OPINI: Kompetisi Bandara Tersibuk Dunia

Calon penumpang menunggu keberangkatan di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta Tangerang, Banten, Minggu (24/6/2018). Penumpang selama arus mudik dan balik di Bandara Soeta mencapai 3 juta penumpang selama H-8 sampai H6 Hari Raya Idul Fitri atau naik 5,82% dari tahun lalu. - Bisnis/Felix Jody Kinarwan
09 November 2018 08:25 WIB Cyrillus Harinowo Hadiwerdoyo Aspirasi Share :

Pada 25 Oktober lalu saya berbicara di Kongres Tahunan Inaca (Indonesian National Air Carriers Association), organisasi yang memayungi seluruh perusahaan penerbangan nasional di Indonesia.

Salah satu hal yang saya sampaikan dalam kongres tersebut adalah bandara yang tersibuk di dunia. Dalam pandangan saya, kesibukan suatu bandara mencerminkan perkembangan ekonomi suatu negara dan juga tingkat kemajuannya.

Artinya, semakin sibuk bandara sebuah negara, kian nyata pula perkembangan ekonomi negara tersebut.

Pada 1980 saat pertama kalinya saya bepergian ke AS dan mendarat di bandara John F. Kennedy, New York, saya merasa sangat bangga dan kagum dengan bandara yang ‘sangat besar’ tersebut. Kalau tidak salah bandara JFK memiliki tujuh terminal dan juga beberapa landasan. Saya membandingkannya dengan bandara Kemayoran tempat kami memulai perjalanan yang pada masa itu dari berbagai segi merupakan bandara yang relatif kecil. Tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan bandara JFK.

Pada 1985 saya kembali ke Indonesia dan mendarat di bandara Halim Perdanakusumah, lebih besar dibandingkan Kemayoran tetapi masih jauh dibelakang bandara JFK.

Perkembangan ekonomi Indonesia mendorong pembangunan bandara yang lebih besar lagi. Hal itu terwujud dengan selesainya bandara Cengkareng yang kemudian dinamakan bandara Soekarno Hatta. Saat diresmikan, bandara Soekarno Hatta memiliki dua terminal.

Dengan berjalannya waktu bandara Cengkareng semakin banyak dilalui penumpang domestik maupun internasional. Perekonomian Indonesia terus berkembang sehingga bandara yang ada menjadi terlalu ramai. Perluasan terminal sangat dibutuhkan.

Terminal 3 yang tidak terlalu besar lalu dibangun. Dalam waktu relatif singkat tingkat utilisasi ketiga terminal makin tinggi, sehingga arus penumpang diperkirakan melampaui kapasitas yang direncanakan.

Untuk mengantisipasi arus penumpang udara yang kian besar, dibangun Terminal 3 yang lebih luas sehingga muncul istilah Terminal 3 Ultimate. Alhasil, Soekarno Hatta mampu menampung arus penumpang jauh lebih besar serta memberikan kenyamanan bagi para penumpang.

Persoalan baru kemudian timbul dalam bentuk frekuensi pergerakan pesawat yang lebih tinggi, sehingga memicu antrean pesawat untuk take off maupun landing. Manajemen Angkasa Pura II kemudian meresponnya dengan membangun East Crossway, menghubungkan dua landasan yang ada disisi Timur. Pada saat yang sama juga sedang dibangun landasan ketiga yang paralel dengan landasan Utara bandara tersebut.

Akhirnya 38 tahun kemudian sejak saya menjejakkan kaki pertama kali di AS, bandara JFK tidak lagi sebesar yang saya bayangkan waktu itu. Bahkan bandara itu tidak termasuk dalam daftar 20 bandara tersibuk dunia. Sebaliknya, bandara Soekarno Hatta bahkan menduduki posisi 17, satu tingkat diatas Changi yang menempati posisi 18, dan lebih baik dari Incheon, Korsel.

Selain itu pertumbuhan jumlah penumpang angkutan udara di Indonesia ternyata lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi. Jika pertumbuhan ekonomi sekitar 5% per tahun, pertumbuhan penumpang udara mencapai 9% per tahun.

Artinya, elastisitas pertumbuhan penumpang udara terhadap pertumbuhan ekonomi sebesar 1,8. Pertumbuhan jumlah penumpang antara lain sangat dipengaruhi pertumbuhan ekonomi, pertumbuhan jumlah kelas menengah dan tingkat pemerataan antar daerah, selain munculnya fasilitas bandara yang terus dibangun di daerah.

