Advertisement

OPINI: Jalan Pintas Mengejar Produksi Udang

Budhi Wibowo, Ketua Umum Forum Udang Indonesia
Senin, 14 Maret 2022 - 06:07 WIB
Maya Herawati
OPINI: Jalan Pintas Mengejar Produksi Udang ist - freepik

Advertisement

Ekspor udang Indonesia pada 2021 memang mengalami pertumbuhan tetapi nilainya di bawah 10 % atau melambat dibandingkan dengan pertumbuhan ekspor udang 2020 yang mampu tumbuh sekitar 20 %.

Padahal untuk mencapai target pemerintah peningkatan ekspor udang 2,5 kali lipat menjadi US$4,25 miliar pada 2024, setiap tahun diperlukan pertumbuhan di atas 20 %.

Advertisement

Untuk mengejar target pertumbuhan yang tinggal 3 tahun tersebut maka perlu dilakukan langkah terobosan untuk mendapatkan jalan pintas yang mampu meningkatkan produksi udang nasional secara cepat

Saat ini , tambak udang tradisional mampu berproduksi hanya sekitar 500 kg/ha/tahun. Budi daya udang tradisional mengandalkan anugerah alam berupa ‘pakan alami’ yang tumbuh atau ditumbuhkan di tambak.

Namun, jika hanya mengandalkan pakan alami saja maka produktifitas tambak tersebut akan sangat terbatas. Dengan sistem budi daya tradisional plus, tambak tradisional tersebut bisa ditingkatkan produksinya secara masif melalui perbaikan cara budi daya dan penerapan teknologi tepat guna yang tidak berbiaya tinggi dengan penambahan pakan dan aerasi dalam jumlah yang terbatas.

Pada beberapa daerah seperti di Sulawesi Selatan, Sulawesi Barat , JawaTimur dan Lampung, budi daya tradisional plus telah terbukti mampu berproduksi sekitar 1—2 ton per ha/tahun bahkan pada beberapa area mampu berproduksi sekitar 3 ton/ha/tahun.

Sayangnya, budi daya tradisional plus secara nasional belum banyak dilakukan dan sampai saat ini pemerintah belum melihat secara serius tradisional plus sebagai salah satu opsi peningkatan produksi udang nasional secara masif.

Sebenarnya melalui peningkatan produksi sekitar 500 kg/ha/tahun menjadi sekitar 2.000 kg/ha/tahun, jika dilakukan secara nasional pada sekitar 300.000 ha tambak tradisional yang ada, maka akan terjadi peningkatan produksi udang nasional yang luar biasa.

Budi daya tradisonal plus bisa dilakukan tidak hanya pada tambak tradisional saja, tetapi bisa juga dilakukan pada tambak intensif/semi intensif yang mempunyai dasar tambak berupa tanah (bukan beton atau HDPE).

Beberapa tahun terakhir ini akibat merebaknya berbagai penyakit udang terutama penyakit kematian dini udang (AHPND/EMS) diperkirakan sekitar 20%—30 % tambak-tambah intensif/semi intensif tidak dioperasikan oleh pemiliknya.

Ribuan hektare tambak intensif/semi intensif yang idle tersebut bisa dioperasikan lagi dengan sistem tradisonal plus yang mempunyai kecil resikonya dan memerlukan modal yang kecil

Agar makin banyak petambak tradisional maupun petambak intensif/semi intensif (memanfaatkan lahannya yang idle) yang mau melakukan budi daya udang tradisional plus, perlu dibuat percontohan tambak tradisional plus dalam jumlah yang banyak pada berbagai daerah.

Anggaran untuk membuat percontohan tambak tradisional plus jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan anggaran untuk membuat percontohan tambak intensif.

Melalui penganggaran yang ada pada pemerintah pusat , pemerintah daerah tingkat I dan tingkat II serta didukung oleh para pemangku kepentingan lainnya maka dalam waktu cepat bisa dibuat ratusan bahkan ribuan hektare tambak percontohan tradisional plus di seluruh Indonesia.

Keberhasilan peningkatan produksi pada percontohan tambak tradisonal plus tersebut secara otomatis akan diikuti oleh puluhan ribu petambak lainnya sehingga nantinya produksi udang Indonesia bisa meningkat secara pesat.

Perubahan tambak tradisional menjadi tradisional plus tidak memerlukan modal yang terlalu besar. Kebutuhan modal yang diperlukan antara lain untuk pembelian peralatan aerasi dan tambahan pakan tersebut bisa didapatkan dari dukungan perbankan melalui KUR yang berbunga murah.

Melalui pinjaman KUR senilai 50 juta per orang, petambak bisa mengoperasikan beberapa hektare tambak tradisionalnya menjadi tambak tradisional plus. Peningkatan produksi tambak tradisional menjadi tradisional plus yang melibatkan ribuan petambak tentu akan memberikan dampak ekonomi yang besar dan mampu menggerakkan perekonomian pedesaan.

Selain itu, peningkatan produksi udang tradisional plus di Indonesia akan memperkuat branding udang Indonesia di pasar internasional. Buyer akan menilai positif tambak tradisional plus yang cara budidayanya membatasi padat tebar serta tidak melakukan ekspolitasi alam secara berlebihan.

Dengan menjalankan budidaya udang secara berkelanjutan dan ramah lingkungan , udang Indonesia bsksl mskin kuat daya saingnya dalam memperebutkan pasar udang internasional yang dari watu kewaktu persaingannya semakin ketat

Sebagai penutup, kita bisa belajar dari Equador yang mampu meningkatkan produksinya tiga kali lipat dalam waktu 7 tahun. Saat ini Ekuador telah mengekspor udangnya sekitar 700.000 ton/tahun sekitar tiga kali lipat ekspor udang Indonesia. Ekuador mampu meningkatkan produksi udangnya dengan mengutamakan sistem tradisonal plus, padat tebar yang rendah, induk unggul dan manajemen air yang baik. Indonesia bisa meningkatkan produksinya secara cepat melalui budidaya udang tradisonal plus secara masif.

Selain itu, dengan adanya penyederhanaan perijinan tambak udang, akan menggairahkan para petambak intensif untuk berproduksi dan akan banyak investasi baru tambak udang intensif.

Dengan demikian target peningkatan ekspor 2,5 kali lipat pada 2024 sangatlah mungkin bisa tercapai.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.

Advertisement

Harian Jogja

Berita Lainnya

Advertisement

Harian Jogja

Advertisement

Operasi SAR Yunanta di Sungai Opak Resmi Ditutup Setelah 7 Hari

Operasi SAR Yunanta di Sungai Opak Resmi Ditutup Setelah 7 Hari

Bantul
| Sabtu, 04 April 2026, 11:57 WIB

Advertisement

Aragorn Akan Diperankan Aktor Baru di The Hunt for Gollum

Aragorn Akan Diperankan Aktor Baru di The Hunt for Gollum

Hiburan
| Sabtu, 04 April 2026, 11:47 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement