Opini: Menengahi Konflik Wartawan-ICJ

Media massa, jurnalis, pers, wartawan - Ilustrasi
18 Januari 2019 08:00 WIB Gilang Jiwana Adikara Aspirasi Share :

Polemik pemberitaan MNC TV terkait dengan aksi Jogja Damai 9119 berbuntut panjang setelah pentolan Info Cegatan Jogja dilaporkan ke polisi. Sejumlah nama jurnalis menjadi sasaran serangan kekecewaan warga. Sebuah peristiwa yang mestinya bisa ditangkal seandainya semua pihak menahan emosi.

Jika dilihat dengan jernih, tak ada yang salah dalam pemberitaan tentang aksi Jogja Damai 9119 di MNC TV. Tim redaksi saat itu memutuskan sudut pemberitaan ajakan untuk menggelar Pemilu Presiden 2019 dengan damai lebih penting dan menarik ketimbang isu utama yang diangkat para peserta aksi.

Sudut pandang itu jelas tidak asal muncul. Faktanya memang ada demonstran yang membawa pesan agar Pemilu 2019 damai. Pemilihan topik itu juga relevan dengan situasi di Tanah Air saat ini. Sampai koridor ini, wartawan yang membuat berita tersebut sudah melakukan tugasnya dengan benar. Toh, wartawan memang berhak menentukan sudut pandang pemberitaan tanpa intervensi pihak manapun, termasuk dari narasumber.

Namun, dalam suatu proses pemberitaan, ada kalanya pihak yang berkepentingan merasa kecewa lantaran agenda utamanya tak tersampaikan. Hal yang wajar dan mungkin itulah yang dirasakan salah satu inisiator aksi, Yanto Sumantri, yang sekaligus menjadi sosok sentral di balik keberadaan grup komunikasi warga DIY terbesar di Facebook, Info Cegatan Jogja. Yanto kecewa karena agenda utama mereka untuk menentang klithih yang sudah meresahkan warga DIY malah tidak mendapatkan sorotan utama meskipun dalam berita tersebut sikap ini juga disampaikan dengan gamblang. Dia pun menyebut berita itu “nyaris hoaks”.

Kekecewaan itu kemudian disampaikan melalui grup yang diinisiasinya. Sebagaimana karakter kerumunan massa yang spontan, sejumlah pihak pun terpelatuk dengan pernyataan Yanto. Beberapa orang mengeluarkan kritik, tak sedikit yang mengumpat dan memaki. Tanpa butuh waktu lama, posting ini ditanggapi secara luas. Hampir seluruhnya membela Yanto karena sosoknya dianggap sebagai sesepuh di grup warga itu.

Sangat disayangkan karena terpicu ungkapan kekesalan warga di dunia maya itu, komunitas wartawan justru mengambil upaya resolusi dengan melaporkan kekecewaan itu ke kepolisian. Langkah ini rasanya justru menunjukkan ketidaksiapan jurnalis dalam menghadapi kritik dan dinamika media sosial.

Bukannya memanfaatkan kesempatan ini untuk mengedukasi masyarakat tentang informasi, profesionalitas wartawan, dan etika jurnalistik, resolusi yang ditawarkan justru membuat polemik ini semakin runyam. Buntutnya, sejumlah nama dan identitas jurnalis malah disebarkan oleh orang tak bertanggung jawab dan menjadi sasaran kemarahan sejumlah warga.

Padahal, jika dirunut, sebelumnya Yanto dan pihak wartawan yang membuat berita sudah bertemu dan mencapai kata sepakat atas permasalahan ini. Seandainya saja saat itu Yanto mendapatkan pemahaman cara kerja jurnalis dengan baik dan menyepakati untuk memberikan informasi lanjutan atas pertemuan itu, maka polemik berbuntut panjang tak perlu terjadi.

Mengurai Benang Kusut
Melihat latar belakang Yanto yang memiliki reputasi sangat baik di komunitasnya, kesalahpahaman ini harusnya bisa dituntaskan dengan cara yang sederhana dan cepat: dengan duduk bersama dan mengajak Yanto untuk bersinergi mencerahkan para warga di ICJ. Sekali dayung berpulau-pulau terlampaui. Nama baik stasiun televisi yang menyiarkan kembali bersih dari tuduhan hoaks, Yanto mendapatkan jawaban atas kekecewaannya, dan warga yang tergabung di grup ICJ memperoleh gambaran seputar dunia jurnalistik. Semua senang, semua menang.

Tentu saja kondisi saat ini ibarat nasi yang sudah menjadi bubur. Faktanya komunitas wartawan sudah melaporkan Yanto Sumantri ke kepolisian. Faktanya juga, sejak berita laporan itu mencuat sejumlah nama wartawan menjadi sasaran persekusi. Masalah ini perlu segera mendapatkan resolusi alternatif agar tak berlarut-larut.

Jika boleh menyarankan, saya akan menyarankan komunitas wartawan untuk menahan diri dan emosi lalu mencabut laporan untuk meredam konflik ini. Rasanya tak ada gunanya melanjutkan hal ini selain malah memperkeruh keadaan. Informasi yang beredar di media sosial, utamanya di ICJ sudah semakin tak terkendali. Isu yang bergulir sudah melebar menyerang secara personal. Kondisi ini miris karena hubungan jurnalis yang bertugas di wilayah DIY dan ICJ bak simbiosis mutualisme. Jurnalis memperoleh informasi real time dari warga di ICJ, informasi penting di ICJ juga bisa teramplifikasi lebih baik berkat karya jurnalistik para wartawan.

Mengalah bukan berarti kalah. Menarik laporan juga jelas bukan berarti menyerah untuk memperjuangkan nama baik wartawan. Langkah terbaik bagi komunitas wartawan saat menggelar audiensi dalam suasana yang sejuk dengan Yanto Sumantri dan para penggagas aksi. Syukur jika pertemuan ini bisa ditayangkan secara langsung melalui media-media sosial sehingga siapa pun yang melihat bisa mengetahui, sesungguhnya ICJ dan komunitas wartawan wartawan DIY masih saling mencintai dan memiliki.

*Penulis merupakan staf pengajar Jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Yogyakarta