Jangan pula dilupakan karakter Indonesia sebagai negara kepulauan, sehingga perjalanan lintas pulau memerlukan jaringan konektivitas berupa jembatan, kapal, dan pesawat terbang.

Pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan kelas menengah sudah sering dibicarakan. Bagaimana pemerataan antar daerah? Dalam hal ini sering digunakan pertumbuhan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) masing-masing daerah untuk mengukurnya.

Namun ada data yang menarik dari industri perbankan yang juga bisa mengukur hal tersebut, yaitu data Dana Pihak Ketiga (DPK). Inti dari DPK adalah total simpanan nasabah di perbankan. Dalam konteks ini, perkembangannya di luar Jawa tumbuh pesat, baik di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Indonesia Timur.

Memacu Mobilitas 

Hal ini pada gilirannya juga meningkatkan kemampuan mobilitas penduduk. Pada 2010-2017 misalnya, terjadi pertumbuhan DPK yang lebih cepat diluar kota-kota provinsi. Pada 2010, sebesar 50% DPK disumbang kota-kota provinsi. Pada 2017 sumbangan tersebut tinggal 40%.

Sebaliknya dari kota-kota kecil menyumbang 60% dari seluruh DPK perbankan. Ini data paling konkrit mengenai terjadinya pemerataan pertumbuhan di Indonesia. Peningkatan kesejahteraan di kota-kota kecil tersebut memungkinkan terjadinya mobilitas yang lebih tinggi, terlebih lagi dengan dibangunnya bandara baru di kota seperti di Banjarnegara dan Tasikmalaya.

Khusus untuk Bandara Soekarno Hatta, pertumbuhan arus penumpang pada 2017 sebesar 12%, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan penumpang secara nasional yang mencapai 9%. Tingkat pertumbuhan seperti ini harus diantisipasi dampaknya.

Adapun untuk tingkat pertumbuhan arus penumpang udara secara nasional, pertumbuhan jumlah penumpang 9% masih sangat mungkin terjadi di masa datang. Ini berarti tahun 2020 jumlah penumpang akan meningkat hampir 30%.

Seandainya hal ini terjadi merata, traffic penumpang di bandara Soekarno Hatta juga akan melonjak. Artinya di tahun 2020 jumlah penumpang yang melewati bandara terbesar di Indonesia itu akan mencapai sekitar 80 juta orang.

Bila demikian, terutama jika East Crossway dan landasan ketiga sudah beroperasi maka arus penumpang di Soekarno Hatta bisa tembus 80 juta pada 2020 dari prediksi yang konservatif.

Bagaimana dengan lalu lintas penumpang di bandara tersibuk lainnya? Di Heathrow London, jumlah traffic penumpang pada 2017 mencapai 78 juta, meningkat lima juta dari 2014 yang mencapai 73 juta. Di bandara Charles de Gaulle Paris jumlah penumpang selama tiga tahun terakhir juga meningkat sekitar 5 juta, yaitu dari sekitar 64 juta pada 2014 menjadi 69 juta di 2017.

Bandara Schiphol (Belanda) yang merupakan tersibuk ketiga di Eropa melayani 68,5 juta penumpang pada 2017. Tumbuh tidak jauh berbeda jauh dibandingkan dengan bandara Eropa lainnya seperti bandara Frankfurt yang melayani 64,5 juta penumpang dan tersibuk keempat di Eropa.

Pada saat yang sama beberapa bandara besar di negara-negara berkembang pasti juga akan berkembang pesat. Contohnya New Delhi, Istanbul dan bandara Guangzhou yang peringkatnya diatas Soekarno Hatta dan kini berada diluar 10 besar bandara tersibuk dunia.

Namun dengan melihat berbagai faktor, pertumbuhan arus penumpang bandara Soekarno Hatta sangat mungkin akan melampaui jumlah arus penumpang di ketiga bandara tersebut.

Mengacu perkembangan tersebut pada 2020, Soekarno Hatta sangat mungkin masuk liga 10 besar bandara tersibuk dunia. Bahkan bukan tak mungkin di tahun ini kita sudah dapat melampaui kesibukan Frankfurt.

Ini semua memerlukan infrastruktur agar pertumbuhan penumpang tidak terhambat dan pada saat yang sama kenyamanan mereka tetap terjaga.

*Penulis adalah pembina Pusat Studi BUMN.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia