OPINI: Belajar Bisnis Sepak Bola dari Tiga Negara

Kyle Walker, bermain di kompetisi paling populer di dunia, Liga Premier Inggris. - Reuters
08 September 2018 08:25 WIB Bramantyo Djohanputro Aspirasi Share :
Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia

Inggris, Spanyol, dan Brasil memberikan gambaran yang bagus tentang bagaimana sepak bola berhasil menjadi industri dengan pendekatan model bisnis yang berbeda.

Paling tidak ada tiga komponen dalam model bisnis yang mereka kelola secara unik untuk mendorong kelanggengan finansial dan ekonomi.

Sejak Piala Dunia 1966, Inggris selalu gagal menjadi juara dunia. Namun, Liga Premier Inggris selalu menjadi liga paling populer, dengan siaran di lebih dari 100 negara melalui televisi lokal tiap negara maupun saluran berbayar.

Liga Premier bahkan disiarkan langsung di negara-negara yang memiliki tim nasional kuat, yang berada di jajaran sepuluh terbaik dunia. Mengapa demikian? Jawabannya adalah karena Inggris mampu mengelola komponen pertama dalam model bisnis persepakbolaan, yaitu segmen pasar.

Inggris sangat sadar dalam mengelola penonton, apalagi pencinta sepa kbola, sebagai sasaran akhir. Apa yang diharapkan oleh penonton bola? Liga yang dihuni oleh pemain-pemain terbaik dan ternama di dunia, pertandingan yang berkualitas, liga yang kompetitif, dan tim-tim sepak bola yang memiliki legenda di dunia.

Asosiasi Sepak Bola Inggris atau Football Association (FA) dan pengelola liga sepak bola Inggris, sangat paham mengelola dan membangun brand untuk memenuhi hasrat penonton tersebut.

Dampak keuangan dari manajemen penonton yang baik adalah sumber pendapatan melalui tiket, hak siar, penjualan kostum dan berbagai aksesori, serta mudahnya mendapatkan sponsor. Selain itu popularitas pemain juga menghasilkan sumber pemasukan lain, berupa iklan dengan menggunakan para pemain sebagai ikon.

Liga Inggris berhasil mengemas kebutuhan penonton dan penggemar bola seluruh dunia dalam rumusan proposisi nilai atau value propositions, yang menjadi komponen kedua dalam model bisnis persepakbolaan, yang juga menjadi perhatian utama Liga Inggris.

Tidak ada Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, dua pemain terbaik dunia saat ini, di Liga Premier. Tetapi Liga Inggris tetap mampu mengklaim sebagai liga terbaik yang dihuni oleh pemain-pemain terbaik dunia, yaitu mereka yang berlaga di Piala Dunia.

Liga Inggris membangun brand dengan cara mengklaim sebagai liga yang dihuni paling banyak pemain yang berlaga di Piala Dunia. Untuk tahun ini, Manchester City memegang peringkat teratas dibanding tim-tim di seluruh dunia sebagai pemasok pemain Piala Dunia di Rusia.

Brasil memiliki pendekatan yang sangat berbeda. Pembeli utama dari persepakbolaan Brasil adalah klub bola seluruh dunia. Lihat saja, pemain bola asal Negeri Samba bertebaran di seluruh benua, baik untuk liga papan atas, yaitu liga di

negeri yang menjadi langganan peserta Piala Dunia maupun liga papan bawah, yang berada di negara-negara penonton Piala Dunia.

Oleh karenanya, proposisi nilai yang ditawarkan oleh sistem persepakbolaan Brasil adalah ketersediaan para pemain yang berkualitas. Pengemar bola seluruh dunia tahu bahwa brand persepakbolaan Brasil sebagai pemain Samba, pemain bola yang enak ditonton seperti menikmati tarian Samba. Dunia tidak terlalu tertarik dengan Liga Brasil.

Karakter Brasil

Tim nasional Brasil menempatkan status juara menjadi penting untuk meyakinkan komunitas sepak bola dunia dan dalam rangka mempertahankan brand sebagai produsen pemain berkualitas. Di setiap turnamen antar negara,Brasil selalu tampil untuk menunjukkan empat hal: kemenangan, keindahan, kualitas pemain, dan semangat permainan.

Kalau pun tidak mencapai kemenangan, keindahan, kualitas, dan semangat permainan selalu ditonjolkan dalam setiap turnamen.

Dampak finansialnya adalah pendapatan, revenue stream, dari penjualan pemain menempati porsi yang besar dibandingkan dengan pendapatan dari tiket kompetisi, hak siar liga maupun penjualan asesori sepak bola.

Persepakbolaan Spanyol ingin menggabungkan model bisnis Inggris dan Brasil. Di satu sisi, Spanyol menjual produknya kepada segmen penonton sepak bola, sehingga Negeri Matador itu mengemas proposisi nilai untuk pasar ritel seperti Inggris.

Berbeda dengan Inggris, Spanyol menekankan proposisi nilai pada kualitas individu pemain dan kualitas tim dalam laga, baik tingkat liga, Eropa maupun antar klub dunia.

Pendekatan ini memerlukan dana yang besar. Tidak heran bila yang menonjol hanya dua tim, Real Madrid dan Barcelona, sedangkan tim lainnya menjadi pelengkap liga. Kedua klub tersebut berusaha membeli pemain-pemain terbaik pada tingkat dunia untuk membangun brand persepakbolaan Spanyol.

Persepakbolaan Spanyol juga menempatkan B2B sebagai bisnis penting seperti halnya persepakbolaan Brasil, sekalipun tidak sesukses Brasil. Beberapa pemain Spanyol menempati tim-tim unggulan di beberapa liga di kawasan Eropa dan cukup banyak pula pemain yang berkiprah di tim-tim papan bawah-tengah di Eropa.

Secara finansial, model bisnis seperti ini diharapkan mampu mendulang sumber pendapatan yang merupakan gabungan dari sumber pendapatan ala Inggris dan Brasil.

Lalu apa manfaat yang dinikmati pemerintah? Tentu saja pemasukan berupa pajak dari bisnis sepak bola dan devisa dari ekspor siaran, penjualan pemain, penjualan asesori, dan lainnya.

Bayangkan saja, harga jual seorang Neymar Jr. setara dengan pendapatan dari ratusan tenaga kerja kelas menengah, unskilled dan semi-skilled. Belum lagi dari pendapatan yang diperoleh para pemain yang diekspor, yang tentunya ikut menyehatkan neraca pembayaran negara tersebut.

Bagaimana dengan Indonesia? Pertama-tama, kita perlu melakukan tinjauan terhadap model bisnis persepakbolaan Indonesia.

Berdasarkan model bisnis yang ada saat ini, perlu ditetapkan arah, model bisnis seperti apa yang ingin dibangun ke depan untuk menjadikan sepak bola Indonesia sebagai sebuah bisnis.

Sekilas pengamatan, model bisnis persepakbolaan Indonesia tidak mengacu ke salah satu dari ketiga contoh di atas. Dengan demikian, perlu kerja sama pemangku kepentingan sepak bola Indonesia untuk berani merombak model bisnis dengan pendekatan finansial-ekonomi.

*Penulis adalah pengamat manajemen dan tata kelola PPM School of Management.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia

Jual Beli Online Aman dan Nyaman - Tokopedia