OPINI: Making Indonesia 4.0

Ilustrasi uang. - Bisnis/ Dwi Prasetya
09 April 2019 07:57 WIB Suparmono Aspirasi Share :

Pertumbuhan ekonomi Indonesia telah berhasil berdampak pada menciptakan lapangan kerja yang cukup tinggi. Selama 2015-2018, setiap 1% pertumbuhan ekonomi dapat menciptakan 460.000 lapangan kerja sehingga tercipta lapangan kerja baru sekitar 9,4 juta dan pengangguran terbuka menurun dari 6,2% pada 2015 menjadi 5,3% pada 2018. Lalu bagaimana dengan 2019 ini?

Pertumbuhan ekonomi diperkirakan stagnan pada 5,4% sampai dengan 6% saja per tahun. Ini menjadi tantangan pemerintah dalam menyediakan kesempatan kerja melalui dorongan pertumbuhan ekonomi. Segala unsur pembentuk pertumbuhan ekonomi perlu didorong untuk memecah stagnasi tersebut, mulai dari konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah, sampai dengan kinerja perdagangan luar negeri. Inilah tantangan nyata yang perlu diantisipasi oleh pemerintah melalui kebijakan fiskal dan moneter yang ekspansif.

Dari seluruh sektor ekonomi yang ada, sektor jasa mampu menciptakan lapangan kerja tertinggi yaitu sekitar 9,8 juta orang tenaga kerja, sedangkan sektor industri hanya mampu menyerap sekitar 3,0 juta orang, dan tenaga kerja di sektor pertanian menurun sekitar 3,3 juta orang. Hal ini sesuai dengan terjadinya transofrmasi ekonomi di Indonesia dari sektor primer ke sektor sekunder dan sektor jasa. Selain itu bila dilihat dari jenis pekerjaannya, maka proporsi pekerja formal juga meningkat dari 42,3% pada 2015 menjadi 43,2% pada 2018. Meskipun kenaikan ini hanya sebesar 1% akan tetapi hal ini berimplikasi pada kebijakan mengenai perencanaan kompetensi tenaga kerja yang harus dipersiapkan oleh pemerintah.

Bila ditelusur lebih mendalam, mengapa stagnasi ini bisa terjadi. Selain kinerja perekonomian nasional, tentunya ini terkait dengan kondisi ekonomi glonal yang juga mengalami distorsi oleh berbagai sebab, misalnya trade war antara Amerika Serikat dan Tiongkok dan monetary tightening yang berdampak besar pada perekonomian dunia, sementara itu, dari dalam negeri sendiri, terjadinya perlambatan transformasi struktural di Indonesia juga berkaitan dengan rendahnya ekspor.

Tantangan
Kinerja eskpor dapat dilihat dari rasio nilai ekspor dibandingkan dengan produk domestik bruto. Kinerja ekspor Indonesia saat ini masih sangat rendah, yaitu 19,0%, angka ini masih jauh di bawah Thailand (69,0%), Vietnam (93,0%) dan Singapura (172,0%).

Ketertinggalan ini perlu dikejar dengan berbagai upaya, mulai dari perbaikan dari aspek regulasi yang mencakup insentif, kemudahan, dan perbaikan infrastruktur untuk mendorong kinerja ekspor Indonesia. Keunggulan sumber daya alam yang ada di Indonesia juga belum banyak diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi, seperti ditunjukkan dengan ekpor produk Indonesia lebih dari 50% didominasi oleh komoditas primer, terutama olahan CPO, logam dasar, karet dan makanan.

Indonesia mau tidak mau harus memasuki gerbang era Revolusi Industri 4.0. Revolusi tersebut memberikan tantangan dan peluang bagi perkembangan perekonomian ke depan. Di satu sisi, digitalisasi, otomatisasi, dan penggunaan kecerdasan buatan dalam aktivitas ekonomi akan meningkatkan produktivitas dan efisiensi dalam produksi modern serta memberikan kemudahan dan kenyamanan bagi konsumen. Proyeksi perkembangan ekonomi digital di Indonesia di antaranya ditunjukkan oleh pertumbuhan nilai transaksi e-commerce sebesar 1.625% menjadi US$130 miliar dalam periode 2013-2020.

Digital teknologi membantu proses pembangunan di berbagai bidang di antaranya pendidikan melalui distance learning, pemerintahan melalui e-government, inklusi keuangan melalui fin-tech, dan pengembangan UMKM seiring berkembangnya e-commerce. Namun di sisi lain, perkembangan revolusi industri 4.0 berpotensi menyebabkan hilangnya pekerjaan di dunia. Studi dari Mckinsey memperkirakan 60 persen jabatan pekerjaan di dunia akan tergantikan oleh otomatisasi. Di Indonesia diperkirakan 51,8% potensi pekerjaan yang akan hilang. Di samping itu, tumbuhnya berbagai aktivitas bisnis dan jual beli berbasis online belum dibarengi dengan upaya pengoptimalan penerimaan negara serta pengawasan kepatuhan pajak atas transaksi-transaksi tersebut. Hal ini penting mengingat transaksi digital bersifat lintas negara.

Daya Saing
Making Indonesia 4.0 merupakan sebuah roadmap atau peta jalan yang terintegrasi untuk mengimplementasikan sejumlah strategi dalam memasuki era Industry 4.0. Dengan Making Indonesia 4.0 ini, targetnya adalah membawa Indonesia menjadi 10 besar ekonomi dunia pada 2030, serta mengembalikan angka ekspor netto industri sebesar 10%. Selain itu meningkatkan produktivitas tenaga kerja hingga dua kali lipat dibandingkan peningkatan biaya tenaga kerja.

Peningkatan kinerja ekspor Indonesia, diharapkan mampu memperbaiki buruknya kinerja neraca perdagangan Indonesia di tahun 2018 lalu, meskipun selama Januari dan Februari 2019, kinerja neraca perdagangan Indonesia menunjukkan kondisi membaik dengan mencatat surplus 300 juta dolar Amerika. Tanpa memanfaatkan ekonomi digital, kemungkinan Indonesia akan terjebak pada tingkat pertumbuhan 5% saja.

Untuk itu, Indonesia tengah menyiapkan lima sektor prioritas yang akan dikembangkan dalam menghadapi implementasi Revolusi Industri 4.0. Kelima sektor industri tersebut adalah makanan dan minuman, elektronik, tekstil, otomotif dan kimia. Pertanyaan mendasarnya adalah seberapa mampu kita dalam mendorong dan memanfaatkan kelima sektor prioritas tersebut dalam mendorong Indonesia ke arah manfaat dalam kerangka Revolusi Industri 4.0?

Kuncinya adalah meningkatkan daya saing, baik dari sumber daya manusia dalam meningkatkan produktivitas dalam memanfaatkan teknologi untuk menciptakan daya saing. Tanpa adanya peningkatan produktivitas dalam kerangka pemanfaatan teknologi dan inovasi kreativitas, daya saing tidak akan terbentuk, dan pada akhirnya kita akan menjadi korban dari perubahan global yang terus terjadi.

*Penulis merupakan dosen Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen YKPN Jogja