Advertisement

Mengolah Jiwa Mengolah Raga

Yayat Hidayat, Pendidikan Bahasa Arab
Sabtu, 09 April 2022 - 07:07 WIB
Maya Herawati
Mengolah Jiwa Mengolah Raga Yayat Hidayat, Pendidikan Bahasa Arab

Advertisement

Kehidupan iman dan amal saleh yang menyatu dalam jiwa dan raga menjadi prinsip utama dalam mencapai derajat muttaqin. Memasukkan dua prinsip (iman & amal saleh) ini memberi titik tekan pada penghambaan kesadaran moral-ritual-spiritual-spiritualisasi-surga. Puasa merupakan perisai dari proses alamiah kehidupan yang membawa pada ternetralisasinya unsur-unsur bangkai emosi yang hadir dalam ruang kehidupan manusia. Puasa merupakan ubudiah yang sekaligus menjadi alat kontrol terbentuknya kehidupan holistik yang mampu mengantarkan hambanya pada derajat muttaqin (muhsinin): “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”. (QS. 2: 183).

Ayat ini menegaskan kepada kita bahwa memperoleh gelar hamba yang muttaqin (muhsinin) bukan sesuatu yang terbentuk begitu saja. Proses muttaqin berangkat dari usaha yang kuat, perjuangan yang tangguh, dan kesadaran yang kuat dalam melaksanakan rangkaian ibadah (puasa).

Advertisement

Realisasi takwa adalah menyatunya kehidupan hati, alam pikiran, raga, dan rasa sehingga terjadi perubahan perilaku pada pribadi Muslim. Takwa juga menjadi sebab diterimanya amal yang sekaligus merupakan kunci kebahagiaan di dunia dan akhirat (QS. 5: 27). Takwa juga akan mempertemukan orang-orang yang saling mencinta dari ahli takwa, tatkala semua pertemanan dan cinta berbalik menjadi permusuhan dan kesulitan (QS. 43: 67). Takwa juga merupakan wasilah yang mengantarkan pada dihapusnya dosa-dosa yang itu semua merupakan sebab keselamatan dari neraka dan besarnya pahala yang merupakan sarana peningkatan derajat di surga (QS. 65: 5).

Takwa juga membawa kepada keberkahan, di antara berkah takwa adalah sesungguhnya Allah akan melenyapkan kekotoran hati dan jiwa, seperti dendam, dengki dan berbagai penyakit lainnya, sehingga bertambahlah rasa kasih dan sempurnanya cinta mereka dan persahabatan mereka (QS. 15: 45-47).

Bulan Ramadan adalah bulan keberkahan dan kado istimewa bagi orang-orang yang beriman. Ramadan sejatinya membentuk dan melatih orang beriman untuk mengolah jiwa dan raga. Kesehatan jiwa dan raga harus mendapat perhatian serius, mengabaikan salah satu dari keduanya bisa berdampak buruk. Kecenderungan memperhatikan ragawi hanya akan mendatangkan kepada ketidakseimbangan dalam menjalani kehidupan. Raga terbentuk dari saripati tanah pada proses awalnya, dan akan kembali menjadi tanah. Entitas jiwalah yang perlu banyak diolah dengan ibadah sebagai pencapaiannya, karena jiwalah yang akan kembali kepada Allah. “Wahai jiwa yang tenang, kembalilah kepada Tuhanmu dengan rida dan diridai. Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku. dan masuklah ke dalam surga-Ku! (QS. 89: 27-30).

Hadirnya bulan Ramadan sebagai momentum yang paling tepat dalam memberikan perhatian terhadap kesehatan jiwa dan raga. Raga dilatih dan dibentuk untuk bersabar dengan lapar, haus dan berbagai aktivitas yang bisa membatalkan puasanya, sementara jiwa dilatih untuk tidak sombong, ujub, dusta, ghibah, namimah, fitnah dan lain sebagainya yang bisa menyebabkan berkaratnya penyakit. Jiwa diarahkan dan dikenyangkan dengan berbagai aktivitas ibadah sebagai santapan utamanya. Jiwa diproses melalui puasa, shalat lail, tilawah, zikir, peduli, berbagi, beristighfar, saling tolong menolong dan berbagai aktivitas ibadah yang lainnya yang mampu mengantarkan kepada kebaikan di dunia dan di akhirat.

 

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Advertisement

alt

Prakiraan Cuaca DIY Hari Ini, Siang Hari Hanya Sleman yang Berawan

Jogja
| Jum'at, 27 Januari 2023, 05:07 WIB

Advertisement

alt

Unik! Peragaan Busana Viktor & Rolf Tampilkan Ball Gown Terbalik

Hiburan
| Jum'at, 27 Januari 2023, 02:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement