Opini: Berinvestasi dan Suket Teki

Ilustrasi investasi. - Bisnis Indonesia
17 Januari 2019 08:00 WIB Totok Budisantoso Aspirasi Share :

Ada hal sangat menarik dari sebuah lagu dangdut koplo yang dipopulerkan Nella Kharisma: Suket Teki. Sebuah lirik dalam lagi tersebut yang mengatakan, “Tak tandur pari, jebul thukule malah suket teki,” (kutanami padi, ternyata malah tumbuh gulma rumput teki). Tentu saja ada banyak cara dan sudut pandang untuk memaknai frase tersebut.

Saya yang berasal dari desa dan tumbuh di kawasan pertanian sangat mengenal dengan baik karakteristik padi dan teki. Dua hal yang sangat kontradiktif antara padi dan rumput teki. Para penggarap sawah tidak sekedar menaruh harapan tetapi mempertaruhkan masa depannya ketika satu persatu padi ditanam. Saya yakin ketika tangan bergerak “nandur” padi, selalu teriring doa dan impian bahwa nantinya akan tumbuh tanaman yang menggelayut buliran-buliran padi menguning yang cerah dan padat. Benih-benih yang sudah tertancap di persawahan dirawat secara terus menerus akan  tumbuh dengan harapan menghasilkan buah berlimpah. Dalam proses merawat itu, selalu diamati dengan teliti gangguan-gangguan yang mungkin akan menyebabkan kegagalan panen.

Bukan proses seketika dan membutuhkan usaha yang sungguh-sungguh untuk merealisasikan impian itu. Bahkan peribahasa bijak Ngunduh Wohing Pakarti – apa yang dipanen hari ini adalah apa yang ditanam kemarin, mungkin tidak berlaku. Artinya, meskipun sudah bersusah payah memelihara dan merawat, belum tentu panenannya sesuai harapan. Namun, tidak berlakunya dalil tersebut justru mendorong kita untuk membangun suatu strategi untuk mencapai hasil terbaik. Inilah yang harus selalu dilakukan dalam berinvestasi.

Perlu ada serangkaian langkah yang harus diambil. Langkah pertama adalah menetapkan tujuan yang jelas. Jelas dalam hal ini lebih pada makna merancang rekayasa mengatasi risiko. Penanganan risiko dalam berinvestasi diwujudkan dengan menyusun serangkaian portofolio untuk mengoptimalkan investasi. Perlu dicari keseimbangan antara portofolio yang mendukung kebutuhan cashflow dan capital gain. Dana yang diinvestasikan belum tentu “uang dingin” yang bisa dilepaskan dari penggunaan untuk kebutuhan hidup. Dalam hal ini, perlu mempertimbangkan investasi yang bisa berdampak cashflow dalam jangka pendek. Investasi yang lebih berorientasi pada capital gain memiliki konsekuensi waktu yang lebih panjang.

Dalam implementasi investasi, perlu keberanian untuk memulai. Kendala utama yang paling sering dihadapi adalah ketidakberanian untuk mengeksekusi. Baik bahwa keputusan untuk melakukan investasi dilakukan secara terburu-buru dan ditentukan secara asal. Diperlukan informasi yang lengkap dan mengidentifikasi setiap kemungkinan yang terkait dengan investasi tersebut untuk menentukan tingkat kelayakannya. Tentu saja setelah menghimpun informasi yang lengkap, dipelajari secara detail, buat keputusan. Niat berinvestasi tanpa eksekusi hanyalah mimpi, tetapi eksekusi tanpa analisa akan berujung pada neraka.

Usaha Cerdas
Keputusan berinvestasi yang telah didasarkan pada analisis lengkap dan mendalam memberikan track investasi yang perlu dijalani dengan “setia”. Portofolio yang sudah dibuat perlu dipantau efektivitasnya dengan kepala dingin. Terkadang seorang investor dapat terpengaruh dengan kabar terbaru atau isu-isu tertentu mengenai investasi.

Dampaknya, merasa harus mengubah-ubah portofolio investasinya sesuai isu tersebut tanpa mempertimbangkan risiko yang akan dihasilkan. Padahal isu-isu mengenai dunia investasi tidak selalu benar. Jika ada alasan tertentu yang membuat Anda merasa perlu mengubah portofolio investasi, sebaiknya teliti lagi lebih jauh. Jika alasan tersebut rasional dan akan memberikan keuntungan lebih besar tidak ada salahnya mengubah portofolio Anda. Selalu diperlukan menghitung ulang risiko yang akan dihasilkan oleh portofolio baru yang direncanakan.

Guyuran informasi yang selalu mengombang-ambingkan nilai investasi bukannya akan semakin surut. Era informasi saat ini justru ditandai dengan semakin membanjirnya arus informasi yang sangat mungkin akan mempengaruhi investasi yang telah dilakukan. Tentu saja, ancaman selalu diikuti dengan peluang. Demikian juga dengan gelombang informasi yang terjadi. Yang harus dilakukan adalah memilih dan menyaring informasi yang tepat dan dapat diandalkan untuk membuat keputusan terbaik.

Kembali ke suket teki. Ada satu insight makna yang dapat dipetik. Suket teki adalah salah jenis rumput yang  sangat sulit untuk dibasmi. Dia mampu hidup bahkan di tanah yang tandus. Kemampuan bertahannya luar biasa. Bahkan dijalanan beraspal pun dia kadang mampu menembusnya. Beribu kali ban berat melindasnya pun, dia akan tetap kembali tegar. Kadang para petani dibuat pusing dengan keberadaannya.

Berulangkali ditangani dengan berbagai cara, tetap tumbuh dan bersaing dengan tanaman pangan yang diharapkan memberi buah. Bahkan ketika dicabut, tertinggal sepotong akar saja, dijamin tak lama kemudian akan tumbuh subur rumput teki. Kuatnya suket teki ini memberi sebuah gambaran kemampuan bertahan yang luar biasa. Dengan ganasnya alam dan serangan yang diterima, tetapi selalu ada cara untuk bertahan hidup. Kemampuan bertahan ini tentu saja dilandasi tidak saja oleh bakat tetapi terlebih lagi adalah semangat untuk bertumbuh.

Bagaimanapun juga, setiap usaha selalu diharapkan memberi hasil. Hasil itu akan diperoleh ketika upaya mengatasi gangguan dilakukan dengan cukup efektif, cerdas dan kuat melebihi energi pengganggu. Padi dengan bantuan si petani akan mengasilkan bulir penuh ketika mampu mengatasi perjuangan si suket teki yang tidak diragukan lagi keampuhannya.

Hanya usaha yang lebih ampuhlah yang akan membuahkan hasil. Seperti halnya berinvestasi, perlu usaha cerdas berkalanjutan untuk membuahkan hasil. Mari menanam padi dan merawatnya sekuat tenaga sehingga tidak berbuah suket teki. Mari berinvestasi bahkan kalau perlu menggunakan semangat suket teki.

*Penulis merupakan Dosen Program Studi Akuntansi Fakultas Bisnis dan Ekonomika Universitas Atma Jaya Yogyakarta