OPINI: Topi Akselerator bagi Ekonomi Digital

Rudiantara - Antara/Anis Efizudin
16 Oktober 2018 07:25 WIB Rudiantara Aspirasi Share :

Ketika menulis ini, saya sedang berada di perhelatan International Monetary Fund – World Bank Group Annual Meetings di Bali. Dalam ajang ini, saya diamanatkan untuk “mengenakan banyak topi”, atau orang sono bilang “wear many hats”.

Artinya, selain ditugaskan menjadi salah satu penanggung jawab penyelenggaraan acara bersama beberapa menteri lain, saya juga menjadi panelis di beberapa mata acara yang ada di dalamnya.

Selain itu, menyambut kedatangan beberapa kepala negara dari negeri tetangga, menandatangani nota kesepakatan dengan berbagai pihak, dan juga bersama ekosistem menyelenggarakan NextICorn (Next Indonesian Unicorn) ke-2.

Beragamnya “topi yang saya kenakan”, menggambarkan peran pemerintah, dalam hal ini, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo), dalam melayani sektor teknologi digital saat ini.

Bukan lagi hanya berkutat di balik meja dan bersiap mengurus atau menerbitkan regulasi-regulasi saja, kini saya lebih banyak bergaul dengan pemangku kepentingan, terutama generasi milenial, dan melakukan “shifting” peran lebih menjadi fasilitator dan akselerator.

Sebagai fasilitator, Kemkominfo telah mempercepat pengembangan dan implementasi teknologi 4G, misalnya, juga menggeber pembangunan jaringan tulang punggung internet berkecepatan tinggi melalui proyek Palapa Ring.

Topi Akselerator

Penyelenggaraan event NextICorn adalah salah satu wujud peran pemerintah dalam “mengemban topi” akselerator.

Pertumbuhan startup dan unicorn Indonesia merupakan salah satu kunci yang mendorong ekonomi digital di Indonesia. Saat ini, total valuasi empat unicorn Indonesia sudah melebihi total market cap dari empat operator seluler di luar Telkomsel.

BKPM mencatat sektor digital Indonesia telah menarik investasi lebih dari US$3,7 miliar ke berbagai perusahaan rintisan pada 2017, angka yang telah tumbuh 60 kali lipat selama lima tahun terakhir.

Padahal empat perusahaan unicorn berdiri baru sekitar delapan tahun yang lalu, service-nya baru diluncurkan tiga sampai empat tahun yang lalu. Sementara berbagai operator telko tersebut sudah puluhan tahun berdiri. Inilah gelombang ekonomi digital kita.

Itulah mengapa pemerintah ingin menjadi ‘mak comblang’ antara startup dengan investor. Itulah latar belakang penyelenggaraan 1st NextICorn International Summit Mei lalu di Bali.

Inisiatif Next Indonesian Unicorn (NextICorn) merupakan implementasi program pencapaian Indonesia as Digital Energy of Asia yang dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo.

Program ini menjadi ajang mempertemukan startup Indonesia yang sudah melalui proses kurasi ketat dan berpotensi besar bagi pemodal atau investor global.

NextICorn bertujuan menghasilkan lebih banyak lagi unicorn startup digital Indonesia dengan melibatkan investor dari dari Jepang, Tiongkok, Singapura, Korsel, dan Amerika Serikat.

Inisiatif itu merupakan kolaborasi antara Kemkominfo, Pemodal Ventura untuk Startup Indonesia (Amvesindo), dan perusahaan konsultansi global Ernst & Young, serta para founder unicorn Indonesia.

Event NextICorn pertama sukses mempromosikan startup Indonesia terkemuka, dan menghasilkan 1.035 pertemuan one-on-one yang difasilitasi serta 2.020 koneksi yang terjadi antara 70 startup Indonesia dengan 89 investor asing dan lokal.

Startup yang dikurasi untuk mengikuti program NextICorn adalah perusahaan berbasis teknologi yang telah melewati tahap “seed capital” alias modal sendiri. Startup juga harus terdaftar dan berbadan hukum baik PT maupun PMA, dan memiliki sekurangnya satu pendiri berkebangsaan Indonesia dengan kepemilikan saham minimal 25%.

Startup ini akan memiliki kesempatan langka untuk bertemu dengan investor secara langsung pada pertemuan one-on-one yang terfokus untuk memberikan waktu bagi kedua pihak dalam menemukan kekuatan dan kelemahannya sebelum mendapatkan pendanaan.

Untuk program yang kedua kali ini, NextICorn Coordinating Board optimistis bahwa lebih dari 1.500 pertemuan akan terselenggara dalam waktu dua hari.

Tingkatkan Investasi

Saya meyakini potensi ekonomi digital sebagai salah satu tulang punggung perekonomian nasional. Itulah kenapa dalam setiap kesempatan dan Pertemuan Tahunan IMF-WBG ini kita berupaya mempromosikan ekonomi digital.

Indonesia memiliki potensi besar ekonomi digital, tidak hanya sebagai pasar, namun bahwa kita juga telah memiliki empat unicorn sekaligus.

Dengan menerima investasi asing, kita bukan serahkan harta karun. Investor bisa dari luar negeri maupun dalam negeri, namun startup-nya akan tetap menjadi unicorn di Indonesia.

Derasnya investasi tersebut juga menunjukkan bahwa Indonesia menjadi tempat yang tepat bagi para investor.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan stabilitas dalam beberapa tahun terakhir. Indonesia diproyeksikan juga akan menjadi lima besar negara dengan ekonomi terbesar pada 2030.

Pada tahun tersebut, negeri ini juga sedang menikmati puncak bonus demografi, berupa 180 juta penduduk usia produktif.

Selain itu pemerintah juga melakukan reformasi kebijakan di sektor TIK dan ekonomi digital, di antaranya melalui kebijakan Tingkat Kandungan Lokal Dalam Negeri (TKDN) minimal 40% untuk smartphone 4G yang masuk Indonesia; penyederhanaan proses sertifikasi untuk mobile phone, komputer dan tablet; serta sedang menyusun revisi Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan Sistem dan Transaksi Elektronik.

Adapun reformasi kebijakan ekonomi digital dilakukan dengan dikeluarkannya Daftar Negatif Investasi (DNI) yang tertuang pada Peraturan Presiden No. 44/2016; Surat Edaran Menteri Kominfo No.5/2016 tentang Safe Harbor Policy; dan Peraturan Presiden No.74/2017 tentang Peta Jalan Sistem Perdagangan Nasional Berbasis Elektronik (Roadmap E-commerce).

Saya berharap bahwa tahun ini akan tumbuh satu unicorn lagi di Tanah Air, menyusul empat unicorn sebelumnya: GoJek, Bukalapak, Traveloka dan Tokopedia.

Dan jika boleh lebih spesifik, saya sangat berharap bahwa unicorn berikutnya adalah yang berbasis fintech, edutech, atau healthtech.

*Penulis adalah Menteri Komunikasi dan Informatika.

Sumber : JIBI/Bisnis Indonesia