Advertisement

OPINI: Memerdekakan Teknologi Pendidikan

Billy Andrian, Praktisi Ekonomi Digital/Managing Partner Venturra Capital
Selasa, 27 September 2022 - 06:07 WIB
Maya Herawati
OPINI: Memerdekakan Teknologi Pendidikan

Advertisement

Ekonomi digital Indonesia juga diperkirakan terus tumbuh. Riset e-Conomy SEA 2021 oleh Google, Temasek, dan Bain & Company menyebut, ekonomi digital Indonesia yang pada 2021 sudah mencapai US$70 miliar, akan melonjak menjadi US$146 miliar pada 2025.

Namun, jika kita melihat parameter daya saing digital, kita masih harus mengelus dada. Riset IMD Digital Competitiveness 2021 menunjukkan, Indonesia ada di ranking ke-53 dari 64 negara yang masuk dalam riset. Posisi Indonesia ini masih jauh di bawah negara tetangga seperti Thailand yang ada di posisi 38, Malaysia di peringkat 27, atau bahkan Singapura yang ada di ranking 5 dunia.

Advertisement

PROMOTED:  5 Mitos dan Fakta Kesehatan Anak ala Tokopedia Parents

Bicara tentang daya saing bangsa, memang ada banyak faktor yang mempengaruhi. Di antaranya, kekuatan pasar, geografis, sumber daya alam, hingga kualitas sumber daya manusia (SDM). Namun, jika kita urutkan sesuai konteks era modern, SDM bisa masuk faktor terpenting yang menentukan daya saing.

Lebih spesifik lagi, karena kita ada pada era disrupsi teknologi, maka daya saing digital merupakan indikator yang relevan untuk mengukur kekuatan suatu bangsa. Sayangnya, harus diakui, jika berkaca pada daya saing digital di kancah global, Indonesia kini masih jauh tertinggal.

Fakta ini meningkatkan urgensi untuk mendorong digitalisasi sektor pendidikan. Mengapa? Karena pendidikan, mulai dari jenjang dasar, menengah, hingga tinggi, merupakan instrumen vital dalam pengembangan SDM Indonesia.

Apalagi jika dikaitkan dengan fakta masih lemahnya link and match antara dunia pendidikan dengan dunia kerja, maka adopsi teknologi dan adaptasi materi pembelajaran kian penting. Dunia kerja adalah medan perang yang sesungguhnya. Dari sini, konsep Kampus Merdeka dalam program Merdeka Belajar yang digaungkan Kemendikbudristek menjadi angin segar.

Salah satu instrumen penting dalam implementasi konsep Kampus Merdeka dan Merdeka Belajar ini adalah teknologi di bidang pendidikan (education technology/edtech). Karena itu, harus ada gerakan untuk memerdekakan teknologi pendidikan agar lebih inklusif dan manfaatnya bisa dinikmati oleh jutaan mahasiswa di Indonesia.

Karena itu, Indonesia harus bergerak cepat. Apalagi, secara global, sektor edtech menunjukkan geliat pesat sepanjang pandemi Covid-19. Tak bisa dipungkiri, digitalisasi sektor pendidikan terakselerasi karena perubahan pola belajar dari pembelajaran tatap muka menjadi pembelajaran jarak jauh.

Advertisement

PENDANAAN INVESTOR

Imbasnya, kebutuhan infrastruktur untuk memenuhi pembelajaran secara online melonjak. Data Crunchbase menyebut, pada 2019 pendanaan investor global untuk edtech hanya US$7 miliar. Namun, pada 2020, angka investasinya melonjak menembus US$14,6 miliar.

Ketika pandemi Covid-19 mulai melandai pada 2021, sempat ada proyeksi bahwa investasi edtech akan menyusut. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Pada 2021, investasi sektor edtech Kembali naik signifikan menjadi US$20 miliar. Ini artinya, digitalisasi sektor pendidikan tidak akan terhenti meskipun pandemi berakhir karena kebutuhan pada masa depan akan makin tinggi.

Advertisement

Di Indonesia, sektor edtech juga terus menggeliat. Misalnya, melalui pemanfaatan platform pendidikan Edufecta hasil inovasi PT IndoSterling Technomedia Tbk oleh 1.000 perguruan tinggi yang tergabung dalam Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia.

Digitalisasi 1.000 kampus ini tidak hanya sebatas pemanfaatan platform e-learning, tetapi juga mencakup digitalisasi manajemen operasional kampus.

Di sini, mahasiswa menjadi penerima manfaat terbesar. Melalui platform digital, mahasiswa tidak saja meningkatkan efektivitas belajar, tapi juga bisa terus mengasah kemampuan adopsi teknologi. Mahasiswa juga bisa memanfaatkan begitu banyak ilmu dan informasi yang bisa dieksplorasi secara online untuk meningkatkan kompetensi akademis maupun skill praktis.

Keleluasaan belajar dari berbagai sumber ini merupakan salah satu implementasi dari konsep Merdeka Belajar. Inilah kunci untuk meretas jalan peningkatan kualitas pendidikan dan SDM Indonesia.

PROMOTED:  Kisah Dua Brand Kecantikan Lokal Raup Untung dari Tokopedia: Duvaderm dan Guele

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Advertisement

Video Terbaru

Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Advertisement

OPINI: Utopia Bernama HKI

OPINI: Utopia Bernama HKI

Opini | 6 days ago

Advertisement

Piala Dunia 2022

Advertisement

alt

Mahfud MD Jadi Dewan Penasehat Pengurus Keluarga Madura Yogyakarta

Jogja
| Rabu, 07 Desember 2022, 07:47 WIB

Advertisement

alt

Kabar Gembira! Tiket Tambahan Konser Westlife di Jakarta Tahun Depan Sudah Tersedia

Hiburan
| Selasa, 06 Desember 2022, 14:27 WIB

Advertisement

Advertisement

Advertisement