Konsistensi di Jalan Ujaran Kebenaran

Harian Jogja - Hengky Irawan
12 Februari 2019 09:35 WIB Ahmad Djauhar Aspirasi Share :

9 Februari 2019, bertepatan dengan peringatan Hari Pers Nasional, genap setahun Dahlan Iskan menunjukkan konsistensinya. Tiada hari tanpa menulis kolom DI's Way. Aneka hal ditulisnya. Dari mana pun dia sedang berada. Tetap menjumpai pembaca setia kolomnya. Juga penggemarnya yang selalu menunggu celotehnya.

Dari tengah hutan hingga pusat metropolitan. Dia menulis. Sesekali menjelaskan sejumlah hal yang bagi sebagian orang sebagai hal rumit. Karena tulisannya itu, membikin banyak orang jadi gamblang. Terang benderang.

“Saya membaca tulisan Pak Dahlan soal Big Data yang semula tidak saya fahami. Sama sekali. Setelah mengikutinya, saya jadi mengerti. Dunia apa itu sebenarnya. Terima kasih, Pak Dahlan,” ujar seorang jurnalis senior suatu ketika. Saat bertemu muka dengannya.

Tulisannya diapresiasi oleh banyak pembaca. Karena selain tersebar di jaringan koran, juga diunggah ke media sosial. Sering pula menjadi viral. Beberapa dilakukan secara sukarela. Oleh penggemar. Karena terinspirasi oleh isi tulisan. Juga karena semangat berbagi.

Ini sebuah prestasi yang layak diiri. Juga perlu ditiru. Khususnya bagi mereka yang mengaku wartawan. Karena, itulah legacy seorang jurnalis. Menulis dan selalu menulis. Dahlan telah menorehkan contoh bagus. Bagaimana menjadi wartawan yang sesungguhnya. Menjadi wartawan bukan untuk gagah-gagahan. Tetapi senantiasa berkarya.

Bukan seperti tingkah sejumlah orang. Mereka mengaku wartawan. Mengantongi berbagai atribut pers. Mengurusi organisasi pewarta.  Namun ketika ditanya karya jurnalistiknya, tidak ada. Mereka memilih berdalih. Karena disibukkan pelbagai urusan,  mungkin sudah berbilang bulan. Bahkan bertahun-tahun. Tidak menulis. Tapi kekeuh mengaku diri jurnalis.

Tak pelak lagi, budaya buruk itu ditiru oleh sebagian orang. Mereka hanya ingin beroleh kemudahan sebagai wartawan ataupun jurnalis. Tanpa memahami dan menghayati tugas dan tanggung jawab. Tak heran, jumlah ‘wartawan’ di negeri ini melimpah-ruah. Konon mencapai 100.000 orang.

Sebagian besar dari mereka malah menjadikannya sebagai pekerjaan nista. Sekadar mencari amplop dan menulis tanpa fakta. Tak juga konfirmasi. Suka mengumbar sensasi. Mereka inilah yang sering disebut sebagai wartawan abal-abal. Ada juga yang menyebutnya sebagai pasukan bodreks. Atau WTS—wartawan tanpa surat kabar—menurut istilah era Orde Baru.

Ada lagi yang mengistilahkannya sebagai wartawan “muntaber”. Alias muncul tanpa berita. Di berbagai acara resmi, mereka muncul. Melakukan aksi wawancara sana-sini. Tapi tidak aka nada berita atau tulisan yang dihasilkannya. Karena yang mereka kejar hanyalah amplop atau sekadar “uang transport”. Minimal bisa ikut makan-minum gratis di acara itu.

Model preman bergaya wartawan atau jurnalis seperti itu kian meruyak. Seiring dengan meruyaknya media online. Hampir ‘setiap hidung’ merasa berhak dan bisa membuat media karenanya. Tapi mereka jelas tidak faham esensi menjadi wartawan. Sebuah profesi mulia untuk menyampaikan informasi berdasarkan kebenaran.

Wartawan Beneran

Dalam berbagai tulisannya, terlihat sekali bahwa Dahlan wartawan beneran. Bukan jurnalis jadi-jadian itu. Dia tetap konsisten mengusung aspek jurnalisme. Tak pernah melepaskan unsur klasik 5-W-1-H. Lebih penting lagi adalah tulisannya selalu bertutur. Ada cerita menarik mengalir di dalamnya. “Yang saya tulis adalah news article,” ujarnya suatu ketika.

Rangkaian kalimat yang ditulisnya selalu enak dibaca. Tidak pernah bertele-tele. Sejumlah kalimat pendek yang dirangkai sedemikian rupa. Membentuk paragraf demi paragraph yang kesemuanya membuahkan pemaham utuh. “Itu jenis tulisan staccato,” ujar seorang rekan jurnalis alumnus jurusan komunikasi sebuah universitas ternama kepada saya.

Staccato atau stakato adalah sebuah istilah musik. Cara memainkan, menyanyikan, atau memperdengarkan suatu—atau serangkaian—nada dengan pola pendek-pendek. Terputus-putus, tapi secara keseluruhan tetap enak didengar.

Saat bepergian, dalam waktu sejam penerbangan, Dahlan terbukti produktif. Mungkin menghasilkan satu, atau lebih, tulisan. Keesokan harinya muncul sebagai kolom DI’s Way di sejumah media. Umumnya di jaringan koran Jawa Pos Group, yang dibesarkannya. Hanya dengan memanfaatkan fasilitas gawai/gadget yang ada di tangan.

Suatu ketika, saya bersamanya naik taksi tak lebih dari setengah jam. Di tengah kemacetan Jakarta. Sang sopir taksi mengenalinya. Sambil lalu, diajaknya ngobrol ngalor-ngidul sopir taksi itu. Saya pikir sekadar obrolan pengisi waktu. Untuk mengisi kejenuhan menuju lokasi yang kami tuju.

Esoknya, saya terperangah. Ketika mendapat kiriman artikel segar yang ditulisnya. Dari hasil obrolan naik taksi kemarin. Beberapa kolega mengirimi artikel itu. Karena ada nama saya disebutkan dalam kolom itu. Mungkin.

9 Februari ini juga menjadi hari yang melegakan. Buat Dahlan Iskan. Karena dua hari sebelumnya, kepemimpinannya di SPS dinyatakan demisioner. SPS didirikan di Jogja, 8 Juni 1946. Semula berkepanjangan sebagai Serikat Penerbit Suratkabar. Sejak kongres ke-23 di Bali, diibah kepanjangannya. Menjadi Serikat Perusahaan Pers. Untuk mengakomodasi trend media kea rah konvergensi. Tidak hanya cetak. Tapi multimedia dan multiplatform.

Dahlan menjabat ketua umum asosiasi perusahaan media cetak itu tiga periode berturut-turut. Sejak 2007 hingga 2019. Sebenarnya, di ujung kepengurusan periode kedua, dia sudah ingin mengakhiri. Pada kongres ke-24 di Batam, Dahlan terpilih lagi. Secara aklamasi. Saat dia masih menjabat sebagai menteri. Memang tidak melanggar aturan organisasi. Tapi dia mengaku tidak mudah memimpin organisasi media di era disrupsi. Seperti saat ini. Teruslah menulis, Pak Dahlan. Karyamu tetap dinanti.

 

* Penulis adalah Anggota Dewan Redaksi Harian Jogja dan Anggota Dewan Pers