Advertisement

OPINI: Tiongkok dan Taiwan Meradang, TPT Siap Raih Peluang

Prama Yudha Amdan, Koordinator Kebijakan Fiskal dan Moneter APSYFI
Sabtu, 20 Agustus 2022 - 06:07 WIB
Maya Herawati
OPINI: Tiongkok dan Taiwan Meradang, TPT Siap Raih Peluang

Advertisement

Belum hilang dalam ingatan atas dampak krisis energi China pada 2021 yang dilanjutkan dengan pergolakan per­da­gang­an akibat invasi Rusia ke Ukraina, per­eko­no­­mi­an dunia kembali di­buat bersiaga dengan ke­te­gangan antara Taiwan dan Chi­na.

Reaksi pemerintah Ne­ge­ri Tirai Bambu dengan me­nem­bak­kan sejumlah peluru kendali ke wilayah perairan Taiwan se­baiknya ditangkap sebagai sinyal bahwa Tiongkok tidak me­man­dang kunjungan Ketua DPR Amerika Serikat yang merupakan musabab ke­te­gangan ini sebagai hal yang biasa. Dan, sudah ba­rang tentu bahwa apapun yang terjadi di negara dengan in­dus­tri terbesar di dunia se­ka­li­gus perekonomian ter­be­sar di Asia akan mem­be­ri­kan dampak serius ke negara lain, tak terkecuali Indonesia.

Mengutip dari laman portal daring Bisnis Indonesia, Menteri Perindustrian telah me­nyiap­kan sejumlah persiap­an untuk menghadapi dam­pak tersebut. Pemerintah me­nya­takan akan mempercepat pro­ses investasi di kawasan in­dustri. Selain itu, calon pe­nge­lola kawasan industri akan mendapatkan pendamping­an, serta mendapatkan fa­si­li­tas nonfiskal seperti pe­ngamanan sebagaimana objek vital nasional dan objek tertentu. Namun pertanyaannya, apakah cukup bila kita hanya mempersiapkan kebijakan untuk pelaku baru industri? Tidakkah lebih baik jika kita juga memperkuat ketahanan dan daya saing industri yang telah ada?

PROMOTED:  YouGov: Tokopedia Jadi Brand Paling Direkomendasikan Masyarakat Indonesia

Mari kita mengambil contoh industri tekstil dan produk tekstil (TPT) yang telah eksis di Tanah Air sejak dekade 1970-an dan mencapai masa kejayaannya pada 1990-an. Sempat dicap sebagai sunset industry saat krisis ekonomi Asia 1998, industri ini justru membuktikan daya tahan yang cukup mengesankan hingga saat ini. Industri ini tumbuh 12,45% pada kuartal pertama 2022 berkat topangan konsumsi dalam negeri. Dari sisi ekspor, hingga paruh kedua 2022, TPT mencatatkan surplus neraca perdagangan lebih dari US$4 miliar.

Selain itu, statistik asosiasi menunjukkan pemulihan pascatekanan pandemi ge­lom­bang I dan II, di mana pa­da 2021 industri ini berkon­tribusi atas penyerapan ham­pir 3,7 juta tenaga kerja di­ba­nding 3,43 juta pada 2020 dan realisasi investasi yang juga melompat dari US$6,1 juta pada 2020 menjadi US$6,45 juta pada 2021. Ki­ner­ja mengesankan ini di­du­kung oleh implementasi program substitusi impor de­ngan target hingga 35% dan mulai adanya kesadaran bah­wa pentingnya reintegrasi in­dus­tri.

Berdasarkan data empiris kinerja TPT, kita dapat melihat tren di mana setiap perekonomian global mengalami guncangan, industri dalam negeri siap menampung kebutuhan perindustrian dan perdagangan nasional. Namun, dalam keadaan biasa, industri dalam negeri justru kerap kali terkontraksi akibat praktik impor yang tidak berkeadilan. Posisi industri nasional sebagai bumper ini harus segera dibalikkan, di mana industri menjadi mainstay dan impor menjadi cadangan.

Terdapat beberapa alasan mengapa sektor TPT bisa dijadikan sebagai quick-wins pemerintah sebagai pembuat kebijakan.

Pertama, infrastruktur sudah terbangun dari hulu bahan baku hingga hilir (garmen dan retail).

Kedua, Indonesia merupakan rumah dari dua bahan baku terpenting industri TPT, yakni polyester dan rayon di mana kapasitas yang tersedia sudah dalam level swasembada hingga 2025.

Advertisement

Ketiga, negara masih dalam fase menikmati bonus demografi di mana 60% populasi Indonesia berusia rerata 29 tahun dengan kon­sum­si tekstil per kapita ma­sih 7,5–8 kg per orang per ta­hun (masih di bawah level kon­sum­si Negeri Jiran Malaysia yang su­dah melewati 12 kg per orang per tahun).

Keempat, po­si­si geopolitik yang berada di jantung Asia Tenggara juga stra­tegis untuk memosisikan Indonesia sebagai pusat ma­nu­fak­tur regional.

Serta kelima, Indonesia memiliki ke­ka­ya­an budaya adibusana le­lu­hur beragam yang masih men­jadi daya tarik generasi muda.

Advertisement

Untuk mengoptimalkan potensi tersebut, selain memberi kemudahan investasi baru, terdapat sejumlah usulan yang bisa dipertimbangkan pemerintah untuk memperkuat kekokohan industri TPT nasional.

Pertama, untuk menjaga momentum pemulihan, pemenuhan konsumsi dalam negeri seyogyanya dioptimalkan berasal dari industri lokal.

Kedua, memastikan bahwa aktivitas perdagangan berkeadilan dan terkendali, di mana Indonesia perlu mencegah agar tidak hanya dijadikan destinasi ekspor bagi negara dengan produksi yang berlebihan. Sejumlah peraturan telah tersedia, tetapi diperlukan upaya ekstra agar implementasinya dapat dipantau dengan baik.

Ketiga, untuk produk berbasis poliester, diperlukan upaya reintegrasi industri TPT ke hulu hingga tersambung dengan industri pengilangan petrokimia, sehingga Indonesia akan memiliki rantai industri komplet dari kilang hingga garmen.

Advertisement

Keempat, ekspansi penerapan tingkat kandungan dalam negeri bukan hanya untuk pengadaan pemerintah, tetapi juga untuk perdagangan umum dan ekspor. Serta kelima, insentif ekspor untuk produk bernilai tambah dengan acuan perhitungan jumlah tahapan konversi di dalam negeri.

Setiap krisis pasti membawa peluang yang bisa dimanfaatkan. Kali ini, kembali, kita dapat membuktikan bahwa Indonesia adalah produsen yang berpengaruh di kawasan, dan tidak sebatas destinasi perdagangan.

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

Advertisement

Berita Pilihan

Advertisement

alt

Ratusan Pohon Bakal Ditebang untuk Penataan Kota Wonosari Bernilai Rp7 Miliar

Gunungkidul
| Selasa, 27 September 2022, 13:37 WIB

Advertisement

alt

Netflix Bocorkan 120 Konten Baru yang Akan Dirilis

Hiburan
| Selasa, 27 September 2022, 11:37 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement