang lainnya demi kenyamanan berinvestasi, pastikan lebih dahulu tujuan keuangan kita. Tertarik mencoba investasi seharga secangkir kopi?