Advertisement
OPINI: Geliat Inovasi Green Entrepreneurship di Era Digital
Agatha Mayasari - Dok. Pribadi
Advertisement
Di era digital saat ini, geliat inovasi green entrepreneurship atau kewirausahaan hijau menjadi semakin relevan dan penting. Perpaduan antara teknologi digital dan keberlanjutan membuka peluang baru untuk mengatasi masalah lingkungan secara efektif sambil menciptakan nilai ekonomi.
Kewirausahaan hijau, yang berfokus pada pengembangan dan penerapan solusi ramah lingkungan, telah mengalami transformasi signifikan berkat kemajuan teknologi digital. Dari energi terbarukan hingga ekonomi sirkular, teknologi digital memainkan peran kunci dalam mempercepat transisi menuju praktik bisnis yang lebih berkelanjutan. Geliat inovasi ini merupakan sinyal positif bahwa krisis global dapat menjadi katalis untuk perubahan yang berkelanjutan dan menawarkan pelajaran berharga tentang pentingnya ketahanan dan adaptasi dalam menghadapi tantangan global. Hal ini sejalan dengan penelitian dari Mathusan dan Pusphanathan pada 2020 bahwa inovasi penting dilakukan untuk mendukung kelangsungan hidup bisnis dan senjata yang dapat digunakan untuk mempertahankan keuntungan dalam persaingan.
Advertisement
Adanya pernyataan tegas dari Mathusan dan Pusphanathan menunjukkan bahwa era digital telah memungkinkan pengusaha hijau untuk mengembangkan dan menerapkan solusi inovatif dengan cara yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Teknologi seperti Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), dan blockchain memberikan alat yang diperlukan untuk meningkatkan efisiensi, mengurangi limbah, dan mempromosikan penggunaan sumber daya yang berkelanjutan.
Misalnya, IoT memungkinkan pemantauan dan pengelolaan sumber daya secara real time, mengoptimalkan penggunaan energi dan air. Sementara itu, AI dapat membantu dalam pengembangan material baru yang lebih ramah lingkungan dan dalam optimasi rantai pasokan untuk mengurangi jejak karbon.
Namun sebelum itu, kita perlu ketahui bersama apa itu green entrepreneurship. Green entrepreneurship merujuk pada upaya menciptakan dan mengelola bisnis dengan orientasi pada solusi ramah lingkungan. Ini mencakup pengembangan produk, jasa, atau proses yang bertujuan mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan, mempromosikan penggunaan sumber daya yang berkelanjutan, dan mendorong praktik keberlanjutan. Green entrepreneurs atau pengusaha hijau, memanfaatkan inovasi dan teknologi untuk mengatasi masalah lingkungan, seperti polusi, penggunaan energi yang tidak efisien, dan pengelolaan limbah.
Dengan berfokus pada keberlanjutan, mereka tidak hanya berkontribusi terhadap perlindungan lingkungan tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru dan mempromosikan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Green entrepreneurs mengakui bahwa kegiatan ekonomi dan pelestarian lingkungan dapat dan harus berjalan seiring, menciptakan nilai bagi masyarakat dan planet ini secara keseluruhan.
Di Indonesia sendiri, geliat inovasi green entrepreneurship di era digital mengalami pertumbuhan yang signifikan, didorong oleh kombinasi kesadaran lingkungan yang meningkat dan inisiatif pemerintah yang kuat. Sebagai contoh, pemerintah Indonesia berkomitmen untuk mengurangi emisi gas rumah kaca sebesar 29% dengan upaya sendiri dan hingga 41% dengan bantuan internasional pada tahun 2030, sebagaimana tercantum dalam Nationally Determined Contribution (NDC). Respons terhadap komitmen ini terlihat dalam peningkatan investasi pada energi terbarukan, yang mencapai $1,3 miliar pada tahun 2020, menurut International Renewable Energy Agency (IRENA).
Inisiatif digital seperti platform crowdfunding untuk proyek-proyek berkelanjutan dan penggunaan teknologi blockchain untuk transparansi dalam rantai pasok produk hijau juga menunjukkan bagaimana era digital memfasilitasi dan mempercepat inovasi dalam sektor ini. Selanjutnya, kesadaran dan permintaan masyarakat Indonesia terhadap produk dan layanan yang berkelanjutan meningkat, yang terlihat dari popularitas e-commerce dan pasar yang menawarkan produk ramah lingkungan.
Kombinasi antara dukungan kebijakan, investasi dalam teknologi bersih, dan permintaan pasar yang kuat menjadikan Indonesia sebagai contoh bagaimana inovasi green entrepreneurship dapat berkembang di negara berkembang dengan dukungan era digital.
Meskipun teknologi digital menawarkan banyak peluang untuk green entrepreneurship, tantangan tetap ada. Isu-isu seperti keamanan data, privasi, dan kesenjangan digital harus diatasi untuk memastikan bahwa manfaat inovasi digital dapat dinikmati secara luas. Selain itu, investasi dalam infrastruktur digital dan keterampilan digital bagi pengusaha hijau menjadi kunci untuk memanfaatkan potensi penuh dari inovasi digital.
Dukungan Kebijakan
Pengembangan kebijakan yang mendukung, baik dari pemerintah maupun sektor swasta, juga penting untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi pertumbuhan green entrepreneurship. Insentif untuk R&D, subsidi untuk teknologi bersih, dan regulasi yang mendukung ekonomi sirkular adalah beberapa contoh kebijakan yang dapat mempercepat adopsi solusi berkelanjutan.
Banyak pemerintah di seluruh dunia telah mengenalkan berbagai insentif, subsidi, dan kebijakan untuk mendorong adopsi teknologi bersih dan praktek berkelanjutan. Kebijakan ini tidak hanya menciptakan lingkungan yang kondusif untuk pertumbuhan bisnis hijau tetapi juga menunjukkan komitmen negara terhadap tujuan keberlanjutan.
Dengan demikian, geliat inovasi green entrepreneurship di era digital menunjukkan potensi besar untuk mengatasi tantangan lingkungan sambil menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Dengan memanfaatkan teknologi digital, pengusaha hijau dapat mengembangkan solusi yang lebih efisien dan efektif untuk masalah lingkungan. Namun, untuk sepenuhnya memanfaatkan potensi ini, diperlukan kerja sama antara berbagai pihak, termasuk pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat, serta komitmen untuk mengatasi tantangan yang ada. Di tengah krisis iklim yang semakin mendesak, geliat inovasi green entrepreneurship menawarkan jalan menuju masa depan yang lebih hijau dan lebih berkelanjutan bagi semua.
Agatha Mayasari
Dosen Departemen Manajemen Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta
Cek Berita dan Artikel yang lain di Harian Jogja, dan edisi cetak versi elektronik kami hadir di Epaper Harian Jogja.
Berita Lainnya
Berita Pilihan
Advertisement
Bukan Sekadar Hiasan, Ini Rahasia Makna Teologis di Balik Telur Paskah
Advertisement
Advertisement
Berita Populer
Advertisement
Advertisement








